Memahami Posisi Akhlak Dalam Islam

Oleh: Rendy Saputra*

 

 

PERCIKANIMAN.ID – – Pentingnya Menempatkan Sesuatu pada Tempatnya

 

Ajaran Islam adalah ajaran yang membutuhkan kebijkasanaan dalam pelaksanaannya. Inti kebijaksanaan adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Kebijaksanaan menuntut manusia yang mengaku bijaksana untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya.

 

 

Ibadah dalam Islam terdiri dari yang wajib dan yang sunah. Ada ibadah yang diwajibkan atas seorang muslim, yang jika tidak dilakukan akan mengakibatkan jatuhnya dosa pada pelaku yang meninggalkannya. Selain itu, ada ibadah yang hukumnya sunah. Ibadah ini masuk ke dalam ibadah tambahan untuk menyempurnakan ibadah wajib kita. Ibadah sunah ini tidak diwajibkan, namun berbalas ganjaran kebaikan bila dikerjakan.

 

 

Nah, tidak jarang di dalam tubuh kaum muslimin, terjadi pertengkaran yang sengit dalam masalah-masalah yang sunah, seperti Tarawih dan ibadah sunah lainnya. Ada perasaan berdosa saat meninggalkan ibadah sunah tersebut. Di sisi lain, mereka tidak begitu merasa berdosa saat meninggalkan shalat fardhu atau shalat wajib. Contohnya, mereka berjaga-jaga agar tidak ketinggalan melaksanakan shalat tahajud namun tidak merasa bersalah ketika meninggalkan shalat Shubuh. Padahal, yang wajib itu jauh lebih harus diperhatikan. Di sinilah bentuk ketidakbijaksanaan dalam berislam.

 

 

Akhlak menempati ruang yang penting dalam ajaran Islam. Tidak jarang, di beberapa komunitas kajian, akhlak ini tidak lagi dibahas mendalam. Beberapa ruang kajian yang saat ini sangat hebat membahas kenegaraan, kafir tidak kafir, dan keilmuwan yang kompleks, namun gagal memanifestasikan akhlak dalam ruang kehidupan antar sesama. Sungguh ironis. Inilah titik tolak pembahasan kita; posisi akhlak dalam Islam.

 

Islam; Soleh Pribadi dan Soleh Sosial

 

Mari kita resapi untaian kalam ilahi berikut ini.

 

“Sungguh, beruntung orang-orang beriman, yaitu orang yang khusyuk dalam salatnya (ibadah), orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan tidak berguna (akhlak), orang yang menunaikan zakat (ibadah), orang yang memelihara kehormatannya (akhlak).” (Q.S. Al-Mu’minūn [23]: 1-5)

 

 

Petikan awal surah ini memberi pesan kepada seorang mukmin bahwa beribadah secara benar kepada Allah haruslah diikuti dengan akhlak yang baik. Bahkan, ibadah yang benar adalah ibadah yang bisa menghantarkan sang ‘abid menuju keunggulan akhlak. Bukankah salat itu mencegah perbuatan keji dan munkar? Lalu, bagaimana jika salat terlaksana namun perbuatan keji dan munkar terus berjalan?

 

Haji adalah ibadah yang harus dilakukan pada waktu dan tempat khusus. Saat melaksanakan ibadah haji, jamaah berkumpul di tempat yang sama. 3 juta jamaah haji wukuf di arafah pada 9 Dzulhijjah. Bukan sekadar berkumpul, namun Islam melarang jamaah saling berbantah-bantahan dalam ibadah tersebut. Inilah ruang ibadah yang menguji keunggulan akhlak di ambang batas yang luar biasa dengan menguji kesabaran manusia di titik ekstremnya saat diuji bersabar bersama 3 juta manusia. Jemaah haji dituntut berakhlaq yang baik saat mereka hanya mengenakan ihrom, kelelahan yang luar biasa, dan dalam kondisi bekal yang terbatas.

 

 

Inilah ajaran Islam. Ia bukan hanya berbicara konsep spritualis egois antara hamba dengan Tuhannya, namun juga mendampingkan konsep ibadah tersebut dengan keutamaan berakhlak yang baik. Ibadah yang benar adalah ibadah yang menghantarkan seseorang untuk berakhlak baik. ketiadaan akhlak dalam seseorang yang terlihat soleh hanya akan mengundang fitnah pada ajaran Islam. Inilah masalah kita hari ini. Semoga kita mulai memperhatikan hal ini.

 

Penyempurnaan Akhlak, misi Rasulullah Saw.

 

“Sesungguhnya tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.” (H.R. Bukhari, Ahmad, dan Hakim)

 

 

Rasulullah menegaskan dalam hadis tersebut bahwa beliau hadir untuk menyempurnakan akhlak umatnya. Makarimal Akhlaq. Islam bukan hanya untuaian indah penjelasan-penjeasan, namun ia termanifestasikan dalam akhlak antar sesama, diberbagai skala kehidupan.

 

 

Dalam skala individu, Rasulullah Saw. mengajarkan kehidupan yang manfaat, jauh dari kesia-siaan, menjaga pandangan, kemaluan, dan menghindarkan diri dari hal yang merusak diri. Rasulullah Saw. bahkan mengajarkan perbaikan diri terus menerus, “Jika hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka kamu beruntung.”  kita hanya punya satu pilihan, menjadi lebih baik, hari demi hari. Inilah akhlak Islam yang menuntun kita untuk berkembang terus menerus.

 

 

Dalam skala keluarga, Islam juga mengajarkan kemuliaan akhlak, baik suami terhadap istri, istri terhadap suami, anak terhadap orangtua, serta orangtua terhadap anak yang secara detil diterangkan dalam ajaran Islam. Bahkan, Islam sampai menerangkan aturan atau adab memisahkan kamar antara anak perempuan dan laki-laki atau adab seorang anak memasuki kamar orangtua. Semua dibingkai dengan akhlaq yang agung.

 

 

Dalam skala masyarakat, Islam juga mengajarkan akhlak berbagi. Bukankah kita harus membagi makanan yang tercium tetangga kita? Bukankah kita dianjurkan tersenyum ketika berjumpa, mengucap salam, serta saling mendoakan? Dalam sebuah hadis diterangkan bahwa salah satu cabang iman adalah membersihkan jalan dari gangguan. Mulia, bukan? Membersihkan jalan saja termasuk cabang dari iman.

 

 

Bahkan, Akhlak pun sebenarnya harus terealisasi dalam skala negara. “Berbuatlah ihsan, sekalipun dalam membunuh binatang,” itulah tuntunan Rasulullah Saw. Menyembelih hewan bukan hanya sekedar mematikan hewan tersebut. Islam menuntut adanya kaidah ihsan di dalamnya, yaitu dengan perintah menajamkan pisau dan sembelihlah tepat di nadinya agar hewan tersebut dapat mati segera serta tidak tersiksa atau mati perlahan. Inilah Ihsan, sebuah akhlak yang membingkai pelakunya untuk berprilaku profesional. Apalagi dalam mengelola negara, tentu harus lebih profesional lagi.

 

Realita Ummat Hari Ini

 

Kemunduran umat Islam saat ini tentu lahir dari berbagai macam faktor. Salah satu faktor yang sangat kental terlihat adalah tercerabutnya akhlak dari sebagian kaum muslimin. Tidak semua, hanya sebagian.

 

 

Secara individu, tidak jarang terlihat, pribadi-pribadi yang berwawasan Islam tidak begitu memesona akhlaknya. Seakan hal itu tidak begitu menjadi masalah, padahal di sinilah nilai Islam dirasa. Ketika masyarakat ingin melihat ajaran Islam, maka masyarakat akan melihat kaum muslimin yang menjalankan ajaran tersebut. Masyarakat akan melihat fakta mengenai bagaimana ajaran itu dilaksanakan di lapangan. Hal ini membawa fitnah besar bagi Islam itu sendiri. Di sinilah dakwah terhambat, ketika para dai atau muslim yang menjadi representatif ajaran Islam tidak mempesona masyarakat.

 

 

 

Akhir-akhir ini kita juga menemukan sebagian kaum muda yang katanya belajar Islam namun mampu mengahrdik orangtuanya, mengkafirkan ayahnya padahal masih beragama Islam, atau menghardik ibunya dengan kata munafik. Sungguh mengerikan. Padahal kalau mereka tahu, Mushab bin Umair pun tetap sopan terhadap ibunya yang tidak berislam.

 

 

Salah satu akhlak adalah ihsan. Makna Ihsan sangat dekat dengan profesional. Menyembelih saja harus profesional, apalagi bekerja di kantor, berbisnis, atau menuntut ilmu. Hari ini, mari kita sama-sama bertanya, dimanakah akhlak ihsan itu berada? Apakah berada di dalam diri kaum muslimin atau tidak?

 

 

Kebobrokan akhlak ini mengahadirkan kemunduran dalam diri ummat. Inilah sunnatullah. Siapa yang berakhlak, dia akan maju. Pribadi yang berakhlak akan menuai kemajuan bagi dirinya. Masyarakat yang berakhlak akan melahirkan masyarakat yang bermartabat. Negara yang berakhlak akan mampu menghadirkan kesejahteraan dan kenyamanan bagi warganya.

 

Semoga kita semua menjadi pribadi yang nerakhlak dalam berbagai skala. [ ]

 

 

*Penulis adalah pegiat dakwah dan founder Grand Master Muda Mulia

4

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

835

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : Instagram : @percikan_iman.id

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 59 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment