Awal-Awal Pernikahan, Ini Adaptasi Yang Perlu Dilakukan Suami Istri

PERCIKANIMAN.ID – – Pada hakikatnya hidup bersama dalam bingkai keluarga sebagai suami istri bukan hanya menghimpun dua jenis manusia yang berbeda yang berlawanan jenis kelamin, namun juga dua hati, dua perasaan, dua jiwa bahkan dua keinginan dan harapan yang berbeda. Untuk itu diperlukannya sebuah proses penyesuaian diri (adaptasi) harus terus diusahakan untuk meminimalisir dampak adanya perbedaan tersebut. Ada sejumlah usaha adaptasi pernikahan yang biasanya dilakukan oleh pasangan suami istri:

 

  1. Mendiskusikan cita-cita atau harapan.

 

Baik suami atau istri pastinya mempunyai harapan atau cita-cita dalam kehidupan setelah berkeluarga. Masing-masing dari suami dan istri tentu memiliki sejumlah ekspektasi dan harapan dalam kehidupan pernikahan yang telah dijalaninya. Mereka memiliki gambaran ideal tentang pasangan dan kehidupan keluarga, yang perlu ditemukan dan diambil kesepakatan bersama.

 

 

Meski sebelum menikah sudah ada gambaran tentang keinginan atau cita-cita yang pernah diungkapkan masing-masing namun ada baiknya hal itu didiskusikan kembali. Hal ini diperlukan agar suami istri kembali teringat dan komitmen untuk mewujudkan impian bersama sebelumnya setelah menikah.

 

  1. Saling memberikan dukungan emosional.

 

Biasanya sebelum menikah masing-masing akan sangat menjaga luapan emosinya. Namun setelah menikah masing-masing pasangan akan secara tidak sadar menunjukkan emosi aslinya. Jika ini terjadi maka masing-masing pasangan harus memahami lebih dulu sebelum menyalahkan.

 

Hal ini perlu didialogkan agar bisa dimengerti oleh pasangannya. Apabila dukungan emosional dan curahan kasih sayang sesuai dengan keinginan pasangan, pasti akan memberikan nilai kepuasan yang sangat tinggi dalam kehidupan berumah tangga mereka.

 

  1. Menyesuaikan kebiasaan pribadi dengan pasangan.

 

Sebelum menikah, biasanya masing-masing pasangan merasa mempunyai banyak persamaan atau kecocokan,misalnya makanan, hobby, atau kegemaran lainnya. Namun setelah menikah akan terasa bahwa perbedaan justru sepertinya lebih banyak terlihat dari pada persamaannya. Demikian juga awalnya, suami dan istri tumbuh dari pembiasaan keluarga serta lingkungan yang berbeda, sebelum mereka menikah. Mereka memiliki kebiasaan pribadi yang khas sesuai dengan pembawaan karakter serta kebiasaan yang didapatkan dari keluarga masing-masing. Setelah menikah, harus ada upaya adaptasi untuk menyesuaikan dua kebiasaan yang berbeda tersebut.

 

  1. Pembagian peran dan tanggung jawab suami istri

 

Sesuai dengan syariat bahwa suami dan istri mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda. Pada intinya hak istri adalah kewajiban suami, demikian sebaliknya. Namun ada peran dan tanggung jawab teknis yang tidak diatur dengan detail dalam syariah agama, maka harus didiskusikan berdua agar mencapai kesepahaman tentang peran yang mampu merefleksikan kepribadian, keterampilan, minat dan kebutuhan pribadi.

 

 

  1. Penyesuaian antara aktivitas, karir dan keluarga

 

Bisa jadi sebelum menikah suami dan istri mempunyai aktivitas dan  pekerjaan yang sama dan setekah menikah sudah ada kesepakatan untuk mengurangi bahkan berhenti sama sekali. Namun ada baiknya suami dan istri kembali harus menyepakati bersama hal yang terkait dengan kesibukan masing-masing, terutama yang di luar rumah. Hal ini menyangkut aktivitas pekerjaan, organisasi, karir, bisnis, hobi dan lain sebagainya, agar bisa diseimbangkan dengan peran mendidik anak serta mengurus keluarga. Jika suami dan istri sama-sama sibuk, harus ada format penyesuaian dan kesepakatan agar semua bisa berjalan dengan baik tanpa ada yang terabaikan.

 

  1. Mengembangkan keterampilan komunikasi

 

Pola, gaya dan corak komunikasi setiap orang tidaklah sama, karena pengaruh kebiasaan dan kulturnya. Untuk itu suami dan istri harus berusaha beradaptasi dalam kemampuan berkomunikasi, kemampuan berbagi ide, dan perasaan persahabatan yang lekat satu sama lain, ketrampilan mengutarakan masalahyang dihadapi, berbagi suka dan duka, membangun aturan berkomunikasi, dan belajar bagaimana menegosiasikan perbedaan untuk memperkuat jalinan pernikahan.

 

  1. Mengatur masalah keuangan dan anggaran keluarga

 

Diawal pernikahan semuanya akan terasa menyenangkan dan bahagia adanya, bahkan termasuk masalah keuangan karena adanya “prinsip” harta bersama sehingga bisa jadi masing-masing akan “rela” mengeluarkan tabungannya yang dikumpulkan sebelum menikah. Apalagi jika belum mempunyai atau belum lahir anak.

Namun demikian hal ini tidak boleh berlarut. Persoalan keuangan perlu mendapatkan porsi tersendiri dalam usaha adaptasi suami istri. Hal ini menyangkut persoalan yang sensitif, maka harus berhati-hati dalam membicarakannya. Bagaimana pola keuangan dan anggaran keluarga yang paling nyaman dan paling tepat bagi mereka berdua, harus ditemukan format kesepakatannya. Hal ini bisa berbeda-beda antara keluarga yang satu dengan yang lain.

 

  1. Membangun dan mengatur pola hubungan dengan keluarga besar

 

Pernikahan bukan saja urusan dua individu, lelaki dan perempuan. Namun juga menyangkut dua keluarga besar yang harus didekatkan. Perlakuan kepada pihak keluarga besar suami dan pihak keluarga besar istri bisa menjadi persoalan apabila tidak ada pola yang disepakati bersama. Keseimbangan dan keadilan dalam memberikan perhatian dan hubungan kepada kedua belah keluarga besar tersebut menjadi bagian tersendiri untuk dilakukan penyesuaian.

 

  1. Berpartisipasi dalam masyarakat

 

Ada beberapa pasangan suami istri yang masih serumah dengan orangtua (mertua) meski telah memiki anak sehingga ada anggapan mereka belum menjadi kepala rumah tangga. Apa pun yang berhubungan lingkungan atau warga masyarakat masih menjadi urusan orangtua. Namun hal ini sebaiknya tidak boleh terjadi.

 

Pada hakikatnya setelah menikah, suami dan istri menjadi keluarga mandiri yang hidup di tengah masyarakat. Mereka memiliki tetangga dan lingkungan sekitar, dan terikat oleh sejumlah hak serta kewajiban. Maka keduanya harus menentukan pola partisipasi di tengah masyarakat agar bisa berbagi dan saling mengerti tingkat kesibukannya.

 

Hal ini akan semakin komplek jika pasangan suami istri sejak awal menikah sudah betul-betul pindah rumah atau hidup mandiri dan terpisah dengan orangtua. Untuk itu suami istri juga harus mampu beradaptasi dengan lingkungannya sebagai sebuah keluarga yang hidup ditengah-tengah masyarakat.

 

Suami istri hendaknya menyadari sejak awal pernikahan bahwa kini hidup di alam kenyataan bukan di alam angan-angan yang serba penuh keindahan seperti sinetron. Bisa jadi tidak semua angan-angan indah di masa sebelum menikah menjadi kenyataan setelah menikah. Kenyataan inilah yang harus terima dan dijalani suami istri dengan penuh keikhlasan dan kebersamaan serta saling mengisi dan menguatkan sehingga biduk rumah tangga akan sampai juga di dermaga meski ada onak badai dalam perjalanannya. [ ]

 

Sumber: dikutip dari buku “ Membingkai Surga Dalam Rumah Tangga “ karya Dr.H.Aam Amiruddin, M.Si

 

4

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

931

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

(Visited 593 times, 3 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment