Hukum Jual Beli Kredit, Benarkah Termasuk Riba? Ini Penjelasannya

Assalamu’alaykum. Pak Aam,saya mengkreditkan barang, dan tentunya ada keuntungan yang saya dapat, karena harga cicil lebih besar daripada harga cash. Berhubung saya berada di luar kota, maka saya menyuruh seseorang untuk membelikan barang tersebut. Saya baru tahu ternyata itu adalah riba karena barangnya tidak langsung dari tangan saya. Lalu uang lebih dari cicilan itu harus saya apakan? Apakah dikembalikan kepada yang mencicil atau harus di sedekakan? (Sari via e-mail)

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat yang dirahmati Allah. Pada dasarnya mencicil atau mengangsur itu sesuatu yang dibolehkan. Terkiat dengan riba tidaknya maka bisa tergantung dari akadnya.

 

 

 

Misalnya, apabila saya memiliki handphone seharga Rp.1,5 juta dan saya ingin menjual kepada orang lain dengan membuka cicilan, maka hukumnya boleh. Artinya jika dari awal sudah ada komitmen untuk mencicil, maka bukan termasuk riba. Jual beli itu halal sementara riba hukumnya haram. Dalam Alquran sudah ditegaskan,

 

 

 

“…….Allah telah menghalalkan jual beli, tetapi mengharamkan riba……”  (QS.Al Baqarah: 275)

 

 

 

Sebaliknya jika akad awalnya saya hendak menjual kepada anda handphone tersebut seharga Rp.1,3 juta, tetapi jika dicicil harganya akan menjadi Rp.1,5 juta, maka ini dapat dikategorikan riba. Riba itu merupakan pertambahan nilai dari harga pokok karena ada rentan waktu.

 

 

 

Seperti halnya dengan transaksi pinjaman uang di bank, akad yang digunakan yaitu akad jual beli dengan catatan bahwa harga sudah ditetapkan oleh bank. Oleh karena itu, tidak semua cicilan itu riba.

 

 

 

Jika niatnya transaksi jual beli dengan pembayaran cicilan, berarti sudah ada kesepakatan dari awal untuk mencicil. Sama halnya dengan bank Syariah, ijab qabul awalnya ialah transaksi jual beli, tetapi nasabah membelinya secara mencicil.

 

 

 

Jadi, dalam pengamatan saya, Anda menjual barang secara kredit itu bukan riba jika dari awal sudah ada komitmen bahwa barang itu dijual secara kredit. Adapun barang dibelikan oleh orang lain, itu hanya persoalan teknis saja. Betapa banyak orang yang memiliki toko atau warung mempekerjakan orang lain untuk belanja barang yang akan dijual. Kini muncul anggapan bahwa dalam transaksi jual beli, orang yang membeli dan menjual barang harus membeli langsung.  Kalau menurut hemat saya itu hanya permasalahan teknis saja, dan hukumnya boleh boleh saja.

 

 

Jadi di dalam jual beli itu poin yang paling penting adalah:

 

  1. Tidak menipu

 

Rasulullah saw. bersabda

 

مَنْ غَشَّ، فَلَيْسَ مِنِّي

 

“Barangsiapa yang menipu, maka ia bukan termasuk golongan kami” (Diriwayatkan oleh Muslim.)

 

Di dalam jual beli haram hukumnya menipu, contohnya menjual barang kw atau tiruan tetapi tidak jujur bahwa barang yang ia jual adalah palsu dan ditawarkan sebagai barang ori atau asli. Jika ia menjual barang palsu, namun orang yang membeli juga mengetahui itu barang palsu maka tidak masalah.

 

Adapun masalah yang berkaitan dengan keuntungan itu adalah hak setiap penjual, asalkan ada kesepakatan antara penjual dan pembeli pada saat akad. Tidak ada dalil yang menjelaskan tentang batasan keuntungan.

 

  1. Tidak memperjual-belikan barang atau dzat yang diharamkan.

 

Haram hukumnya bagi umat islam memperjual belikan khamr atau daging babi. Hal ini jelas diharamkan oleh Islam.

 

Sesungguhnya, Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli khamar, bangkai, babi, dan patung.” Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu mengenai jual beli lemak bangkai, mengingat lemak bangkai itu dipakai untuk menambal perahu, meminyaki kulit, dan dijadikan minyak untuk penerangan?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh! Jual beli lemak bangkai itu haram.” Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allah melaknat Yahudi. Sesungguhnya, tatkala Allah mengharamkan lemak bangkai, mereka mencairkannya lalu menjual minyak dari lemak bangkai tersebut, kemudian mereka memakan hasil penjualannya.” (HR. Bukhari dan Muslim ).

 

 

Nah, terkait dengan fikih muamalah atau aturan jual beli dalam Islam atau sesuai syariat, insya Allah akan kita bahas dilain waktu. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

 

4

Red: citra

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

936

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

(Visited 425 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment