Cara Menunaikan Zakat Harta, Harus Uang Atau Boleh Barang ?

Assalamu’alaykum. Pak Aam, bolehkah zakat harta diberikan tidak dalam bentuk uang tapi dalam bentuk makanan atau barang? Boleh disalurkan/diberikan sendiri atau harus melalui lembaga zakat / Lazis? Mohon penjelasannya. (Narulita via fb )

 

 

Wa’alaykumsalamww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat yang dirahmati Allah. Prinsipnya kita mengeluarkan harta untuk mustahik atau penerima zakat. Apabila mustahiknya membutuhkan pakaian lalu Anda membelikannya pakaian,  maka boleh Anda membelikan pakaian. Itu lebih tepat dan dibutuhkan, yang penting Anda mengeluarkan zakat.

 

 

Atau misalnya mustahiknya cukup makan dan pakaian, tetapi ia sakit dan perlu obat-obatan maka Anda boleh memberikan zakat harta dalam bentuk pelayanan kesehatan ke dokter atau rumah sakit dan obat-obatan lainnya.

 

 

Jadi untuk zakat harta, Anda boleh memberikan sesuai kebutuhan mustahik selain bentuk uang tunai atau harta cash. Malah beberapa lembaga ZIS memberikannya dalam bentuk modal usaha, misalnya gerobak usaha, warung atau jongkok untuk dagang dan sebagainya. Harapannya setelah mempunyai usaha ia yang tadinya mustahik (penerima zakat) akan berubah menjadi seorang muzaki ( pemberi zakat).

 

 

Tujuannya apa kita mengeluarkan zakat? Agar harta kita menjadi bersih, suci, berkah dan berkembang dalam kebaikan. Hal ini tercermin dari doa orang yang menerima zakat atau para amilin/ petugaz zakat yang berdoa ketika menerima titipan zakat.

 

 

آجَرَكَ اللَّهُ فِيما أعْطَيْتَ وَجَعَلَهُ لَكَ طَهُوراً وَبَارَكَ لَكَ فِيما أَبْقَيْتَ

 

Aajarakallahu fiimaa a’thaita wa ja’alahu laka thahuuran wa baaraka laka fiimaa abqaita

“Semoga Allah memberi pahala atas apa yang telah engkau berikan, menjadikannya penyuci bagimu dan melimpahkan berkah terhadap hartamu yang tersisa”(Imam Bukhari dan Muslim)

 

Dapat kita pahami sungguh dalam makna doa ini. Lalu harta yang berkah itu seperti apa? Perlu diingat ada 4 syarat bahwa harta itu berkah

 

  1. Halal cara mendapatkannya

 

Sebagai muslim mendapatkan rezeki atau harta itu bukan sedekar jumlahnya atau banyaknya. Tetapi yang terpenting adalah kehalalannya dalam mendapatkan harta tersebut. Bekerja bukan sekedar bekerja yang berpenghasilan besar sehingga cepat kaya tetapi yang haram dilakukan. Untuk itu cara mendapatkan harta juga harus halal, bukan korupsi, bukan hasil mencuri, bukan berdagang atau jualan yang haram dan sebagainya.

 

  1. Harta yang bersih.

 

 

Nah maskudnya begini, ada harta yang halal tapi tidak bersih. Misalnya Anda karyawan yang memiliki penghasilan di atas 3,5 juta maka Anda sudah memiliki kewajiban mengeluarkan zakat penghasilan. Sebut saja Anda memiliki gaji 10 juta. Anda bekerja dan tentu saja halal. Nah  berarti Anda harus membersihkan dengan mengeluarkan 2,5% dari penghasilan Anda untuk berzakat

 

  1. Harta yang bermanfaat.

 

Jadi saya menikmatinya. Boleh menikmati yang kita dapatkan, rezeki halal yang sudah kita bersihkan maka boleh kita nikmati. Ada orang yang punya mobil bagus dan dipakai, maka itu berkah. Ada orang yang memiliki mobil bagus tapi tidak pernah dipakai, maka itu tidak manfaat. Harta itu untuk dinikmati. Apabila kita tidak menikmati berarti harta itu tidak berkah.

 

  1. Maslah atau bisa menolong orang lain.

 

Apabila harta kita berkah, biasanya banyak orang yang terbantu oleh harta kita.  Jadi ciri harta yang berkah ialah halal mendapatkannya, dibersihkan dengan zakat, infak atau sedekah, menikmati harta dengan memanfaatkannya, dan harta itu dapat menolong orang lain.

 

 

Jika Anda mengganti zakat dengan makanan atau pakaian, maka boleh hukumnya dengan catatan mustahiqnya membutuhkan barang atau makanan tersebut. Mustahiq di sini dimaksudnya seperti yang dibahas dalam surat At-Taubah ayat 60

 

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

 

Sesungguhnya, zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil zakat, mualaf, memerdekakan hamba sahaya, membebaskan orang berutang, untuk jalan Allah, dan orang yang sedang dalam perjalanan di jalan Allah. (Semua yang dijelaskan itu) sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha-bijaksana.” ( QS.At Taubah: 60 )

 

Kemudian bolehkah disalurkan atau berikan sendiri atau harus melalui lembaga zakat? Boleh dua-duanya. Anda boleh memberikan langsung kepada mustahiknya juga boleh dititipkan kepada lembaga zakat atau lazis. Hanya tentu saja kalau melalui lembaga Anda harus memilih lembaga yang professional dan kredibel, yang amanah, terpercaya dan dapat dipertanggung jawabkan.  Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

5

Red: citra

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

935

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 148 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment