Hukum Menahan Hak Warisan, Hati-hati Ini Dosanya

0
64

 

Assalamu’alaykum. Pak Aam kakek saya meninggal tahun 2004, setelah itu warisan tidak dibagikan dengan alasan karena nenek saya masih hidup. Kemudian ayah saya meinggal tahun 2014 lalu nenek saya meninggal tahun 2015 harta warisan tidak kunjung dibagikan. Hingga akhirnya saya diklaim tidak mendapatkan hak waris karena ayah saya meinggal duluan dibandingkan nenek saya. Dulu saat ayah dan nenek saya masih hidup keluarga besar saya pernah memanggil seorang ustadz untuk menengahi masalah ini, tapi ua saya tetap menahan warisan tersebut dengan alasan masih ada nenek atau ibunya. Apa betul saya tidak berhak mendapatkan hak waris? Mohon pencerahannya ( Y via email )

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat yang dirahmati Allah. Sebenarnya Anda itu mendapatkan warisan dari ayah Anda. Kalau dari kakek Anda, betul memang Anda tidak berhak mendapat warisan.

 

 

Masalahnya adalah sebenarnya ayah Anda itu mendapat warisan dari ayahnya atau kakek Anda. Nah, jadi Anda tetap mendapatkan harta dari hak ayah Anda walaupun ayah Anda sudah meninggal, karena tetap saja kakek Anda meninggal sebelum ayah.

 

 

 

Dalam Islam itu kenapa harus segera dibagikan warisan supaya tidak ribet seperti yang Anda hadapi sekarang. Kakek Anda meninggal tahun 2004, nah sebenarnya ayah Anda masih ada. Berarti ayah Anda seharusnya mendapat warisan.

 

 

 

 

Sepuluh tahun setelah kakek Anda meninggal, ayah Anda meninggal 2014. Jadi, ayah Anda itu punya hak waris dari ayahnya atau kakek Anda. Namun, karena harta warisan tersebut belum dibagikan maka sebenarnya hak itu tetap ada untuk Anda. Akan tetapi, karena sekarang ayah Anda sudah meninggal, hak waris ayah Anda dari kakek Anda jatuh kepada anak-anaknya sebagai ahli waris.

 

 

 

Misalnya ayah Anda itu mendapat warisan sebesar Rp 1 juta, tapi kan ayah Anda sudah meninggal. Maka yang Rp.1 juta ini jatuh kepada anak-anaknya yaitu Anda dan saudara-saudara Anda.

 

 

Jadi sebenarnya Anda memang tidak mendapat warisan dari kakek,  hanya Anda mendapatkan hak warisan ayah Anda, karena ayah Anda itu belum mendapatkan hak warisnya dari ayahnya (kakek Anda) saat masih hidup. Ua (bibi / paman) Anda yang bermasalah menurut saya. Sebenarnya tidak boleh menahan-nahan harta warisan karena di situ ada hak anak-anaknya.

 

 

Jikalau ternyata Anda sampai tidak diberi warisan oleh ua Anda (saudara ayah Anda) direkayasa, maka ini adalah tindakan atau perbuatan dosa besar. Menahan atau tidak membagikan wariasan sesuai haknya menurut syariat Islam adalah perbuatan tercela.

 

 

Percayalah bahwa orang yang licik dalam warisan akhirnya hartanya tidak akan berkah dan hartanya hancur hingga hilang begitu saja. Ingatlah bahwa harta itu milik Allah dan harus dibagikan dengan cara yang Allah tetapkan.

 

 

Kita ini jangan jadi orang serakah. Orang serakah itu tidak akan berkah karena di dalam hati orang yang didzalimi itu ada doa. Harta itu kalau tidak dibagikan secara adil, secara syariat biasanya ancur.

 

 

Hati-hati dengan warisan karena harta warisan dapat menjadi boomerang atau dosa besar kalau tidak membagikannya menurut ketentuan agama. Allah befirman dalam Q.S An-Nisa 11-14:

 

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ ۖ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ ۚ فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ ۖ وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ ۚ وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهُ وَلَدٌ ۚ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُ ۚ فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ ۗ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا ۚ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

 

Allah mewajibkanmu untuk membagikan warisan kepada anak-anakmu, yaitu bagian laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Jika anak itu semuanya perempuan dan jumlahnya lebih dari dua, bagian mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Jika anak perempuan itu hanya seorang, ia memperoleh setengah dari harta yang ditinggalkan. Untuk kedua ibu-bapak, bagian masing-masing seperenam dari harta yang ditinggalkan jika yang meninggalnya mempunyai anak. Jika yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh kedua ibu-bapaknya saja, ibunya mendapat sepertiga. Jika yang meninggal mempunyai beberapa saudara, ibunya mendapat seperenam. Pembagian-pembagian tersebut dilakukan setelah memenuhi wasiat yang dibuat oleh orang yang meninggal atau setelah melunasi utangnya. Mengenai orang-tua dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih banyak manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana. “(QS.An Nisa: 11)

 

 

وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجُكُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُنَّ وَلَدٌ ۚ فَإِنْ كَانَ لَهُنَّ وَلَدٌ فَلَكُمُ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْنَ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِينَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ ۚ وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكُمْ وَلَدٌ ۚ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُمْ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوصُونَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ ۗ وَإِنْ كَانَ رَجُلٌ يُورَثُ كَلَالَةً أَوِ امْرَأَةٌ وَلَهُ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ ۚ فَإِنْ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْ ذَٰلِكَ فَهُمْ شُرَكَاءُ فِي الثُّلُثِ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَىٰ بِهَا أَوْ دَيْنٍ غَيْرَ مُضَارٍّ ۚ وَصِيَّةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَلِيمٌ

 

Bagianmu (suami) adalah seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istrimu mempunyai anak, kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya setelah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau setelah dilunasi utangnya. Para istri memperoleh seperempat harta yang suami tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan setelah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau dilunasi utang-utangmu. Jika seseorang meninggal, baik laki-laki maupun perempuan dan ia tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki seibu atau seorang saudara perempuan seibu, bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam dari harta yang ditinggalkan. Namun, jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, bagian yang sepertiga itu untuk bersama-sama. Pembagian itu dilakukan setelah dipenuhi wasiat yang dibuatnya atau dilunasi utangnya dengan tidak menyusahkan ahli warisnya. Itulah ketentuan Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha Penyantun.” (QS.An Nisa: 12)

 

 

(13). تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

 

Itulah hukum Allah. Siapa pun yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Allah akan memasukkannya ke surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang agung.” (QS.An Nisa: 13)

 

 

(14). وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ

 

Siapa pun yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya serta melanggar batas-batas hukum-Nya, pasti Allah memasukkannya ke api neraka. Ia kekal di dalamnya dan akan mendapat azab yang menghinakan.” (QS.An Nisa: 14)

 

Jadi yang namanya harta itu godaannya sungguh luar biasa. Bagi orang yang lemah imannya maka akan mudah tergoda dan menguasai tanpa hak. Sebab, namanya setan akan selalu memberikan bisikan dan iming-iming kemewahan.

 

 

 

Video Ust Aam: Hukum Menyogok Untuk Mendapatkan Pekerjaan

 

Saran saya, selagi saudara ayah Anda (bibi,paman atau ua) masih hidup coba ingatkan tentang hukum warisan serta dosa dan bahaya memakan harta secara bathil khususnya harta warisan. Berilah nasihat bahwa nanti setelah meninggal dunia tidak berguna penyesalan di akhirat nantinya.

 

 

 

Harta hanya sementara, nanti juga habis maka jangan sampai harta warisan menjauhkan saudara yang dekat dan memutus hubungan kekeluargaan atau silaturrahmi. Anda bisa meminta bantuan ustadz atau yang paham tentang pembagian warisan hingga semua akan mendapatkan secera adil sesuai syariat Islam. Semoga kita senantiasa dibimbing Allah untuk berbuat adil. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

 

4

Red: citra

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

903

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : Instagram : @percikan_iman.id

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini