Shalat Ma’rifatullah, Apakah Dicontohkan Rasul ?

Assalamu’alaykum. Pak Aam, ada seorang teman bercerita bahwa ibadah yang dia lakukan sudah berada pada level makrifat  sehingga dia melewatkan waktu shalat  Dzuhur dan Asar, bahkan meski badannya ada disini namun katanya dia bisa shalat di Mekkah (depan Kabah). Apakah benar seperti itu?. Mohon penjelasannya. (Ridwan via fb )

 

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah.  Contoh teladan kita adalah Rasulullah Saw. Hal ini langsung seperti yang difirmankan Allah Swt pada ayat berikut.

 

(21).لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

 

 

Sungguh, pada diri Rasulullah itu ada suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan yakin akan kedatangan hari Kiamat serta banyak mengingat Allah.”  (QS. Al-Ahzab: 21)

 

 

Teladan atau contoh dalam hal apa? Tentu saja teladan atau contoh dalam segala hal kehidupan,cara makan, minum, mendidikan anak, menjadi suami dan sebagainya termasuk dalam hal ibadah harus mencontoh kepada yang telah Rasul contohkan atau ajarkan kepada para sahabat dan umatnya.

 

Jadi keteladanan Rasulullah itu tidak hanya mencakup akhlak, tetapi juga termasuk perkara ibadah khususnya dalam hal ini adalah shalat. Coba kita perhatikan seperti sabda Rasulullah saw berikut.

 

 

Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku mengerjakan shalat.” (HR. Bukhari).

 

 

Berdasarkan hadis di atas, Rasulullah Saw menyuruh umat muslim untuk mendirikan shalat sesuai contoh dari beliau lakukan. Sekalipun ada muslim yg mengklaim dirinya sudah mencapai tingkat makrifat. Siapakah yang paling makrifat? Jelaslah Rasulullah Saw. berada pada level makrifat yang paling tinggi.

 

 

Namun meski pun beliau mencapai level makrifat, tetapi tetap saja Rasulullah melaksanakan salat  khususnya yang lima waktu secara fisik. Jadi, ketika ada muslim baik teman, saudara bahkan yang mengaku ustadz atau ajengan yang mengklaim bahwa dirinya sudah mencapai tingkat makrifat dan tidak perlu melaksanakan ibadah terutama shalat dan hanya cukuplah ingat kepada allah, bahwasannya yang demikian itu termasuk kesesatan. Tidak perlu diikuti dan dicontoh.

 

 

Hendaknya semakin saleh seseorang maka semakin dekatlah ia kepada Allah dengan ibadah. Komitmennya semakin kuat dan semakin taat kepada Allah, bukan malah sebaliknya tidak perlu ibadah. Bandingkan dengan ibadah Rasulullah yang sering diceritakan bahwa  bengkaknya kaki Nabi Muhammad saw. akibat semangatnya beliau melaksanakan shalat dan ibadah tersebut diceritakan oleh sahabat Mughirah bin Syu’bah r.a. sebagai berikut.

 

 

عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- صَلَّى حَتَّى انْتَفَخَتْ قَدَمَاهُ فَقِيلَ لَهُ أَتَكَلَّفُ هَذَا وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ « أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا ». رواه مسلم.

 

Dari Mughirah bin Syu’bah, bahwasannya Nabi saw. melaksanakan shalat hingga kedua mata kakinya bengkak. Lalu dikatakan kepadanya, “Mengapa engkau membebani dirimu, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang?” Beliau menjawab, “Bukankah seharusnya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?.” (HR. Muslim).

 

 

Kemudian dalam riwayat yang lain dimana istri beliau yakni Aisyah r.a. pun pernah menyaksikan kejadian yang sama, Nabi saw. shalat hingga bengkak kedua kakinya.

 

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا صَلَّى قَامَ حَتَّى تَفَطَّرَ رِجْلاَهُ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَصْنَعُ هَذَا وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ « يَا عَائِشَةُ أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا ». رواه مسلم.

 

Aisyah r.a. berkata, Rasulullah Saw. ketika melaksanakan shalat maka beliau berdiri hingga kedua kakinya bengkak. Aisyah r.a. bertanya, “Wahai Rasulullah, Apa yang engkau perbuat, sedangkan dosamu yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni.” Lalu beliau menjawab, “Wahai Aisyah, bukankah seharusnya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?”. (HR.Muslim).

 

 

Ini menjadi gambaran betapa Rasul saja yang sudah dijamin masuk surga, diampuni segala dosanya namun dalam ibadah shalat, beliau begitu khusyuknya.

 

 

Untuk itu hendaknya seorang muslim itu lebih giat lagi dalam ibadah dan usahakan shalat diawal waktu. Dimana dalam haditsnya Abdullah ibn Mas’ud bertanya kepada Rasulullah tentang amal yang paling utama.”Mengerjakan shalat pada awal waktu,” jawab Rasulullah. “Apa lagi?” tanya Ibn Mas’ud kembali. “Berbakti kepada orangtua,” jawab Rasulullah. “Lalu, apa?” Ibn Mas’ud bertanya lagi.Rasulullah menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ibn Mas’ud mengatakan, seandainya ia bertanya lagi, niscaya Rasulullah juga akan menjawab (HR. Bukhari).

 

 

Lazimnya, seorang muslim yang sudah mencapai makrifat maka ia harus semakin dekat dengan Alla. Tentu saja mendirikan salat di awal waktu, melakukannya dengan khusyuk dan tertib, bukan malah meninggalkan shalat.

 

 

Jadi apa yang dilakukan oleh orang-orang yang mengklaim sudah mencapai makrifat sebenarnya berkebalikan dengan apa yg dilakukan Rasulullah saw. Beliau adalah contoh terbaik orang yang sudah mencapai level makrifat dalam hal ubudiyah (peribadatan kepada Allah) namun beliau tetap melaksanakan shalat sekalipun dalam keadaan genting, misalnya perang.Bahkan dalam keadaan genting inilah Rasulullah mengajarkan salat khauf kepada para sahabatnya.

 

 

Demikian juga dengan shalat-shalat malamnya yang tidak pernah terlewatkan hingga akhirnya hayatnya. Ini menjadi bukti dan teladan bahwa semakin kita dekat kepada Allah maka hendaknya semakin giat dalam ibadah dan taat kepada-Nya.

 

 

Jadai lebih baik Anda tidak perlu menghiraukan orang-orang yang mengklaim dirinya sudah mencapai makrifat kepada Allah tetapi tidak mau menjalankan ibadah karena mereka berada dalam kesesatan.Sekali pun mereka ini mengaku ustadz,kyai, ajengan dan sebagainya maka tidak perlu diikuti. Sejatinya mereka inilah yang disebut sebagai orang yang seolah-olah suci padahal sesat. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.

 

Nah, terkait pembahasan bab shalat ini lebih detail berikut dalilnya, Anda, bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian bisa membaca buku saya yang berjudul “SUDAH BENARKAH SHALATKU?“. Didalamnya ada pembahasan bab praktik shalat berikut contoh-contohnya. Wallahu’alam bishawab. [ ]

 

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

914

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 322 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment