Mendoakan Orang Tua Non Muslim Boleh atau Tidak? Ini Ketentuannya

ziarah makam

Assalamu‘alaykum Pak Aam, saya sangat mencintai dan menyangi ayah saya tetapi beliau sudah meninggal. Yang saya tahu selama hidupnya dulu almarhum bapak saya itu pengikut aliran kejawen. Sebagai seorang anak saya ingin mendoakan orangtua yang sudah meninggal sebagai bentuk berbakti saya. Namun mengingat bapak saya kejawen, apakah doa saya diterima oleh Allah? Apa kelak kami bisa berkumpul kembali dengan almarhum bapak kami tersebut? Mohon penjelasannya. (Ratih via E-Mail)

 

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat- sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Salah satu kewajiban anak adalah berbuat baik atau berbakti kepada kedua orangtuanya, baik ketika masih hidup maupun sudah meninggal. Ketika orangtua masih hidup maka sangat terbuka untuk berbuat baik termasuk mendoakan.

 

 

Namun ketika sudah meninggalkan maka hanya yang sama-sama muslim saja yang boleh mendoakan atau mendapat doa. Sebab kita dilarang mendoakan orang yang sudah meninggal yang diketahui dia non muslim atau bukan beragama Islam. Allah tegaskan dalam firman-Nya,

 

 

(113).مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

 

 

“Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang beriman memohonkan ampunan kepada Allah bagi orang-orang musyrik, sekalipun mereka kaum kerabatnya, setelah jelas orang-orang musyrik itu penghuni Jahanam.“ ( QS.At Taubah: 113)

 

 

Menjawab pertanyaan Anda, bagaimana dengan almarhum orangtua yang sampai akhir hayatnya menganut kejawen? Kejawen itu dalam bahasa agama termasuk musyrik. Non muslim terdiri golongan yaitu ahli kitab dan musyrik. Ahli kitab adalah orang yang beragama Yahudi dan Nasrani. Yahudi mengimani kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as dan Umat Nasrani mengimani Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa as .

 

 

Sedangkan kita sebagai Umat Muslim wajib mengimani Kitab Taurat dan Injil yang masih asli. Jadikitatetapwajib mengimani bahwa Allah telah menurunkan kitab Taurat kepada Umat Yahudi dan Injil kepada Umat Nasrani, tetapi Taurat dan Injil yang wajib umat muslim imani ialah yang asli bukan yang ada di masa kini. Kitab Taurat dan Injil yang ada di masa kini sudah mengalami distorsi bahkan perubahan.

 

 

Orang Yahudi berkeyakinan bahwa Nabi Uzair adalah anak Tuhan, Malaikat adalah anak Allah. Orang Nasrani berkeyakinan bahwa Nabi Isa as adalah anak Allah bahkan Allah. Hal ini membuat kita sebagai Umat Muslim tidak mengimani Kitab Taurat dan Injil yang sudah mengalami distorsi atau sudah menyimpang tersebut.

 

 

Sementara Kitab Taurat dan Injil yang diturunkan pertama kali oleh Allah kepada Nabi Isa as dan Nabi Musa as tetap wajib kita. Oleh karena itu, Umat Yahudi dan Nasrani disebut ahli kitab.

 

 

Kemudian ada juga yang tidak percaya kepada Injil dan Taurat, yaitu disebut musyrik seperti Kejawen. Mengapa disebut musyrik? Karena ia menekankan keimanannya kepada hal-hal yang berbau kemusyrikan, meskipun dia tetap melaksanakan shalat.

 

 

Ada beberapa kepercayaan yang mengagungkan patung atau misalnya bertanya kepada hal-hal mitos seperti nyai roro kidul. Selain itu, kepercayaan bahwa pohon itu sifatnya sakral sehingga harus ditutupi oleh kain. Hal ini adalah bentuk menyekutukan Allah. Allah berfiman dalam Al-Quran Surat At-Taubah Ayat 114:

 

وَمَاكَانَاسْتِغْفَارُإِبْرَاهِيمَلِأَبِيهِإِلاَّعَنمَّوْعِدَةٍوَعَدَهَاإِيَّاهُفَلَمَّاتَبَيَّنَلَهُأَنَّهُعَدُوٌّلِلّهِتَبَرَّأَمِنْهُإِنَّإِبْرَاهِيمَلأوَّاهٌحَلِيمٌ ﴿١١٤﴾

 

“Adapun permohonan ampunan Ibrahim kepada Allah untuk bapaknya, hanyalah karena janji yang telah diikrarkan kepada bapaknya. Tetapi, setelah jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya adalah musuh Allah, Ibrahim berlepas diri darinya. Sungguh, Ibrahim seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” ( QS. At Taubah: 114 )

 

 

Orang musyrik menurut surat At Taubah ayat 113 dan 114  yaitu tidak layak seorang nabi dan juga orang – orang beriman memohonkan ampunan kepada orang – orang musyrik sekalipun dia kerabat dekat bahkan orangtuanya sendiri.

 

 

Ayat ini jelas menegaskan bahwa orang yang musyrik tidak bisa kita mohonkan ampunan jika ia sudah wafat. Jika masih hidup, siapa pun boleh kita doakan. Anda berbeda agama dengan orangtua atau teman, maka Anda boleh mendoakan agar mereka masuk Islam. Jadi mendoakan non muslim agar diberikan hidayah dari Allah hukumnya boleh dan sungguh amalan yang mulia.

 

 

Rasulullah SAW pernah mendoakan Umar Bin Khatab agar masuk Islam ketika Umar masih musyrik dan memusuhi Islam. Umar Bin Khatab pun masuk Islam dan menjadi salah satu khalifah. Namun bagaimana pun memohon kanampunan bagi orang yang musyrik sekalipun ia memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan kita, tidak diperbolehkan.

 

 

Lalu pertanyaan senjutnya, apakah kita masih bisa dipertemukan dalam surga kelak bersama orangtua yang berbeda keyakinan? Coba kita simak firman Allah dalam Al Quran,

 

 

(23).جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ

 

yaitu Surga ‘Adn. Mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya, sedang¬kan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu.” ( QS. Ar-Ra’ad: 23)

 

 

Jika melihat dalam surat Ar-Ra’d ayat 23 dijelaskan bahwa kita bisa bertemu dengan siapapun selama berdabersama di dalam surga Allah Swt. Siapa yang berhak memasuki surga Allah? Orang – orang shalih dari nenek moyang mereka atau kita. Jadi kita bisa bertemu dengan siapapun termasuk orangtua, pasangan, anak-anak, cucu, teman selama kita semua sama-sama shaleh.

 

 

 

Syarat diterimanya amal shalih adalah dengan beriman kepada Allah Swt artinya dia adalah seorang muslim yang telah ikrar bersyahadat.Dalam Al Quran banyak disebut kaitan antara amal shalih dengan keimanan atau akidah, amannu wa amilushshalihah. Amal shalih itu ukurannya menurut syariat atau menurut Allah dan Rasul-Nya, bukan sekedar berbuat baik menurut ukuran manusia. Jadi beriman dan beramal shalih ini syarat utamanya bisa berkumpul dengan keluarga di surga. Demikian penjelasannya, semoga dapat bermanfaat. Wallahu a’lam bishshawab.[]

 

5

Red: citra

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

824

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

 

 

 

 

 

(Visited 154 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment