Cemburu Itu Tanda Cinta, Begini Caranya Agar Proporsional

PERCIKANIMAN.ID – – Cemburu adalah tanda cinta, begitulah yang sering kita dengar. Tetapi, cemburu seperti apakah yang diajarkan Islam? Tentu bukan cemburu buta, atau cemburu tuli, atau cemburu bisu. Islam mengajarkan kita untuk cemburu secara proporsional dan sesuai dengan syariat.

 

 

Cemburu yang berlebihan justru akan menodai makna cinta. Cemburu yang tidak proporsional justru merugikan kita atau orang yang kita cintai. Cemburu itu penting, selama ia dalam jumlah yang proporsional.

 

 

Jika sudah tidak ada lagi rasa cemburu di antara pasangan suami istri, maka keharmonisan rumah tangga terancam karena ia merupakan bumbu untuk merawat cinta di antara keduanya. Bahkan, Rasulullah Saw. secara eksplisit menganjurkan kita untuk memiliki rasa cemburu seperti yang pernah disampaikan melalui sabdanya,

 

 

Di antara kecemburuan itu ada yang disukai Allah dan ada pula yang dibenci Allah. Adapun yang disukai Allah ialah kecemburuan yang berisi keraguan, sedangkan yang dibenci Allah adalah kecemburuan yang tidak ragu-ragu lagi” (H.R. Abu Daud).

 

 

Artinya, yang disukai oleh Allah Swt. adalah yang disebabkan prasangka yang belum tentu kebenarannya dan hal itu timbul karena rasa cinta yang begitu besar kepada pasangannya.

 

 

Namun demikian, kita dilarang untuk cemburu buta yang bisa merugikan diri kita sendiri. Dalam sebuah hadits, Abu Sa’ad Al-Khudry r.a. berkata, di sebuah rumah, tinggal seorang pemuda yang baru saja menikah. Suatu ketika, kami pergi bersama Rasulullah Saw. ke Khandaq. Pada suatu hari, pemuda itu meminta izin kepada Rasulullah Saw. untuk pulang mengunjungi istrinya. Pada hari berikutnya, dia juga minta izin kepada Rasulullah Saw., lalu beliau bersabda, “Ambillah senjatamu, karena aku khawatir keselamatanmu terancam dari suku Quraizhah!

 

 

Laki-laki itu pun mengambil senjatanya dan pulang ke rumah. Tiba-tiba, dia menjumpai istrinya sedang berdiri di depan pintu. Spontan bergolaklah kecemburuannya di dalam hati dan timbullah niat untuk membunuh istrinya. Namun, tiba-tiba istrinya berkata,

 

 

“Tahanlah senjatamu dan masuklah ke dalam rumah hingga engkau mengetahui apa yang menyebabkanku keluar.”

 

Maka, dia pun masuk kedalam rumah, dan mendapati seekor ular besar yang melingkar di atas ranjang. Segera dia membunuh ular itu dengan senjatanya (H.R. Muslim).

 

 

Apabila laki-laki dalam kisah tersebut melaksanakan yang ada di pikirannya karena rasa cemburu yang membabi buta, hanya karena melihat istrinya berdiri di depan rumah, maka hal tersebut hanya akan mengakibatkan kerugian dan penyesalan seumur hidupnya. Kecemburuan yang tidak proporsional harus dihindarkan agar keutuhan rumah tangga tetap terjaga. [ ]

 

Sumber: dari buku ” Membingkai Surga Dalam Rumah Tangga ” karya Dr. Aam Amiruddin, M.Si

 

buku membingkai surga

5

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

935

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 408 times, 5 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment