Suami Reuni Istri Tidak Diajak, Apakah Salah ?

Assalamu’alaykum.Pak Aam, saya adalah seorang istri berusia 36, dan suami saya berusia 50. Sudah setahun ini suami suka berkumpul dengan teman-temannya dalam acara reuni. Suami saya tidak pernah mengajak keluarga dalam acara reuni termasuk saya sebagai istrinya. Apakah itu salah? Bagaimana cara mengingatkan suami? Mohon nasihatnya. ( GY via fb )

 

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Sebagaimana kita pahami dan ketahui bahwa dalam ajaran Islam menjaga atau menghubungkan persaudaraan atau silaturahmi adalah sangat dianjurkan. Hal ini dapat kita simak dalam Al Quran,

 

 

(1). وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا…..

 

“…….Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan peliharalah hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya, Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS.An Nisa:1 )

 

 

Kemudian dalam sebuah hadits juga disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Ayyub al-Ansahari:

 

 

أَنَّ رَجُلًا قَالَ : يا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِمَا يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ فَقَالَ النَّبِيُّ : لَقَدْ وُفِّقَ أَوْ قَالَ لَقَدْ هُدِيَ كَيْفَ قُلْتَ ؟ فَأَعَادَ الرَّجُلُ فَقَالَ النَّبِيُّ : تَعْبُدُ اللَّهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصِلُ ذَا رَحِمِكَ فَلَمَّا أَدْبَرَ قَالَ النَّبِيُّ : إِنْ تَمَسَّكَ بِمَا أَمَرْتُ بِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

 

Bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang bisa memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh dia telah diberi taufik,” atau “Sungguh telah diberi hidayah, apa tadi yang engkau katakan?” Lalu orang itupun mengulangi perkataannya. Setelah itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, menegakkan shalat, membayar zakat, dan engkau menyambung silaturahmi”. Setelah orang itu pergi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika dia melaksanakan apa yang aku perintahkan tadi, pastilah dia masuk surga”.

 

Maka menjaga atau melakukan silaturahmi ini adalah amalan yang bisa menuntun kita ke surga dan sebaliknya orang yang memutus persaudaraan atau memutus silaturahmi menjadi penghalang menuju surga.

 

 

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ

“Tidaklah masuk surga orang yang suka memutus, ( memutus tali silaturahmi)”. (Mutafaqun ‘alaihi )

 

 

Dalam masyarakat kita sekarang ini kegiatan reuni atau berkumpul dengan teman lama baik sewaktu SD,SMP,SMA atau kuliah adalah salah satu cara untuk tetap menjaga silaturahmi atau persaudaraan dan persahabatan. Hanya saja adakalanya seseorang mengikuti reuni tanpa membawa pasangan karena dikhawatirkan terjadi suasana yang “tanggung” ketika reuni berlangsung. Sebab, bisa jadi disitu hanya teman-teman suami saja yang hadir sehingga tidak perlu membawa istri atau sebaliknya. Justru kalau membawa pasangan dikhawatirkan istri dalam hal ini Anda malah akan dicuekin karena tidak ada yang kenal.

 

 

Selama jelas dan tujuannya baik, Anda tidak melihat gejala-gejala aneh atau tingkah laku pada suami saat ia mengikuti reuni, tentu tidak masalah. Apa yang dilakukan suami Anda adalah sesuatu yang manusiawi, tidak perlu dianggap sebagai perilaku yang menyimpang dan berlebihan.

 

 

Pada dasarnya, orang yang mengikuti reuni sekolah tanpa membawa pasangan bertujuan agar dirinya merasa nyaman ketika bertemu dengan teman-teman lamanya. Tentu ini lebih kepada urusan psikis seseorang saja. Akan berbeda rasanya jika anda mengikuti reuni sendirian dengan mengikuti reuni sambil membawa pasangan.

 

 

 

Jadi, Anda tidak perlu berburuk sangka kepada suami yang mengikuti reuni tanpa mengajak Anda sebagai istri. Sebagaimana Anda yang tidak pernah mengajak suami pada acara reuni. Cobalah Anda mengikuti reuni tanpa membawa suami. Lalu perhatikan sikap suami. Jika suami protes kepada Anda mengapa ia tidak Anda ajak ke acara reuni yang anda ikuti, Anda cukup balas, “Ayah juga ‘kan nggak pernah ajak ibu reunian?” Dengan demikian, suami pun mengerti akan sikap Anda yang tidak pernah diajak reuni.

 

 

 

Mungkin ada sebagian ustadz mengharamkan acara reuni ini dengan alasan tertentu. Namun tanpa mengurangi hormat saya, menurut hemat saya, reuni tidak harus diharamkan karena itu merupakan bagian dari kehidupan seseorang. Ada satu hal yang perlu saya sampaikan, silakan mengikuti reuni selama Anda tidak melakukan maksiat di acara tersebut.

 

 

 

Jadi menurut hemat saya,selama suami ikut reuni secara wajar dan maksudnya baik maka Anda tidak perlu buruk sangka atau was-was atau curiga. Berpikir positif dan saling percaya itu lebih baik. Justru Anda bisa memberinya semangat, misalnya ada reuni tetapi suami tidak mau hadir karena merasa minder atau tidak percaya diri karena suami merasa tidak sukses seperti teman-temannya maka Anda harus mendorongnya untuk hadir.

 

 

 

Sebab acara reuni itu bukan untuk pamer kesuksesan,pamer kekayaan,pamer harta,pamer-pamer lainnya. Tetapi lebih pada kembali menjalin persahabatan dan persaudaraan dengan teman-teman lama yang mungkin sudah lama tidak bertemu karena terputus komunikasi. Reuni harusnya menjadi ajang silaturahmi yang positif, saling menguatkan jika ada yang teman yang lemah. Saling membantu jika ada teman lama yang kekurangan dan hal baik lainnya.

 

 

Tetapi jika reuni suami berubah sikap misalnya menjadi genit atau menjalin hubungan dengan teman lamanya khususnya yang berlainan jenis dan bisa menjurus pada hal-hal yang baik. Keharmonisan dengan keluarga menjadi terganggu maka Anda harus ingatkan. Anda bisa memberi nasihat dan arahan. Intinya silaturahmi yang terjalin dalam acara reuni harus mendatangkan manfaat dan keberkahan, bukan sebaliknya yang malah mengundang mudlorot. Demikian penjelasannnya semoga bermanfaat.Wallahu’alam bishshawab. [ ]

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

703

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

 

(Visited 469 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment