Penghasilan Suami Pas-pasan ? Ini Yang Harus Dilakukan Istri

PERCIKANIMAN.ID – – Penghasilan suami pas-pasan atau tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga seringkali menjadi masalah yang besar dalam rumah tangga. Karena kondisi ekonomi yang tidak memadai ini, pasangan suami-istri kerap bertengkar.

 

 

 

Suami menilai istri tidak bersyukur atas rezeki yang diberikannya setiap bulan dan istri beranggapan suami tidak becus dalam menafkahi anggota keluarganya. Kalau sudah saling menyalahkan seperti ini, kedamaian dan ketenteraman dalam kehidupan berumah tangga akan sulit dicapai.

 

 

 

Sebenarnya, masalah ini bisa diselesaikan jika istri dengan lapang dada bersedia membantu perekonomian keluarga. Misalnya, istri bersedia untuk bekerja atau membuka bisnis kecil-kecilan di rumah. Karena, dalam Islam tidak ada larangan bagi istri yang ingin membantu perekonomian keluarganya.

 

 

Hal ini pernah dilakukan oleh Asma’ binti Abu Bakar yang membantu suaminya, Zubair, untuk merawat peternakan kuda milik suaminya. Asma’ seringkali memberi makan dan memandikan kuda-kuda milik Zubair.

 

 

Ya, istri yang membantu suami untuk mencari nafkah (bekerja) diperbolehkan dalam Islam, selama ada izin dari suaminya. Apakah permasalahan ekonomi rumah tangga selesai begitu istri bekerja? Ternyata tidak. Penghasilan istri yang lebih besar dari suami kadang juga menjadi batu sandungan dalam kehidupan berumah tangga.

 

 

Bagi sebagian orang, mungkin hal ini tidak menjadi masalah. Namun untuk sebagian yang lain, mungkin saja hal ini menjadi masalah yang sangat besar. Sebenarnya, hal ini tidak akan menjadi masalah selama suami dan istri memiliki kesamaan pengertian.  Maksudnya, penghasilan yang didapatkan, baik oleh suami atau istri, sama-sama diyakini sebagai rezeki dari Allah.

 

 

 

Jadi, tidak perlu dipermasalahkan rezeki yang didapatkan suami yang lebih kecil nominalnya. Ketika penghasilan istri lebih besar, muncullah pertanyaan baru, “Bolehkah istri memberikan sebagian penghasilannya kepada suami mengingat istri tidak berkewajiban untuk memberikan nafkah kepada suami?”

 

 

 

Dalam Islam, istri diperbolehkan memberikan penghasilannya kepada suami dan itu termasuk kategori sedekah. Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Bersedekahlah wahai kaum wanita! Bersedekahlah sekalipun dengan perhiasanmu.” Kemudian Zainab berkata, “Mendengar sabda Rasulullah Saw. tersebut, lalu aku pulang menemui Abdullah, suamiku, seraya berkata kepadanya, ‘Anda adalah seorang suami yang kurang mampu untuk memberikan nafkah kepada keluarga.

 

 

 

Rasulullah Saw. memerintahkan kepada kami, kaum wanita, agar bersedekah. Cobalah datangi beliau dan tanyakan kepadanya, bolehkah jika aku bersedekah kepada keluargaku? Jika tidak, akan aku alihkan kepada orang lain.’ Abdullah menjawab, ‘Sebaiknya kamu saja yang mendatangi beliau.’ Maka pergilah aku (Zainab). Lalu di pintu rumah Rasulullah Saw. kudapati wanita Anshar yang bermaksud sama denganku. Sebagaimana biasa, orang-orang yang ingin bertemu Rasulullah Saw. selalu segan untuk menemuinya.

 

 

 

Kebetulan Bilal keluar dari rumah Rasulullah Saw. Kami berkata kepada Bilal, “Tolonglah kamu sampaikan kepada Rasulullah Saw. bahwa dua wanita sedang berdiri di pintu hendak bertanya, ‘Apakah dianggap cukup jikalau kami berdua bersedekah kepada suami kami masing-masing dan kepada anak-anak yatim yang berada dalam pemeliharaan kami?’

 

 

Dan sekali-kali jangan engkau beri tahukan siapa kami.” Maka, masuklah Bilal menanyakan kepada Rasulullah Saw. tetapi beliau balik bertanya, “Siapa kedua wanita itu?” Bilal menjawab, “Seorang wanita Anshar bersamasama dengan Zainab.” Beliau bertanya lagi, “Zainab yang mana?” Bilal menjawab, “Zainab isterinya Abdullah.” Rasulullah Saw. bersabda, “Masing-masing mereka mendapat dua pahala. Yaitu, pahala (menyambung) silaturahmi dengan kaum kerabat dan pahala karena sedekah” (H.R. Muslim).

 

 

Begitulah. Istri yang memberikan hasil kerja kepada suaminya berarti telah bersedekah kepadanya. Sedangkan, nafkah yang diberikan suami kepada istrinya merupakan kewajiban mutlak seorang suami sebagai kepala rumah tangga. [ ]

 

Sumber: dikutip dari buku “ Mengapa Menunda Nikah? “ karya Dr.Aam Amiruddin,M.Si

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

771

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 602 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment