3 Sikap Istri Yang Harus Dilakukan Jika Suami Akan Poligami

0
376

Assalamu’alaykum. Pak Aam, saya dan suami sudah berumahtangga selama lebih dari 20 tahun dan selama ini bahagia. Beberapa bulan lalu dalam sebuah candaan suami ingin berpoligami. Jika saya tidak mengizinkan suami berpoligami, apakah saya tidak menaati suami? Sebab, taat kepada suami berarti taat kepada Allah.Mohon pencerahannya. Terima kasih ( Is via fb )

 

iklan

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahanat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Terkait dengan pertanyaan ini sebenarnya sudah pernah kita bahas atau jelaskan, baik on air maupun off air atau lewat kajian. Namun tidak ada salahnya jika coba kita bahas kembali secara general saja. Bagaimana sikap istri jika suami berpoligami atau baru sekedar niat ingin berpoligami?

 

Pertama, sikapi dengan keimanan.

 

Tentu secara manusiawi tidak ada wanita atau istri yang mau diduakan cintanya oleh suami. Atau tidak rela jika suaminya menduakan cinta dengan wanita atau istri yang lain. Ini bisa dipahami secara manusiawai tidaklah salah. Namun sebagai muslim Anda harus meyakini bahwa poligami atau suami punya istri lagi adalah boleh secara syariat. Dalam Al Quran dijelaskan,

 

 

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

 

“Jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap hak-hak perempuan yatim (apabila kamu menikahinya), nikahilah perempuan lain yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Namun, jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, nikahilah seorang saja atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Hal itu lebih dekat pada tindakan yang adil.” (QS. An-Nisa: 3)

 

 

Ini dalil ataun landasan syariat bahwa suami punya istri lebih dari satu atau hingga empat itu dibolehkan dan tidak menyalahi aturan Islam. Jadi ayat ini jangan ditolak atau diingkari.

 

Kedua, ingatkan suami untuk berlaku adil.

 

Hal ini masih mengacu pada ayat Al Quran tersebut, “ …. Namun, jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, nikahilah seorang saja atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Hal itu lebih dekat pada tindakan yang adil.” (QS. An-Nisa: 3)

 

 

Prinsip dari masalah ini adalah, apakah suami anda adil dalam berpoligami atau tidak? Jika suami mampu bersikap adil dalam berpoligami dan Anda menolak suami berpoligami, artinya adalah Anda melanggar ayat Allah.Namun, jika suami tidak mampu bersikap adil dalam berpoligami dan Anda boleh menentang suami dalam berpoligami.

 

 

Ketiga, istri bisa menuntut cerai jika suami tidak adil dan dzalim.

 

Jadi salah satu syarat suami poligami adalah harus berlaku adil dan tidak mendzalimi istri serta anak-anaknya.  Kalau suami berlaku tidak adil dan berbuat dzalim, misalnya suami lebih memperhatikan istri kedua bahkan menyakiti Anda, tidak memberi nafkah, menelantarkan Anda, maka Anda bisa menggugat cerai suami.

 

 

Apa landasannya? Hukum istri bisa gugat cerai ini bisa dilihat atau dibaca dalam buku nikah, biasanya ada dihalaman belakang. Dalam buku tersebut ada sighat taklik seorang suami yang ditulis bahwa seorang suami berjanji dengan sesungguh hati akan menapati kewajibannya sebagai seorang suami. Kemudian sighat taklik kepada istrinya sewaktu-waktu sebagai berikut,

 

  1. Meninggalkan istri dua tahun berturut-turut,
  2. Atau tidak memberi nafkah wajib kepada istri tiga bulan lama,
  3. Atau menyakiti badan / jasmani istri
  4. Atau membiarkan ( tidak mempedulikan) istri enam bulan lamanya, kemudian istri tidak ridho dan mengadukan halnya kepada Pengadilan Agama dan pengaduannya dibenarkan serta diterima oleh pengadilan tersebut dan istri membayar uang sebesar Rp.10.000, sebagai iwadh ( pengganti) kepada suami, maka jatuhlah talak satu suami kepada istri.

 

 

 

 

Jadi istri boleh menuntut cerai suami jika ia (suami) tidak adil dan berlaku dzalim, menyakiti istri baik fisik (KDRT) maupun non fisik (non verbal), berlaku aniya, tidak memberikan nafkah dan sebagainya namun tidak boleh meminta cerai karena suami poligami. Sampai sini saya harap Anda paham dan bisa membedakan antara suami berlaku dzalim dan suami berpoligami.

 

 

Ayat Al Quran  menunjukkan bahwa poligami merupakan sesuatu yang legal karena sudah jelas hukumnya.Adapun poligami yang ilegal adalah ketika suami melakukan kedzaliman kepada istri-istrinya atau salah satu istrinya.Jadi, yang menjadi masalah bukanlah poligami, melainkan sikap zalim suami kepada istri-istrinya.

 

 

Sekali lagi, hal ini perlu diluruskan karena kita seringkali memandang poligami sebagai sesuatu yang negatif, tetapi kita seolah-olah membiarkan perbuatan zina yang jelas-jelas terlarang dalam agama. Walaupun poligami diperbolehkan dalam Islam, hal ini tidak bisa dilakukan sembarangan.Ada aturan main yang berlaku ketika seseorang ingin berpoligami.Aturan mainnya adalah sebagai berikut.

 

 

Selain mampu bersikap adil, orang yang berpoligami haruslah memiliki kemampuan, terutama dari segi materi.Orang yang berpoligami harus mampu menafkahi dua atau beberapa istrinya.Selain itu, kemampuan fisik juga harus dimiliki oleh orang yang berpoligami karena dia harus mampu mengayomi para istrinya.Orang yang berpoligami juga harus memiliki ilmu yang baik dalam mengatur para istrinya. Perbedaan jumlah istri akan berpengaruh terhadap berapa banyak ilmu yang harus dikuasai sang suami.Kemampuan-kemampuan inilah yang hendaknya dimiliki oleh seorang suami yang berniat poligami.Jadi, orang yang ingin berpoligami hendaknya mempersiapkan hal-hal tersebut dengan sebaik-baiknya.

 

 

 

Janganlah berpoligami karena nekat.Misalnya, seorang lelaki nekat berpoligami meskipun istri pertamanya tidak diurus dengan baik dan anak-anaknya tidak diberi penghidupan yang layak.Dari kasus tersebut, poligami yang dilakukan lelaki itu sudah salah.

 

 

Dengan demikian, tidaklah bijak jika kita menyalahkan poligami karena adanya kasus seperti yang disebutkan tadi.Jangan salahkan poligami, salahkan saja para pelakunya yang tidak becus mengurus para istrinya dalam berpoligami. Sebab, tidak sedikit kasus orang berpoligami tanpa mempersiapkannya secara matang.

 

Untuk itu jangan salahkan orang berpoligami dengan adil, tetapi salahkan orang yang tidak adil dan berbuat zalim. Sebab berbuat zalim jelas hukumnya haram atau terlarang. Dalam hadits Rasulullah Saw bersabda ,

 

اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

 “Hati-hatilah dari perbuatan zalim. Sesungguhnya kezaliman itu adalah kegelapan yang sangat gelap di hari kiamat”. (HR. Muslim).

 

Kemudian  dalam sebuah hadits Qudsi Allah mengingatkan,

يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا

 “Wahai para hamba-Ku, sungguh Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku juga mengharamkan kezaliman atas kalian. Maka janganlah kalian saling menzalimi!”. (HR. Muslim).

 

 

Nah saya, kira ini yang perlu dipahami terkait dengan poligami dan kezaliman adalah dua hal yang berbeda. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

buku membingkai surga

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

894

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman