12 Amalan Tanggal 1 Muharram, Mana Yang Dicontohkan Rasul ?

Assalamu’alaykum. Pak Aam, mohon di jelaskan saya mendapat broadcast (BC) tentang amalan di bulan Muharram atau 12 amalan tanggal 1 Muharram, agar kita melakukan amalan seperti: puasa,muhasabah dan shalat tengah malam,menyambung silaturrahmi,ziarah kepada orang alim,menjenguk orang sakit,bercelak mata,mengusap kepala anak yatim,sedekah,mandi besar,menambah nafkah keluarga,memotong kuku,dan membaca surat Al Ikhlas hingga 1000 kali. Apakah ini ada dalilnya? Mohon penjelasannya ( K via fb )

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah.Dalam masyarakat muslim khususnya yang ada di Indonesia momen 1 Muharram atau biasa juga disebut sebagai Tahun Baru Islam sering diperingati dengan berbagai acara. Demikian juga dengan amalan-amalan yang dikaitkan dengan ajaran Islam,seperti yang Anda sebutkan tadi.

Namun demikian apakah hal ini sesuai dengan sunnah atau yang Rasul contohkan atau ada dalilnya? Mari coba kita kupas satu persatu dengan merujuk pada Al Quran maupun hadits Rasul.

 

  1. Puasa pada 1 Muharram

Amalan ini tidak ada dalilnya dan tidak dicontohkan oleh Rasul maupun generasi sahabat bahkan para ulama. Puasa sunnah di bulan Muharram yang dicontohkan Rasul adalah puasa Asyura yang jatuh pada 10 Muharram. Hal ini seperti pesan Rasul dalam hadits dari sahabat Abu Hurairah ra.

Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di Bulan Allah yaitu Muharram. Sedangkan salat yang paling utama setelah salat fardhu adalah shalat malam. “ ( HR.Muslim )

Sementara keutamaan puasa Asyura ini seperti yang disampaikan Rasul dalam haditsnya,

 

“ Puasa ‘Asyura aku memohon kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR.Muslim )

Kemudian selain puasa Asyura yang jatuh tanggal 10 Muharram, kita juga disunnahkan puasa Tasu’a yang jatuh  tanggal 9 Muharram. Dinamakan demikian, diturunkan dari kata tis’ah [Arab: تسعة] yang artinya sembilan. Pada tanggal 9 Muharram ini kita dianjurkan puasa, mengiringi puasa Asyura di tanggal 10 Muharram besok harinya. Agar puasa kita tidak menyamai puasa yang dilakukan Yahudi, yaitu pada tanggal 10 Muharram saja.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa Asyura dan beliau perintahkan para sahabat untuk melakukan puasa di hari itu, ada beberapa sahabat yang melaporkan:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya tanggal 10 Muharram itu, hari yang diagungkan orang Yahudi dan Nasrani.”

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

Jika datang tahun depan, insyaaAllah kita akan puasa tanggal 9 (Muharram).”

Ibnu Abbas melanjutkan, “Namun belum sampai menjumpai Muharam tahun depan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah wafat.” (HR. Muslim 1916).

Dari riwayat di atas, bisa kita ambil pelejaran, bahwa tujuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa Tasu’a adalah untuk menunjukkan sikap yang berbeda dengan orang Yahudi. Karena beliau sangat antusias untuk memboikot semua perilaku mereka.

Kemudian Allah Swt berkehendak hingga Rasulullah Saw belum sempat melaksanakan puasa Tasu’a karena beliau wafat di bulan Rabiul Awal. Namun puasa Tasu’a ini sudah beliau rencanakan atau cita-cita jika usianya hingga bulan Muharram. Sebagian ulama menyebut ibadah semacam ini dengan istilah sunah hammiyah yakni sunah yang baru dicita-citakan, namun belum terealisasikan sampai beliau meninggal. Meski demikian para ulama sepakat bahwa ibadah demikian boleh dilakukan sebab sudah ada anjuran atau keinginan dari Rasul meski Rasul sendiri tidak atau belum sempat melaksanakan.

Jadi puasa pada tanggal 1 Muharram itu tidak ada contoh dari Rasul, yang disunnahkan adalah puasa Tasu’a pada tanggal 9 Muharram dan puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram.

 

  1. Muhasabah dan shalat tengah malam 1 Muharram

Perintah agar setiap diri melakukan muhasabah atau introspeksi diri ada dalam Al Quran sebagaimana yang diperintahkan Allah Swt dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18).

Ayat ini menganjurkan agar kita senantiasa melakukan muhasabah atau menghisab diri atas apa yang telah kita siapkan yakni untuk hari esok atau bekal untuk kehidupan akhirat. Kita diperintahkan untuk senantiasa beramal shalih sebagai bekal setelah meninggalkan dunia ini.

Namun melakukan muhasabah atau mengkhususkan muhasabah pada tanggal 1 Muharram tidak ada dalilnya dan tida ada contoh dari Rasul. Muhasabah itu bisa dilakukan kapan saja bahkan setiap hari bisa melakukan muhasabah sehingga amal hari ini harus lebih baik dari hari kemarin.

 

 

  1. Menyambungkan silaturrahim

Melakukan silaturrahim atau silaturahmi adalah salah satu akhlak mulia bagi seorang muslim. Anjuran untuk menyambungkan silaturrahmi memang ada, seperti dalam Al Quran dimana Allah Swt berfirman,

“……Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ( QS.An Nisa: 1)

 

Bahkan Rasulullah memberikan perinngatan keras bagi orang yang memutus silaturrahim. Ancamannya tidak main-main, bahkan ia tidak akan masuk surga karena memutus silaturrahim. Perhatikan haditsnya,

لا يدخلُ الجنةَ قاطعُ رحمٍ

Tidak masuk surga orang yang memutus silaturahmi” (HR. Bukhari – Muslim).

 

Namun yang perlu dikritisi adalah mengkhususkan silaturrahim hanya pada tanggal 1 Muharram saja, ini tidak ada dalilnya. Silaturrahim bisa dilakukan kapan saja bukan khusus 1 Muharram.

 

 

  1. Ziarah kepada orang alim

Menghormati orang-orang yang berilmu (alim) diharapkan mendapatkan keberkahan ilmu yang dimilikinya khususnya ilmu agama atau akhirat . Allah akan angkat derajat yang berilmu dan beriman. Ilmu apa?  Ilmu sama saja namun ia juga beriman.

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (QS. Al Mujadilah : 11).

Namun yang perlu dikritisi adalah menghormati orang alim hanya di tanggal 1 Muharram saja. Ini tidak ada dalil atau contoh dari Rasul. Ziarah atau menghormati atau mencari ilmu bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja, tidak harus khusus di tanggal 1 Muharram.

 

  1. Menjenguk orang sakit

Sesungguh sesama muslim itu bersaudara maka laksana satu tubuh, dimana ketika ada bagian tubuh yang sakit maka sakitlah seluruh tubuh. Salah satu kewajiban sesama muslim adalah saling mendoakan dan menjenguk ketika sakit. Keutamaan menjenguk saudara muslim atau orang yang sakit seperti yang disabdakan Rasul dalam haditsnya,

إِذَا عَادَ الرَّجُلُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ مَشَى فِيْ خِرَافَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسَ فَإِذَا جَلَسَ غَمَرَتْهُ الرَّحْمَةُ، فَإِنْ كَانَ غُدْوَةً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ كَانَ مَسَاءً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ.

Apabila seseorang menjenguk saudaranya Чαπƍ muslim (yang sedang sakit), maka (seakan-akan) dia berjalan sambil memetik buah-buahan Surga sehingga dia duduk, apabila sudah duduk maka diturunkan kepadanya rahmat dengan deras. Apabila menjenguknya di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar mendapat rahmat hingga waktu sore tiba. Apabila menjenguknya di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar diberi rahmat hingga waktu pagi tiba.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad dengan sanad shahih).

Maka dari itu tidak harus menunggu atau mengkhususkan tanggal 1 Muharram untuk menjenguk saudara yang sedang sakit. Lakukan kapan saja, ketika mendengar atau mengetahui ada saudara atau teman, tetangga yang sakit maka segera jenguk dan doakan. Jadi mengkhususkan menjenguk orang yang sakit pada tanggal 1 Muharram itu tidak ada dalilnya.

 

  1. Bercelak mata

Demikian juga tindakan atau aktivitas mencelak atau menghias alis mata ini sama sekali tidak ada dalilnya. Tidak ada contoh dari Rasul maupun dari sahabat bahwa tanggal 1 Muharram disunnahkan mencelak mata.

 

  1. Mengusap kepala anak yatim

Kita diperintahkan untuk menyantuni,menyayangi bahkan kalau mampu memelihara anak yatim. Nabi sangat menyayangi anak yatim, bahkan jarak atau kedudukan beliau dan orang-orang yang menyayangi anak yatim kelak disurga digambarkan sangat dekat. Dalam haditsnya disebutkan,

عَنْ سَهْلِ بَْنِ سَعْدٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم : أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَ، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئاً

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya.”(HR.Bukhari )

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan dan pahala orang yang meyantuni anak yatim. Kemudian tentang hati yang lembut dengan mengusap kepada anak yatim ada dalam haditsnya,

 

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲْ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺃَﻥَّ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﺷَﻜَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺴْﻮَﺓَ ﻗَﻠْﺒِﻪِ، ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻪُ: ﺇِﻥْ ﺃَﺭَﺩْﺕَ ﺗَﻠْﻴِﻴْﻦَ ﻗَﻠْﺒِﻚَ ﻓَﺄَﻃْﻌِﻢِ ﺍﻟْﻤِﺴْﻜِﻴْﻦَ ﻭَﺍﻣْﺴَﺢْ ﺭَﺃْﺱَ ﺍﻟْﻴَﺘِﻴْﻢِ

 

Dari Abu Hurairah, bahwasanya ada seseorang yang mengeluhkan kerasnya hati kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau berkata kepadanya: “Jika engkau ingin melembutkan hatimu, maka berilah makan kepada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR.Ahmad )

Tetepi tidak ada dalil khusus bahwa menyayangi atau mengusapa kepada anak yatim itu hanya dilakukan di tanggal 1 Muharram. Untuk lakukan kapan saja dan tidak menunggu tanggal 1 Muharram.

 

  1. Sedekah

Demikian juga dengan sedekah bahwa Allah dan Rasul sangat dianjurkan. Ada banyak ayat atau pun hadits tentang perintah dan keutamaan sedekah ini, misalnya,

Dan berinfaklah kamu (bersedekah atau nafakah) di jalan Allah dan janganlah kamu mencampakkan diri kamu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah kerana sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik“. (QS.Al Baqarah : 195 )

Tetapi tidak harus khusus tanggal 1 Muharram. Anda bisa melakan sedekah kapan saja. Jika kita seorang karyawan maka boleh melakukan sedekah setiap kali gajian atau tidak harus menunggu gajian. Begitu ada rezeki maka bisa langsung sedekah. Jadi sekali lagi tidak ada dalil tentang sedekah khusus di tanggal 1 Muharram.

 

  1. Mandi besar

Islam sangat mencintai kebersihan. Salah satu syarat ibadah khsususnya shalat adalah bersih dari hadats kecil dan besar. Untuk membersihkan hadats kecil dengan berwudhu sementara untuk hadats besar harus dengan mandi besar atau mandi wajib.

Ada momen atau hari tertentu yang diperintahkan untuk mandi besar seperu hari Jumat, hari Raya ( idul fitri dan idul adha),ketika hendak ihram, selesai haid,nifas, juga setelah melakukan hubungan suami istri.

Banyak hadits yang di dalamnya menganjurkan mandi pada hari Jum’ah dan dua hari raya. Sebagaimana dalam Bukhori, 879 dan Muslim, 846 dari Hadits Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu sesungguhnya Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 

غُسْلُ يَوْمِ الجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ

Mandi pada hari Jum’ah itu wajib bagi setiap orang yang telah bermimpi (baligh)”.

 

Tetapi tidak ada dalilnya bahwa khusus tanggal 1 Muharram di wajibkan bahkan disunnahkan untuk mandi besar. Anda boleh mandi besar pada hal-hal yang disebutkan tadi. Sekali lagi tidak ada dalil bahwa tanggal 1 Muharram harus mandi besar.

 

10. Menambah nafkah keluarga

Demikian juga tidak ada dalilnya bahwa tanggal 1 Muharram seorang suami harus menambah nafkah kepada istri atau keluarganya. Kalau ada rezeki maka bisa dilakukan bisa kapan saja, misalnya suami Anda ada bonus atau kenaikan gaji maka nafkah keluarga yang biasanya Rp.5 juta bisa ditambah dengan menjadi Rp. 7 juta atau lebih. Demikian juga kalau ada rezeki atau bonus yang lainnya.

 

  1. Membersihkan / memotong kuku

Ini juga tidak ada dalilnya bahwa tanggal 1 Muharram harus memotong kuku. Anda boleh memotong atau merapikan kuku kapan saja. Namun ada dalil memotong kuku itu kalau mau berihram baik ketika umroh atau haji. Jadi sekali lagi tidak ada dalil atau contoh Rasul bahwa tanggal 1 Muharram itu harus memotong kuku.

 

  1. Membaca surat Al Ikhlas 1.000 kali

Allah Swt menurunkan Al Quran kepada manusia khususnya orang-orang yang beriman itu sebagai pedoman dan petunjuk hidup di dunia. Membaca Al Quran ada perintah dan dalilnya, seperti firman Allah,

وَرَتِّلِ الْقُرْءَانَ تَرْتِيلا

“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil”. (QS. Al-Muzammil: 4)

 

Ada banyak ayat maupun hadits tentang perintah membaca Al Quran, mempelajari dan mengamalkannya. Demikian juga dengan keutamaan membaca Al Quran. Namun khusus untuk tanggal 1 Muharram dengan membaca Surat Al Ikhlas hingga 1000 kali ini tidak ada dalilnya. Kita bisa membaca Al Quran termasuk Surat Al Ikhlas itu kapan saja dan dimana saja, tidak harus apalagi khusus tanggal 1 Muharram. Jelas ini tidak ada dalil dan contoh dari Rasul.

Jadi perlu dipahami bahwa amal itu harus ada ilmu atau dalilnya dan ada contoh dari Rasul. Dalam hal ini kita berpedoman atau merujuk pada hadits dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami (Rasul), maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim )

Ini hendaknya menjadi pegangan atau pedoman dalam kita beramal. Jangan beramal yang dinisbatkan ajaran Islam namun tidak ada contoh dari Rasulullah Saw atau tidak ada dalilnya. Demikian penjelasannya khususnya terkait dengan amal-amalan pada tanggal 1 Muharram, semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

5

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

851

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 1,106 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment