Hukum Tukar Menukar Kado Dalam Islam, Benarkah Dilarang Karena Bentuk dan Nilainya Tidak Sama ?

Assalamu’alaykum.Pak Aam, sebulan sekali saya dan teman-teman suka bertemu/silaturrahmi. Dalam acara itu biasanya kita ada kegiatan tukar kado. Namun ada yang bilang batanya, tukar menukar kado itu dilarang karena ada unsur menipu. Alasannya karena ada barang yang diberikan dan yang diterima tidak sama.  Benarkah demikian ? Mohon penjelasannya. ( Sari via fb )

 

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Dalam ajaran Islam kegiatan silaturrahim atau silaturrahmi adalah perbuatan yang mulia dan sangat dianjurkan Allah dan Rasul-Nya. Dalam Al Quran dapat kita simak perintah Allah terkait menjalin silaturrahmi ini,

 

(1). وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

 

“…..Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan peliharalah hubungan kekeluargaan (silaturahmi). Sesungguhnya, Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” ( QS.An Nisa:1 )

 

 

Dan masih banyak ayat yang memerintahkan kepada kita tentang pentingnya silaturrahmi. Kemudian dalam hadits kita bisa simak dari Abu Ayyûb al-Anshari yang cukup panjang tentang silaturahmi,

 

 

Bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang bisa memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh dia telah diberi taufik,” atau “Sungguh telah diberi hidayah, apa tadi yang engkau katakan?” Lalu orang itupun mengulangi perkataannya. Setelah itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, menegakkan shalat, membayar zakat, dan engkau menyambung silaturahmi”. Setelah orang itu pergi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika dia melaksanakan apa yang aku perintahkan tadi, pastilah dia masuk surga”. ( HR.Bukhari dan Muslim )

 

 

Ini lah pentingnya dan utamanya kita menjaga hubungan kekeluargaan atau silaturrahmi kepada saudara atau sesama muslim. Jadi tentu apa yang Anda lakukan bersama teman-teman tersebut adalah kegiatan mulia.

 

 

Kemudian dalam acara silaturrahmi tersebut ada kegiatan saling memberi hadiah atau kado, tentu ini juga hal yang baik dan mulia. Sebab dalam sebuah hadits  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

تَهَادُوا تَحَابُّوا

 

Hendaklah kalian saling memberi hadiah, Niscaya kalian akan saling mencintai“.(HR.Bukhari )

 

Jadi, tukar kado tidak perlu dipermasalahkan karena hal tersebut dianjurkan Rasulullah Saw. Kegiatan tukar kado tidak mengandung unsur penipuan. Utamanya niatnya harus ikhlas dan menyenangkan saudara.

 

 

Misalnya, saya memberi kado jam tangan dan Anda memberi kado tempat tisu.Maka, saya mendapat tempat tisu sementara Anda mendapat jam tangan.Saya memberi kado tersebut secara ikhlas, begitu juga dengan Anda atau saya menerimanya juga harus ikhlas.

 

 

Sebenarnya, tidak ada unsur gharar atau penipuan dalam tukar kado itu tersebut. Tentu saja tukar kado yang tidak boleh itu adalah adanya niat untuk menipu. Misalnya sengaja ada kado yang isinya kosong. Tentu ini akan menyakitkan atau tidak mengenakkan hati yang mendapatkannya.

 

 

Tetapi kalau acara tukar kado kemudian semua dapat, meski kadang tidak sesuai yang kita inginkan, tentu tidak ada unsure menipu, boleh-boleh saja. Kegiatan atau acara tukar hadiah/kado tentu bertujuan untuk menguatkan silaturahmi dan kecintaan sesama manusia.  Tukar hadiah bsa dilakukan dengan saling memberikan barang atau bahkan saling mendoakan kepada sesama manusia karena mendoakan seseorang juga termasuk memberikan hadiah.

 

 

Tentu yang harus dijaga atau diingat adalah niat dan sikap kita baik saat memberi maupun saat menerima kado dari orang lain harus ikhlas. Jangan sampai karena kita tidak menginginkan  lalu dapat kado dari teman kemudian kita malah menyakiti perasaan teman tersebut. Misalnya dengan mengatakan, “Barang jelek diberikan, atau Barang begini diberikan” dan sebagainya, yang intinya dapat menyakiti sang pemberi. Ini tidak boleh.

 

 

Kita harus berbaik sangkat kepada teman, siapa tahu barang tersebut justru barang kesayangannya. Tentu niat sang pemberi adalah agar yang menerima dapat senang hatinya. Jadi sekali lagi kita harus jaga niat baik saat memberi atau pun menerima kado. Sebab, Rasul pernah memberikan nasihat dalam haditsnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

 

يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ

 

Wahai kaum muslimah, janganlah sekali-kali seorang wanita meremehkan pemberian tetangganya walaupun hanya ujung kaki kambing.” (HR.Bukhari Muslim)

 

 

Meski hadits tersebut redaksi bagi kaum wanita/muslimah namun intinya untuk semua muslim. Intinya ada anjuran untuk tidak menolak saat diberikan hadiah karena bisa jadi akan menyakiti hati orang yang memberikan hadiah. Terima saja hadiah tersebut, jika kita tidak berkehendak kita bisa memberikan kepada yang lebih membutuhkan. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

 

4

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

981

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 522 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment