Hukum Make Up Pengantin Dalam Islam, Benarkah Sama Dengan Tabarruj ?

Assalamu’alaykum. Pak Ustadz, insya Allah bulan depan saya akan menikah. Namun ada beberap hal yang perlu saya tanyakan. Apa hukumnya pengantin yang menggunakan make up? Benarkah dilarang make up atau rias karena sama dengan pamer atau tabaruj? Bagaimana sebaiknya acara walimah? Mohon penjelasannya ( Nada via fb )

 

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Pada prinsipnya, dalam pernikahan itu tidak ada perbuatan dosa dan maksiat. Make up atau dandan baik bagi penganti pria maupun wanita merupakan suatu kebiasaan yang sudah diterima oleh masyarakat umum.

 

 

Pernikah adalah momen istimewa, terindah dan bersejarah dalam hidup seseoarang, bisa jadi itu juga momen sekali dalam hidup seseorang. Untuk itu biasanya akan dibuat seistimewa mungkin bagi kedua mempelai dan juga keluarganya termasuk dalam tata rias atau make up. Kedua mempelai juga pastinya ingin tampil istimewa dihadapan tamu undangan untuk menunjukkan rasa bahagianya.

 

 

Tentu sangat aneh jika ada mempelai pengantin yang tidak dirias atau make up dengan dandanan yang acak-acakan, lusuh, kumal sehingga terkesan sesangsara atau mengundang iba. Padahal momen pernikahan adalah momen kegembiraan.

 

 

Kemudian apakah berhias atau bermake up sama dengan tabarruj? Hal ini perlu kita pahami lebih mendalam dengan mengacu pada hukum atau aturan dalam Islam. Kata tabarruj ada dalam Al Quran seperti yang difirmankan Allah  dalam surat al-Ahzab,

 

(33)……..وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

 

Hendaklah kamu tetap di rumah­mu, janganlah berhias (tabarruj) dan berting­kah laku seperti orang-orang jahiliah dahulu, …” (QS. Al-Ahzab: 33)

 

Dalam ayat ada kata tabarruj yang diartikan berhias. Dalam penjelasannya Imam Al Qurthubi dalam kitab tafsirnya menjelaskan makna at-tabarruj secara bahasa, beliau mengatakan,

 

وَالتَّبَرُّجُ: التَّكَشُّفُ وَالظُّهُورُ لِلْعُيُونِ، وَمِنْهُ: بُرُوجٌ مُشَيَّدَةٌ. وَبُرُوجُ السَّمَاءِ وَالْأَسْوَارِ، أَيْ لَا حَائِلَ دُونَهَا يَسْتُرُهَا

 

Tabarruj artinya menyingkap dan menampakkan diri sehingga terlihat pandangan mata. Contohnya kata: ’buruj musyayyadah’ (benteng tinggi yang kokoh), atau kata: ’buruj sama’ (bintang langit), artinya tidak penghalang apapun di bawahnya yang menutupinya. (Tafsir al-Qurthubi, 12/309).

 

Kemudian menurut Ibnu Qayyim Jauziyah menjelaskan makna tabbaruj  adalah “Tabarruj: menampakkan bagian yang indah (aurat) dan segala yang mengundang syahwat lelaki (non mahram).

 

Tentu saja tidak semua bentuk dandanan atau riasan wanita dimaknai atau disifati tabarruj apalagi dalam pernikahan. Kalau pengantin wanita ingin tampil cantik tentu tidak kemudian diartikan pamer atau sombong dengan kecantikannya. Hal ini tentu dikembalikan lagi kepada niat Anda.

 

 

Jadi, tidak ada masalah dalam hal make up saat pernikahan. Selama dalam taraf wajar dan tetap menutup aurat, tentu saja dibolehkan.

 

 

Kemudian hendaknya kita tahu bahwa kegiatan walimah di tempat lain berbeda-beda. Jika anda melaksanakan walimah di Arab Saudi,tentu kegiatannya berbeda dengan walimah di Indonesia sekalipun penyelenggaranya sama-sama muslim. Jika kita menengok ke negeri sendiri, kegiatan walimah di setiap daerah, atau bahkan di setiap etnis, pasti ada perbedaannya.

 

 

Walimah adalah bagian dari rangkaian pernikahan yang notabene salah satu bentuk ibadah yang berkaitan dengan adat budaya setempat. Walimah wajib dilaksanakan, wajib yang dimaksud disini tentu sesuai dengan kemampuan sebagai bentuk syukur dengan cara mengundang atau mengumumkan tentang adanya pernikahan. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Nabi Saw. dalam sebuah hadis,

 

 

أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ.

 

Adakanlah walimah walaupun hanya dengan seekor kambing.” (HR. Bukhari & Muslim)

 

Berdasarkan hadis di atas, mungkin kambing agak mahal bagi kita meskipun di Arab kambing adalah hewan yang paling terjangkau harganya. Ini berarti bahwa kegiatan walimah bisa berbeda-beda, bergantung pada adat budaya setempat dan dikembalikan dengan kemampuan.

 

 

Intinya adalah ketika kita menikahkan anak kita, hendaknya kita mengumumkan pernikahan tersebut kepada sanak saudara dan kerabat kita. Mengenai tempat ataupun prosesinya, itu semua kembali kepada kita selaku empunya acara walimah. Namun, hendaknya walimah yang kita laksanakan tetap mengacu pada aturan-aturan yang sesuai syariat.

 

 

Jangan sampai walimah yang kita laksanakan tidak sesuai syariat agama, misalnya seorang perempuan yang berhijab di kesehariannya, pada acara walimahnya ia berpenampilan tanpa hijab. Hal itu tentu saja sangat disayangkan karena pada saat ini, banyak penata rias yang mampu mendandani wanita berhijab tetap tampil menarik dengan berhijab saat walimah.

 

 

Jadi, untuk kaum hawa yang sehari-harinya berhijab, tetaplah menggunakan pakaian pengantin tanpa melepas hijab anda.Meskipun demikian, ada perbedaan penampilan antara hijab yang anda gunakan sehari-hari dengan hijab untuk pakaian pengantin. Yang jelas, baik hijab untuk dipakai sehari-hari maupun untuk pakaian pengantin, keduanya tetap harus menutup aurat sesuai aturan syariat. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishawab. [ ]

 

4

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

980

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 765 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment