Sholat Jamak Karena Pekerjaan, Boleh atau Terlarang ?

Assalamu’alaykum. Pak Aam, saat ini saya bekerja di Jepang. Di perusahaan ini, saya tidak bisa melaksanakan shalat  Dzuhur, karena jam istirahatnya santa pendek. Jadi, saya kerjakan shalat  Dzuhur dan Ashar  atau dijamak setelah pulang kerja. Bagaimana hukumnya? Apakah boleh saya melakukan seperti itu dalam jangka waktu beberapa tahun, karena saya dikontrak? Mohon penjelasannya. ( Norman via fb )

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Perlu diketahui dan pahami bahwa dalam ibadah khususnya shalat para ulama fikih sepakat bahwa sholat lima waktu harus dikerjakan pada waktunya. Hal ini dengan merujuk pada dalil dimana Allah Swt berfirman ,

 

 

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

 

Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu/wajib yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. [ QS. An Nisa’ (4) : 103]

 

 

Ini adalah prinsip utamanya, sehingga dipahami bahwa shalat Subuh dikerjakan di waktu Subuh, shalat Dhuhur dikerjakan di waktu Dhuhur dan seterusnya. Namun dalam kaidah fikih juga  ada kaidah yang disebut dengan Adh-Dharurat Tubihu Al-Mahzhurat, artinya “dalam kondisi darurat, hal-hal yang terlarang dibolehkan”.

 

 

Maksudnya dalam keadaaan seperti darurat seperti yang Anda alami misalnya, maka menjamak shalat boleh dilakukan. Atau misalnya, jika Anda pulang kerja sebelum Maghrib karena naik kendaraan umum dan tidak memungkin shalat Maghrib sementara sampai rumah sudah waktu Isya maka Anda bisa melaksanakan shalat jamak Maghrib dan Isya di waktu Isya, maka lakukan saja. Prinsipnya adalah seperti sabda Nabi Saw. berikut.

 

 

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

 

Amalan yang paling dicintai oleh Allah Taala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit. (HR Muslim)

 

Jadi, yangg perlu ditekankan adalah komitmen kita untuk mengamalkan apa-apa yang Allah perintahkan kepada kita. Lakukanlah apa yang Allah perintahkan sesuai dengan kemampuan kita. Jika saat ini Anda bekerja di negeri oranng dimana perusahaannya tidak memperhatikan urusan keyakinan karyawannya khususnya yang muslim untuk ibadah diwaktu-waktu yang telah ditentukan mak Anda lakukan sesuai kemampuan. Ingatlah firman Allah berikut ini.

 

(286)….لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ

 

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya……”. (QS Al-Baqarah: 286)

 

 

Dalam Islam, ada beberapa keringanan atau rukhshah yang berkaitan dengan ibadah atau selain itu, di antaranya:

 

Takhfif isqat, yaitu meringankan hukum dengan cara menggugurkannya. Contoh kasusnya adalah seperti berikut.Ibadah haji itu wajib dilaksanakan bagi yg mampu. Ada seseorang yg ingin berhaji dan sudah bayar ONH-nya, tetapi dia tidak dapat pergi ke tanah suci karena kondisi fisiknya sudah tidak memungkinkan untuk bepergian jauh salah satunya alasan kehatan atau sakit sehingga dokter menyarankan untuk tidak berangkat haji. Hal tersebut dapat menggugurkan kewajiban orang itu sehingga insyaallah dia mendapat pahala haji meskipun tidak kesampaian berhaji karena sakit.

 

 

Takhfif tabdil, yaitu meringankan hukum dengan cara mengubahnya. Contohnya adalah ketika kita ingin shalat, kita harus berwudhu terlebih dahulu.Namun, ketika Anda sakit atau tidak mendapatkan air untuk wudhu maka, Anda bisa bertayamum.Begitu juga dengan mandi besar setelah menstruasi. Jika setelah selesai menstruasi seorang wanita jatuh sakit atau tidak mendapatkan air, maka boleh bertayamum.

 

 

Takhfif tarkhis, yaitu meringankan hukum dengan cara membolehkan sesuatu yang terlarang. Contohnya adalah kita dilarang menggabungkan shalat wajib dalam satu waktu.Namun, karena ada hal tertentu seperti yang Anda alami ini, ketika Anda hanya bisa melakukan shalat-shalat wajib dalam satu waktu, hal tersebut boleh Anda lakukan.

 

 

Contoh lainnya adalah larangan menggugurkan kandungan (aborsi).Namun, aborsi boleh dilakukan dengan alasan medis. Misalnya, jika wanita yang hamil tidak segera menggugurkan kandungannya akan mencelakakan janin maupun ibunya. Namun karena pertimbangan medis maka hal tersebut boleh dilakukan. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.

 

 

Nah, terkait pembahasan bab shalat ini lebih detail berikut dalilnya, Anda, bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian bisa membaca buku saya yang berjudul “SUDAH BENARKAH SHALATKU?“. Didalamnya ada pembahasan bab praktik shalat berikut contoh-contohnya. Wallahu’alam bishawab. [ ]

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

937

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 329 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment