Dua Ungkapan Cinta Suami Yang Membuat Rumah Tangga Harmonis

PERCIKANIMAN.ID – – Cinta adalah anugerah agung yang diberikan oleh Allah ke dalam hati setiap hamba-Nya. Sehingga, cinta perlu dibingkai dalam sebuah perjanjian agung yang dinamakan pernikahan. Ya, pernikahan merupakan tempat untuk mengekspresikan cinta.

 

 

Cinta bukan hanya perilaku hati, tetapi juga merupakan ekspresi jiwa yang perlu ditampakkan. Karenanya, Rasulullah Saw. sering mengekspresikan rasa cinta kepada para istrinya. Bagaimana Rasulullah Saw. mengekspresikan rasa cinta kepada istri-istrinya? Setidaknya ada dua cara bagi suami untuk menyatakan cintanya kepada istri.

 

 

 

  1. Nyatakan cinta dengan kesetiaan

Kesetiaan suami ditunjukkan antara lain dengan menjauhi penyimpangan, seperti perselingkuhan. Kesetiaan juga ditunjukkan dengan perilaku tidak saling membiarkan pasangan melakukan pelanggaran/kemaksiatan. Ketika suami sudah tidak peduli lagi dengan pelanggaran yang dilakukan oleh istrinya (atau sebaliknya), maka itu tandanya kesetiaan sudah mulai pudar dan keharmonisan rumah tangga mulai terancam. Jika demikian, maka tidak menutup kemungkinan perceraian pun akan terjadi.

 

 

Untuk itu, jagalah kesetiaan pada pasangan. Karena, kesetiaanlah yang akan menguatkan tali ikatan pernikahan. Jauhilah pengkhianatan karena akan memudarkan tali ikatan pernikahan. Rasulullah Saw. adalah sosok manusia yang selalu setia pada istrinya sampai akhir hayatnya. Dzakwan mengisahkan bahwa Aisyah r.a. berkata,

 

 

Di antara nikmat-nikmat Allah kepadaku ialah bahwa Rasulullah Saw. meninggal dunia di rumahku pada giliranku, dan beliau bersandar di dadaku. Maka, Allah menghimpunkan ludahku dan ludah beliau pada akhir dunia dan awal hari akhirat” (H.R. Bukhari).

 

 

Demikian kisah kesetiaan Aisyah r.a dan Rasulullah Saw. hingga akhir hayat beliau. Hal ini bukan saja bermakna kasih sayang dan kelembutan, namun juga kesetiaan suami-istri.

 

 

  1. Nyatakan cinta dengan kecemburuan yang proporsional

 

Cemburu adalah tanda cinta, begitulah yang sering kita dengar. Tetapi, cemburu seperti apakah yang diajarkan Islam? Tentu bukan cemburu buta, atau cemburu tuli, atau cemburu bisu. Islam mengajarkan kita untuk cemburu secara proporsional dan sesuai dengan syariat. Cemburu yang berlebihan justru akan menodai makna cinta. Cemburu yang tidak proporsional justru merugikan kita atau orang yang kita cintai.

 

 

Cemburu itu penting, selama ia dalam jumlah yang proporsional. Jika sudah tidak ada lagi rasa cemburu di antara pasangan suami istri, maka keharmonisan rumah tangga terancam karena ia merupakan bumbu untuk merawat cinta di antara keduanya. Bahkan, Rasulullah Saw. secara eksplisit menganjurkan kita untuk memiliki rasa cemburu seperti yang pernah disampaikan melalui sabdanya,

 

 

Di antara kecemburuan itu ada yang disukai Allah dan ada pula yang dibenci Allah. Adapun yang disukai Allah ialah kecemburuan yang berisi keraguan, sedangkan yang dibenci Allah adalah kecemburuan yang tidak ragu-ragu lagi” (H.R. Abu Daud).

 

 

Artinya, yang disukai oleh Allah Swt. adalah yang disebabkan prasangka yang belum tentu kebenarannya dan hal itu timbul karena rasa cinta yang begitu besar kepada pasangannya.

 

 

Namun demikian, kita dilarang untuk cemburu buta yang bisa merugikan diri kita sendiri. Dalam sebuah hadits, Abu Sa’ad Al-Khudry r.a. berkata, di sebuah rumah, tinggal seorang pemuda yang baru saja menikah. Suatu ketika, kami pergi bersama Rasulullah Saw. ke Khandaq. Pada suatu hari, pemuda itu meminta izin kepada Rasulullah Saw. untuk pulang mengunjungi istrinya. Pada hari berikutnya, dia juga minta izin kepada Rasulullah Saw., lalu beliau bersabda, “Ambillah senjatamu, karena aku khawatir keselamatanmu terancam dari suku Quraizhah!” Laki-laki itu pun mengambil senjatanya dan pulang ke rumah. Tiba-tiba, dia menjumpai istrinya sedang berdiri di depan pintu. Spontan bergolaklah kecemburuannya di dalam hati dan timbullah niat untuk membunuh istrinya. Namun, tiba-tiba istrinya berkata, “Tahanlah senjatamu dan masuklah ke dalam rumah hingga engkau mengetahui apa yang menyebabkanku keluar.” Maka, dia pun masuk kedalam rumah, dan mendapati seekor ular besar yang melingkar di atas ranjang. Segera dia membunuh ular itu dengan senjatanya (H.R. Muslim).

 

 

Apabila laki-laki dalam kisah tersebut melaksanakan yang ada di pikirannya karena rasa cemburu yang membabi buta, hanya karena melihat istrinya berdiri di depan rumah, maka hal tersebut hanya akan mengakibatkan kerugian dan penyesalan seumur hidupnya. Kecemburuan yang tidak proporsional harus dihindarkan agar keutuhan rumah tangga tetap terjaga. [ ]

 

 

Sumber: dikutip dari buku “ Mengapa Menunda Nikah ?“ karya Dr.Aam Amiruddin, M.Si

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

731

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

(Visited 624 times, 7 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment