Lagi Soal Qunut, Apakah Perlu Diulang Shalat Subuhnya Jika Tidak Membaca ?

0
421

 

Assalamu’alaykum. Pak Aam, saat ini saya tinggal di rumah mertua dimaa mertua dan masyarakatnya terbiasa melakukan qunut setiap Subuh. Saya sendiri tidak qunut dan oleh mertua katanya shalat Subuh saya tidak sah dan harus diulang. Benarkah demikian ? Bagaiman hukum qunut sendiri menurut ulama seperti apa? Mohon penjelasannya. (Ugi via email )

iklan

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Sebenarnya pembahasan masalah qunut sudah sering kita bahas baik dalam kajian on air maun off air dan saya fikir sudah jelas dan selesai. Ada perbedaan itu hal yang biasa dan kita saling menghormati saja baik yang membaca qunut atau pun yang tidak membaca qunut. Tidak perlu saling menyalahkan.

 

 

Namun untuk kembali mengingatkan coba kita bahas secara singkat saja bahwa persoalan qunut dalam shalat khususnya dalam shalat Subuh ada dalilnya. Namun, di antara para ulama ada perbedaan pendapat tentangnya. Qunut dilakukan hanya pada situasi dan kondisi tertentu, yang biasanya disebut qunut nazilah. Hal ini diriwayatkan dalam beberapa hadits berikut ini:Dari Salim, dari bapaknya (Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma):

 

 

أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ مِنَ الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ مِنَ الفَجْرِ يَقُولُ: اللَّهُمَّ العَنْ فُلاَنًا وَفُلاَنًا وَفُلاَنًا» بَعْدَ مَا يَقُولُ «سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ» فَأَنْزَلَ اللَّهُ: {لَيْسَ لَكَ مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ} إِلَى قَوْلِهِ – {فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ}

 

Bahwa dia mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika telah mengangkat kepalanya dari ruku’ pada raka’at akhir dari shalat subuh, beliau berdoa, “Ya Allâh, laknatlah Fulan, dan Fulan, dan Fulan!”, yaitu setelah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan “Sami’allâhu liman hamidah, Rabbanâ wa lakal hamdu.” Kemudian Allâh menurunkan (ayat), “Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allâh menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.” [QS.Ali ‘Imraan: 128]  (HR. Al-Bukhari )

 

Qunut tidak terbatas dilakukan pada salat Subuh. Kita bisa melakukannya di salat-salat lain. Qunut nazilah dilakukan ketika ada musibah yang dialami kaum muslimin, seperti yang terjadi di Palestina, Suriah, dan sebagainya atau pada saat ada kaum muslimin yang terdzalimi. Dalam sebuah hadits disebutkan,

 

 

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلاَةِ الْصُّبْحِ فِيْ دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ إِذَا قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، مِنَ الرَّكْعَةِ اْلأَخِرَةِ يَدْعُوْ عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِيْ سُلَيْمٍ عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ، وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ. (وَكَانَ أَرْسَلَ يَدْعُوْهُمْ إِلَى اْلإِسْلاَمِ فَقَتَلُوْهُمْ . قَالَ عِكْرِمَةُ : هَذَا مِفْتَاحُ الْقُنُوْتِ). اخرجه أبو داود رقم (1443) وابن الجارود رقم (106) وأحمد (1/ 301-302) والحاكم (1/325-326) والبيهقي (2/200) وقال الحاكم: صحيح على شرط البخاري ووافقه الذهبي .

 

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah qunut selama satu bulan secara terus-menerus pada shalat Zhuhur, ‘Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh di akhir setiap shalat, (yaitu) apabila ia mengucap Sami’Allahu liman hamidah di raka’at yang akhir, beliau mendo’akan kebinasaan atas kabilah Ri’lin, Dzakwan dan ‘Ushayyah yang ada pada perkampungan Bani Sulaim, dan orang-orang di belakang beliau mengucapkan amin.”

 

Dijelaskan dalam hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnul Jarud, Ahmad, al-Hakim dan al-Baihaqi dan Imam al-Hakim menambahkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus para da’i agar mereka (kabilah-kabilah itu) masuk Islam, tetapi malah mereka membunuh para da’i itu.

 

 

Ini lah beberapa hadits tentang doa qunut yang pernah di lakukan di zaman Nabi dan para sahabat.  Dalil qunut yang tercantum dalam hadits tersebut adalah shahih. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah melakukan qunut tetapi tidak setiap shalat Subuh membaca doa qunut.

 

 

Nah, yang menjadi perdebatan atau perbedaan pendapat adalah ketika qunut hanya dilakukan ketika shalat Subuh. Beberapa ahli hadits atau ulama hadits menyebutkan bahwa dalil hadits yang menyatakan qunut dilakukan hanya pada shalat Subuh dinyatakan mukhtalaf ‘alayh  atau masih diperdebatkan para ulama.Ada yang menilai hadis tersebut shahih dan ada juga yang menganggap hadit tersebut daif.

 

 

Menurut saya, dengan tidak mengurangi hormat saya, ini merupakan ijtihad yang akan terus berlangsung hingga hari kiamat. Oleh karena itu, saya memberikan jalan tengah kepada Anda apakah mau melaksanakan qunut Subuh atau tidak. Jika Anda meyakini bahwa qunut Subuh itu tidak dicontohkan Nabi Saw. secara terus menerus, maka jangan Anda kerjakan.

 

 

Ketika Anda mengikuti shalat berjamaah yang imamnya mengangkat tangan saat qunut, Anda cukup diam saja tanpa mendahului gerakan imam. Dengan demikian, Anda tetap mendapat keutamaan shalat berjamaah. Jangan sampai ada ungkapan seperti ini, “Daripada bermakmum kepada imam yang berqunut, lebih baik saya shalat sendiri.”

 

 

Jika anda beranggapan seperti demikian, Anda tidak akan mendapat keutamaan shalat berjemaah. Shalat berjemaah sendiri memiliki keutamaan 27 derajat daripada shalat munfarid  atau sendirian. Apalagi shalat Subuh berjamaah yang banyak keutamaannya maka jangan dilewatkan.

 

 

Kemudian kalau Anda termasuk orang yang meyakini kebenaran dalil qunut Subuh, silakan Anda berqunut dalam shalat Subuh kalau sang imam berqunut juga. Namun, jika imam shalat tidak berqunut, hendaknya Anda tidak perlu memaksakan diri berqunut, apalagi mengulangi salat Subuh gara-gara tidak ada qunut. Shalat Subuh Anda tetap sah walau pun Anda tidak membaca qunut. Atau Anda bisa mencari masjid yang imam shalat Subuhnya membaca qunut. Itu lebih baik daripada Anda tidak shalat Subuh berjamaah.

 

 

Jadi sekali lagi, tanpa mengurangi rasa hormat saya, marilah kita saling menghargai dan menghormati masing-masing yang beda pendapat baik yang qunut atau pun yang tidak. Semua mempunyai keyakininan masing-masing dan tidak perlu menyalahkan. Energi dan perhatian ummat Islam akan habis jika sibuk dengan masalah-masalah yang sifatnya khilafiyah seperti ini. Selama akidahnya lurus, shalat Subuh nya dua rakaat, dilakukan menjelang fajar dan menghadap kiblat lebih baik saling menghormati saja.

 

 

Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Nah, jika Anda dan sahabat-sahabat sekalian ingin mengetahui tentang tata cara shalat, bacaan dan doa-doa shalat baik yang wajib maupun yang sunnah maka Anda bisa membaca buku saya yang berjudul “ Sudah Benarkah Shalatku ? ” atau buku “ Melangkah Ke Surga Dengan Shalat Sunat ”. Didalamnya ada pembahasan dengan dalil-dalil yang shahih. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

buku shalat

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

925

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman