Hadits Tentang Tanda Kematian, Benarkah Dapat Dirasakan 100 Hari Sebelumnya ?

Assalamu’alaykum. Pak Aam, saya pernah membaca artikel bahwa tanda-tanda kematian itu akan dirasakan dari 40 hari menjelang ajal. Apakah benar 40 hari menjelang kematian seseorang, ia akan diperlihatkan tanda-tandanya oleh malaikat? Apakah hadits itu benar? Terus terang saya kadang merasa takut. Mohon penjelasan dan nasihatnya ustadz. Terima kasih ( Melly via fb )

 

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat yang dirahmati Allah. Ada banya informasi yang beredar demikian yang katanya tanda kematian seseorang itu sudah dirasakan sejak 100 hari, 40 hari, 7 hari, 3 hari dan 1 hari menjelang kematian. Dalam tulisan tersebut juga digambarkan lauhul mahfudz itu layaknya pohon. Dimana 100 hari menjelang kematian selepas Ashar, jantung orang tersebut berdenyut-denyut.  Kemudian daun yang bertuliskan nama orang tersebut di lauh mahfudz akan gugur sebagai tanda kematian akan tiba dan seterusnya.

 

 

Perlu dipahami dan diketahui bahwa hal itu tidak benar adanya. Kematian adalah sesuatu yang paling misterius. Tidak ada kejadian orang yang akan meniggal itu diperlihatkan tanda-tandanya oleh malaikat. Kisah atau ada yang menyebut hadits tersebut jelas bertentangan dengan ayat Al Quran dimana Allah Swt berfirman,

 

 

(34). وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ…..

 

 

“…….Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan dikerjakannya besok. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di daerah mana ia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal. “ (QS. Luqman: 34)

 

 

Berdasarkan ayat di atas, tidak ada seorang pun yang tahu kapan dan di mana ia akan meninggal, juga bagaimana ia akan meninggal nantinya. Namun, ada sebagian orang yang “memiliki” insting kematian. Maksudnya adalah, kita baru tahu maksud seseorang melakukan suatu perbuatan ketika orang tersebut meninggal dan orang yang melakukan perbuatan itu tidak akan menyangka bahwa kematian akan datang kepadanya dengan begitu cepat.

 

 

Misalnya, ketika si A meninggal dunia, kita baru tahu mengapa dia melakukan hal itu, misalnya dia mengunjungi semua tetangganya, ia meminta maaf di status media sosial, ia ingin naik kendaraan warna putih dan sebagainya.  Ternyata dia sedang mempersiapkan kematiannya menurut kita yang masih hidup. Kunjungan kepada tetangga dimaknai sebagai pamitan, permohonan maaf di media sosial juga. Kemudian mobil putih dimaknai sebagai ambulance dan sebagainya. Mungkin saja apa yang A lakukan itu merupakan sesuatu yang normal dan si A ini tidak tahu kapan ia akan mati. Tetapi semua yang dilakukan si A tersebut  bukan tanda kematian.

 

 

Berdasarkan pembahasan di atas, tidak ada tanda-tanda khusus menjelang kematian seseorang, entah itu 100 hari, 40 hari, seminggu, atau sehari menjelang kematian seseorang. Tugas kita adalah selalu berusaha melakukan yang terbaik.  Sebab yang namanya kematian itu datangnya tiba-tiba,

 

(78)……أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

 

Di mana pun kamu berada, kematian akan menjemputmu meskipun kamu berada dalam benteng yang tinggi dan kukuh …” (QS An-Nisaa: 78).

 

 

Memang ada asbab kematian, misalnya dari sakit, ada yang  jatuh dari pohon,  ada yang tua dan sebagainya. Namun ada juga orang yang sakit sudah bertahun-tahun tidak meninggal, tetapi ada yang sehat malah sedang olah raga lalu meninggal. Ini semua menjadi rahasia Allah, tidak ada hamba-Nya yang diberi tahu kapan ia akan meninggal.

 

 

Sekiranya kematian datang kepada kita secara tiba-tiba, itu tidak akan jadi penyesalan bagi kita.Allah merahasiakan datangnya kematian pada seseorang tentu bukan tanpa alasan. Ada hikmah yang bisa kita dapatkan di balik rahasia kematian ini. Hal ini menunjukkan bahwa kita hendaknya mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk mengadapi kematian sehingga tidak akan ada penyesalan ketika kita sudah mati.

 

 

Perlu kita ketahui bahwa ada orang yang menyesal setelah kematian datang kepadanya. Hal ini termaktub dalam firman Allah berikut,

 

(99). حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ

 

(100). لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

 

“Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu, hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, ia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia, agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sungguh, itu dalih yang diucapkannya saja. Di hadapan mereka ada barzakh sampai mereka dibangkitkan. (QS. Al-Mu’minun: 99-100)

 

 

Mengapa sampai ada orang yang menyesal ketika dia sudah mati? Ini disebabkan orang tersebut tidak mengisi umurnya dengan kebaikan. Dia menyia-nyiakan kesempatan hidupnya dengan berbuat dosa dan maksiat. Oleh karena itu, ketika dia menghadapi kematian, dia meminta kepada Allah supaya dia kembali ke dunia untuk mengerjakan kebajikan.

 

 

Tentu saja, Allah tidak mengabulkan permintaannya karena kesempatan orang tersebut sudah habis. Dengan demikian, orang yang sudah mati akan tetap berada di alam barzakh sampai hari kiamat tiba, baik orang yang beriman maupun orang yang tidak beriman.

 

 

Selain itu, ada juga orang yang menyesali atas kematian orang lain. Maksudnya adalah orang yang menyesal tidak melakukan kebaikan kepada orang lain sebelum si orang lain ini meninggal. Misalnya, ada seorang ibu bercerita kepada saya bahwa ia ingin menjenguk ibunya setelah ia mengantar anaknya ke sekolah.

 

 

 

Ia sudah meniatkannya, tetapi setelah selesai dari sekolah, ia pulang terlebih dahulu tanpa mendatangi ibunya. Saat pukul 11.00, ibunda si ibu ini meninggal dunia. Ibu ini menyesali diri mengapa ia tidak menengok ibunya terlebih dahulu sebelumnya.

 

 

 

Pelajaran yang dapat kita ambil dari contoh kasus di atas adalah kita harus menghindarkan diri dari rasa sesal dan menyesali atas kematian. Jangan sampai kita menyesal setelah kita mati dan jangan sampai kita menyesali diri atas kematian seseorang. Cara agar kita terhindar dari kedua hal itu adalah kita harus menghindari perbuatan yang menyebabkan kita menyesal, entah menyesal setelah kita mati entah menyesali diri atas kematian seseorang. Abdullah bin Umar (Ibnu Umar) pernah berkata, “Jika engkau memiliki kesempatan berbuat baik di pagi hari, segera lakukan.”

 

 

 

Maksud dari perkataan Ibnu Umar tersebut adalah kita harus segera melakukan kebaikan selagi ada kesempatan. Jangan sampai kita menyesal karena menunda perbuatan baik. Ingin infak jangan tunggu kaya dan punya harta melimpah dulu. Ingin ke masjid, jangan tunggu waktu luang atau nanti kalau sudah pensiun dan sebagainya.

 

 

Intinya jangan tunda berbuat baik dan ingat kita tidak tahu kapan akan meninggal. Sebab, kematian adalah rahasia Allah semata. Kapan meninggal, dimana meninggal, bagaimana meninggal maka tidak ada seorang pun diberi tahu oleh Allah. Untuk itu persiapkan amal shalih untuk bekal di akhirat kelak. Semoga kita diwafatkan Allah dalam keadaan husnul khatimah atau akhir yang baik. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

4

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

792

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 1,283 times, 4 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment