Dua Jenis Air Yang Sah Untuk Berwudhu

0
46

PERCIKANIMAN.ID – – Dalam pandangan syariah, air merupakan zat istimewa yang mempunyai kedudukan khusus. Ia merupakan media utama untuk bersuci, termasuk sebagai penghilang najis dan kotoran yang melekat di badan seseorang. Air diposisikan pada prioritas utama di antara media bersuci lainnya, seperti debu dan batu.

 

 

Oleh karena itu, ketika membahas wudhu, kita harus membahas air sebagai media utamanya.Air sebagai alat bersuci telah dicantumkan oleh Allah dalam firman-Nya,

 

(8:11)………..وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ……………..

 

“… dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu …” (Q.S. Al-Anfaal [8]: 11).

 

 

Kendati pada ayat tersebut Allah Swt. hanya menyebutkan air hujan sebagai alat bersuci, tetapi apabila dicermati, seluruh air hujan yang turun ke bumi akan diserap oleh tanah dan menjadi cadangan air bersih. Dengan kata lain, seluruh air yang ada di dalam tanah bisa jadi berasal dari air hujan. Sehingga, seluruh air yang keluar dari tanah bisa digunakan untuk bersuci.

 

 

Sebagaimana halnya air yang terdapat di dalam tanah, air laut juga dapat digunakan sebagai alat bersuci. Dalam suatu riwayat, Rasulullah Saw. bersabda,

 

 

 

Laut itu suci airnya dan halal bangkainya” (H.R. al-Arba‘ah dari Abu Hurairah r.a.).

 

 

Merujuk pada ayat dan hadis tadi, dapat disimpulkan bahwa ada dua jenis air yang bisa dipakai untuk bersuci, yaitu air laut dan air hujan dengan segala turunannya. Atau, dalam hal ini mencakup air sumur, air sungai, mata air, salju, dan sebagainya.

 

 

Video Ust Aam: Cara Dzikir Setelah Shalat Sesuai Contoh Rasulullah

 

Akan tetapi, jika berubah dalam suatu kondisi, air-air tersebut bisa jadi tidak bisa digunakan untuk bersuci, misalnya apabila salah satu sifatnya (rasa, bau, dan warna) berubah karena najis. Batasan tersebut merujuk pada keterangan dari Abu Umamah al-Bahiliy r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda,

 

 

Sesungguhnya, air itu tidak dapat dinajiskan oleh apa pun, kecuali jika berubah bau, rasa, atau warnanya.

 

 

Sebenarnya, hadis tersebut dhaif (lemah). Akan tetapi, karena ditunjang oleh hadis lain yang semakna dan juga diperlukan sebagai pembatas kesucian air, maka hadis tersebut dapat diamalkan. Wallahu’alam bishshawab. [  ]

 

 

Sumber: dikutip dari buku “ Sudah Benarkah Shalatku? “ karya Dr.Aam Amiruddin, M.Si

 

buku shalat wudhu

5

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

830

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : Instagram : @percikan_iman.id

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini