Istri Tidak Mau Tinggal Dengan Mertua? Ini Yang Perlu Dilakukan Suami

Assalamu’alaykum. Pak Aam, mohon maaf sebelumnya. Saya salah satu peserta seminar pra nikah yang Pak Aam pengisinya. Alhamdulillah, sekarang saya sudah menikah namun istri tidak mau tinggal bersama. Saat ini saya tinggal di rumah orangtua sambil menemani ibu saya yang sendirian karena ayah sudah meninggal dan saudara jauh di luar kota. Sementara istri lebih memilih tinggal bersama orangtuanya atau mertua saya. Alasannya istri ingin punya rumah sendiri dan tidak mau tinggal bersama mertua (ibu saya). Terus terang untuk beli rumah sendiri saya belum mampu dan juga rumah orangtua juga tidak ada yang mengurus.  Bagaimana sikap istri yang tidak mau tinggal bersama suami (mertua) dan menuntut punya rumah sendiri? Apa yang harus saya lakukan? Mohon nasihatnya dan terima kasih. ( Rus via fb )

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Untuk menjawab persoalan ini, saya perlu jelaskan mengenai apa saja kewajiban istri kepada suami dan kewajiban suami kepada istri. Kewajiban istri pada suami adalah pertama, wajib   menaati perintah suami apabila perintahnya itu benar alias sesuai aturan-autran agama. Namun tidak boleh taat sekiranya suami menyuruh kepada maksiat. Dalam hadits Rasulullah Saw bersabda,

 

 

–  لاَ طَاعَةَ ( لَبَشَرٍ ) فَيٍ مَعْصِيَةِ اللهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ

 

 

“Tiada kewajiban untuk taat (kepada seseorang) yang memerintahkan untuk durhaka kepada Allah Kewajiban taat hanya pada hal yang ma’ruf.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

 

Kedua, wajib menjaga anamah harta dengan tidak berlaku boros dan pandai mengatur harta yang telah diberikan oleh suami. Ketiga, wajib mendidik anak untuk menjadi anak yang shaleh. Keempat, wajib menjaga penampilan agar nyaman dilihat suami.Jadi berdandan atau berhias harus diniatkan untuk menyenangkan atau membahagiakan suami, bukan untuk orang lain. Kelima, wajib  menjaga lisan dan perilaku agar tidak mengecewakan dan menistakan suami.

 

Sedangkan kewajiban suami terhadap istri adalah pertama, memberikan nafkah lahir dan batin. Kedua, memperlakukan istri dengan hormat alias tidak menyakitinya dengan ucapan ataupun perbuatan. Ketiga, membimbing istri agar semakin shalehah atau dengan kata lain suami wajib menjadi imam yang selalu memberikan contoh yang baik dan keteladanan yang mulia. Dalam Al Quran disebutkan,

.

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

 

Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada istrinya dengan cara ma’ruf” (QS. Al Baqarah: 233).

 

 

Mencermati kewajiban yang dijelaskan di atas, maka istri yang tidak mau tinggal dengan suami atau mertua dengan alasan suami belum mempunyai rumah sendiri adalah tindakan yang melanggar hukum atau tidak dibenarkan secara syariat.

 

 

Kalau suami belum bisa membelikan rumah dan masih menumpang tinggal di rumah ibunya, maka seorang istri tetap harus ikut bersama suami. Dalam hal ini istri wajib taat pada suami, karena jelas suami tidak mengajak atau meminta istri untuk melanggar syariat.

 

 

Tentu saja, Anda dan istri boleh mendiskusikan keberatan-keberatan apa saja jika harus  tinggal dengan mertua. Namun demikian, sekali lagi istri tidak boleh ekstrim menolak tinggal dengan ibu mertua karena cara seperti itu tidak benar secara etika sosial maupun agama.

 

 

Cobalah Anda jelaskan dan beri pengertian bahwa dengan tinggal bersama ibu dalam hal ini mertua maka bisa sekaligus berbakti dan berbuat kepada orangtua yang nilai pahalanya luar biasa disisi Allah. Ini harusnya menjadi motivasi bagi yang sudah menikah. Meski itu bukan ibu kandung tetapi hakikatnya itu juga orangtua.

 

 

Namun Anda harus bersabar untuk menjelaskan hal ini. Atau Anda juga bisa menggali hal lain yang membuat istri tidak mau tinggal bersama ibu mertua atau ibu Anda. Mungkin ada hal-hal pribadi atau hal lain yang belum bisa terselesaikan.

 

 

Jadi ini bisa menjadi pelajaran bagi mojang bujang yang hendak menikah khususnya para calon istri bahwa ketika seorang wanita yang siap dinikahi, berarti dia harus siap menerima segala kekurangan yang ada pada suaminya, baik yang sudah diketahui sebelumnya atau baru diketahui sesudah menikah.

 

 

Kalau memang suami belum mampu membelikan rumah dan yang ada hanyalah  rumah orangtuanya dan di rumah tersebut hanya tinggal ibunya sendiri yang butuh ditemani, maka seorang istri harus siap menerima kenyataan itu walaupun harus serumah dengan mertuanya.  Itulah konsekwensi sebuah pernikahan, harus ada pengorbanan.

 

 

Demikian juga kiranya, seorang lelaki yang siap menikahi seorang perempuan, berarti dia harus menerima segala kekurangan perempuan itu. Adalah suatu kekeliruan  apabila kita menikah tetapi tidak mau menerima kekurangan pasangan masing-masing.

 

 

Selain itu yang perlu dipahami dan disadari dalam hidup berumah tangga adalah apa yang dijalani saat ini, bukan apa yang diimpikan atau diangankan sebelum menikah. Mungkin sebelum menikah impiannya punya rumah baru, di komplek, bebas banjir, nyaman dan impian indah lainnya. Namun setelah menikah impian itu tak kunjung datang. Inilah kenyataan yang harus dijalani suami istri dengan kesabaran dan saling menguatkan.

 

 

Kadang kenyataan itu berbeda dari impian atau angan saat sebelum menikah. Sebab, impian atau angan-angan sebelum menikah pastinya ideal banget. Dalam impian setelah menikah tinggal di rumah baru, segala kebutuhan terpenuhi, setiap hari selalu ada tawa canda, setiap akhir pekan jalan-jalan atau rekreasi, belanja di mall dan sebagainya. Itulah impian ideal sebelum menikah.

 

 

Tetapi setelah menikah bisa jadi tak satu pun yang menjadi kenyataan. Itu hal yang wajar dan tidak perlu menjadi persoalan serius dalam menjalani rumah tangga hingga mengganggu keharmonisan. Kenyataan tidak semanis impian, kenyataan tidak seindah yang diangankan itu hal biasa saja.

 

 

Jadi sekali lagi, cobalah bersabar dan beri pengertian kepada istri Anda. Sebab, suami istri yang tidak tinggal dalam satu atap atau rumah apalagi dalam waktu yang lama maka hal itu sebenarnya kurang harmonis. Akan banyak persoalan dan bisa jadi timbul fitnah jika suami istri tidak serumah dalam waktu yang lama.

 

 

Kalau Anda merasa sudah tidak mampu menasihati istri, bisa meminta bantuan kepada pihak ketiga yang Anda percaya, misalnya saudaranya. Siapa tahu dari nasihat orang lain tersebut bisa membuka hatinya dan menyadari kesalahannya. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.

 

 

Nah, terkait dengan persoalan rumah tangga, Anda maupun sahabat-sahabat sekalian bisa membaca buku saya yang berjudul “ Membingkai Surga Dalam Rumah Tangga “ atau buku “ Insya Allah Sakinah “. Didalamnya tips menjadi keluarga sakinah, mawadah dan penuh rahmah serta ada pembahasan permasalahan rumah tangga dan solusinya yang sesuai ajaran Islam. Wallahu a’lam bishshawab. [ ]

 

buku membingkai surga

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

892

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

(Visited 246 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment