Suami Tidak Memberikan Nafkah Lahir Batin, Ini Yang Bisa Istri Lakukan

 

Assalamu’alaykum. Pak Aam, mohon maaf jika pertanyaannya terlalu panjang. Sudah 2 tahun ini suami tidak menafkahi saya secara lahir dan  batin karena sakit. Hal ini terjadi ketika saya hamil anak pertama. Terkadang saya sedih karena suami saya tidak menafkahi secara lahir dan batin meskipun dia memang sedang sakit. Padahal, di dalam Al Quran dijelaskan bahwa suami yang tidak menafkahi batin (menggauli) istrinya akan dilaknat  Allah Swt. Untuk kebutuhan harian saya yang bekerja. Kadang saya sedih melihat kondisi suami, jujur hingga saat ini saya juga masih cinta dan sayang pada suami. Namun sebagai wanita saya juga takut godaan. Lalu apakah seorang istri boleh mengajukan cerai?  Mohon nasihat dan solusinya. Terima kasih ( W via fb )

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Dalam kehidupan rumah tangga salah satu kewajiban suami adalah memberikan nafkah lahir dan batin kepada istri dan keluarganya. Dimana dalilnya dapat kita simak dari firman Allah Swt,

 

(233)………وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ……

“…..Kewajiban ayah, yaitu memberikan nafkah dan pakai­an kepada mereka dengan ca­ra yang baik. …..” (QS.Al Baqarah : 233 )

 

 

Kemudian dalam hadits Jabir mengisahkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

 

اتَّقُوْا اللهَ فِيْ النِّسَاءِ، فَإِنَّهُنَّ عوان عِندَكُمْ، أَخَذْتُمُوْهُنَّ بِأَمَانَةِ اللهِ وَ اسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوْجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللهِ ، وَ لَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَ كِسْوَتُهُنَّ بِالمَعْرُوْفِ

 

Bertaqwalah kalian dalam masalah wanita. Sesungguhnya mereka ibarat tawanan di sisi kalian. Kalian ambil mereka dengan amanah Allah dan kalian halalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Mereka memiliki hak untuk mendapatkan rezki dan pakaian dari kalian”. ( HR.Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi )

 

Terkait dengan nafkah lahir tentunya yang berhubungan dengan materi seperti makan,minum, pakaian hingga tempat tinggal atau rumah. Sedangkan nafkah batin adalah nafkah yang diberikan kepada istri berupa kebahagiaan dan pemenuhan kebutuhan biologis sang istri. Kebutuhan biologis yang terpenuhi akan sangat mempengaruhi keharmonisan hubungan keluarga. Sebab harta yang melimpah dan wajah tampan seorang suami terkadang tidak dapat menggantikan nafkah batin apabila kebutuhan biologis sang istri tak terpenuhi dengan baik.

 

Jika suami tidak memberikan nafkah lahir dan batin atau tidak mau menggauli istrinya karena malas, itu adalah suatu kedzaliman dan dosa. Namun, jika suami tidak menggauli istrinya karena sakit—sedangkan Anda tahu persis suami anda memang sedang sakit maka itu adalah ujian bagi Anda dan juga suami.

 

 

Perlu dipahami bahwa hidup berumah tangga itu banyak ujiannya yang bisa jadi setiap orang beda-beda ujiannya. Misalnya, ada suami yang tampan dan gagah, tetapi dia tidak bisa menafkahi batin istrinya. Namun, ada juga orang yang kelihatan biasa-biasa saja, tetapi dia mampu menafkahi batin istrinya.

 

 

Jika kasusnya seperti yang Anda ceritakan di atas, itu adalah ujian yang harus Anda terima maka hendaknya setiap ujian yang kita hadapi atau terima adalah dengan sikap ikhlas dan sabar. Dalam Al Quran Allah mengajarkan,

 

 

(156). اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ

 

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)… ( QS. Al Baqarah: 156 )

 

Sesungguhnya rumah tangga itu banyak rahasia. Ada hal-hal tertentu dari pasangan yang akan terungkap setelah menikah, padahal sebelum menikah tidak terungkap. Menurut hemat saya, selain menerima keadaan suami Anda yang sedang sakit sehingga tak mampu menafkahi lahir batin , maka hendaknya Anda juga mengupayakan suami supaya berobat agar sembuh sehingga  dapat menafkahi lahir batin Anda di kemudian hari.

 

 

Poin penting dalam rumah tangga ada dua, yaitu syukur dan sabar. Syukuri apa yang ada pada pasangan dan menerima kekurangan pasangan dengan penuh kesabaran. Perlu kita ingat bahwa rumah tangga adalah jalan ibadah hidup kita. Kehidupan rumah tangga tidak selamanya ideal. Tidak jarang kita menemukan kasus pasangan yang kehidupan rumah tangganya terlihat baik-baik saja, tetapi beberapa bulan atau tahun kemudian terjadi perceraian.

 

 

Kehidupan rumah tangga tidaklah cukup dilihat dari luar. Karenanya, cukup biarkan orang yang bersangkutan menjalaninya. Hendaknya kita tidak membandingkan kehidupan rumah tangga kita dengan orang lain. Sebab, apa yang Anda hadapi dalam kehidupan rumah tangga akan berbeda dengan orang lain. Hendaknya masalah rumah tangga yang Anda hadapi tidak perlu dibicarakan kepada orang lain, kecuali kepada orang yang ahli di bidangnya.

 

 

Lalu apakah seorang istri boleh mengajukan cerai? Terkiat ketentuan atau dasar hukum istri bisa gugat cerai ini bisa dilihat atau dibaca dalam buku nikah, biasanya ada dihalaman belakang. Dalam buku tersebut ada sighat taklik seorang suami yang ditulis bahwa seorang suami berjanji dengan sesungguh hati akan menapati kewajibannya sebagai seorang suami. Kemudian sighat taklik kepada istrinya sewaktu-waktu sebagai berikut,

  1. Meninggalkan istri dua tahun berturut-turut,
  2. Atau tidak memberi nafkah wajib kepada istri tiga bulan lama,
  3. Atau menyakiti badan / jasmani istri
  4. Atau membiarkan ( tidak mempedulikan) istri enam bulan lamanya, kemudian istri tidak ridho dan mengadukan halnya kepada Pengadilan Agama dan pengaduannya dibenarkan serta diterima oleh pengadilan tersebut dan istri membayar uang sebesar Rp.10.000, sebagai iwadh ( pengganti) kepada suami, maka jatuhlah talak satu suami kepada istri.

 

Atau jika merujuk pada Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam jo Pasal 19 PP No 9 tahun 1975  Tentang Hukum Perkawinan disitu disebutkan ada alasan atau ketentuan dalam pengajuan perceraian seorang istri kepada suaminya, seperti:

 

  1. Suami Anda terbukti sudah melakukan aniaya seperti: zina, mabuk-mabukan, berjudi dan lainnya;
  2. Suami Anda telah meninggalkan anda setidaknya dua tahun secara terus menerus tanpa ada izin maupun agrumen yang terang dan valid, hal ini berarti: suami anda dengan secara sadar atau sengaja meninggalkan anda
  3. Suami Anda terkena sangsi hukuman penjara selama lima tahun atau lebih sesudah pernikahan terjadi
  4. Suami Anda berlaku kejam dan kerap menganiaya diri anda baik secara fisik (memukul atau menyakiti fisik) maupun non fisik ( kekerasan verbal, menista, menghina, merendahkan harkat dan martabat)
  5. Suami tidak bisa menunaikan kewajibannya sebagai suami dikarenakan cacat fisik maupun penyakit yang menderanya

6.Terjadi keributan atau pertikaian terus menerus tanpa adanya jalan keluar untuk kembali hidup rukun

  1. Suami Anda secara sengaja secara sah telah melanggar taklik-talak yang diucapkannya sewaktu melangsungkan ijab-kabul
  2. Suami berganti agama alias murtad yang menyebabkan ketidakharmonisan dalam rumah tangga.

 

 

Jadi jika menurut Anda, suami telah memenuhi syarat tersebut diatas baik secara syariat Islam atau pun hukum Negara atau Undang-Undang Perkawinan dan Anda tidak terima perlakuan tersebut maka silakan Anda bisa mengajukan gugat cerai lewat Pengadilan Agama.

 

 

BACA JUGA: Frekuensi Hubungan Suami Istri Menurut Islam 

 

 

Namun saran saya, sebelum Anda mengajukan gugat cerai ada baiknya berpikir dan merenung lebih dalam lagi apa manfaat mudhorotnya jika sampai bercerai, apalagi suami dalam kondisi sakit sehingga kurang pas jika menggugat cerai.

 

 

Tetapi sekali lagi tentu keputusan itu Anda sendiri yang akan menjalani. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Nah, terkait bahasan membangun rumah tangga yang sakinah,mawadah dan penuh rahmah termasuk  permasalah rumah tangga, Anda dan sahabat-sahabat sekalian bisa membaca buku saya yang berjudul “MEMBINGKAI SURGA DALAM RUMAH TANGGA”. Didalamnya juga  ada tips dan trik bagaimana menyelesaikan persoalan dalam rumah tangga . Wallahu’alam bishshawab. [ ]

 

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

832

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

 

 

(Visited 1,029 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment