Melihat Maglev di Madinah

Oleh: Ir. H. Bambang Pranggono, MBA, IAI*

 

 

PERCIKANIMAN.ID – – Zaman dahulu, manusia menganggap langit seperti atap rumah. Sedangkan atap rumah harus memiliki tiang supaya tidak ambruk. Kitab tafsir klasik membahas bahwa keajaiban ciptaan Allah adalah langit tidak jatuh padahal tidak ditopang oleh tiang. Dalam Al Quran Allah Swt berfirman,

 

(10)………..خَلَقَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا

 

Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu lihat.” (QS. Lukman: 10)

 

 

Sekarang kita tahu bahwa langit itu bukan atap dan gaya gravitasi antara benda-benda langitlah yang saling bekerja mempengaruhi jarak dan alur pergerakan antara mereka. Intinya adalah Al Quran memberi isyarat tentang tiang yang tidak terlihat. Tiang yang tidak nampak itu berfungsi menahan atau menyalurkan gaya.

 

 

(41)……إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا

 

Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya tidak lenyap…….” (QS. Al Fathir: 41).

 

 

Majalah Mawaddah terbitan Garuda Indonesia edisi Nopember 2004 memuat artikel mengenai keanehan suatu daerah di Madinah yang dikenal dengan nama Mantheqa Baida. Letaknya di balik gunung Uhud tempat terjadinya perang sengit antara pasukan Rasulullah saw. dengan kaum kafir Quraisy, kira-kira setengah jam perjalanan dari Masjid Nabawi.

 

 

Seorang wartawan Harian Republika 9 Maret 2004 menyebut daerah itu dengan Alkhlail. Keganjilan terjadi pada 5 km ruas jalan aspal menjelang masuk ke sana. Mobil dengan mesin hidup dan persenelling dinolkan, akan berjalan mundur ke atas tanjakan tanpa menginjak gas, kecepatannya sampai 120 km per jam. Padahal jalanan naik turun menuju perbukitan.

 

 

Pada pertengahan tahun 1995, sebuah pesawat latih jatuh di daerah itu tanpa diketahui sebabnya. Ada tiga teori, (1) Ilusi. Philip Gibbs dari Universitas California Riverside berteori bahwa fenomena Mantheqa Baida ini hanya ilusi, sesatan penglihatan mata. Jalanan di sana yang terlihat seperti menanjak sebenarya menurun, sehingga dalam keadaan mesin mati mobil bisa merambat menggelinding “ke atas”.

 

 

 

Bahkan kalau ada sungai di sana, akan tampak seolah-olah sungai mengalir “ke atas”. (2) Skeptis. Penduduk setempat menganggap kejadian itu biasa-biasa saja. Menurut mereka, toh kita tahu bahwa bumi memang memiliki kekuatan jadzaabah (gravitasi). Justru para pendatanglah yang heboh berkunjung di hari libur.

 

 

 

Para ilmuwan lokal seperti Dr. Abdullah bin Abdulhamid, pengajar di Universitas Islam Madinah mengatakan bahwa fenomena itu tidak perlu dibesar-besarkan. Dia tidak tertarik meneliti lebih lanjut karena takut menjadi musyrik. Lho! (3) Antusias. Gejala di sana cukup aneh.

 

 

 

Mengetahui bahwa mobil bisa bergerak sendiri, tetapi kenyataannya logam lain seperti pisau dan jam tangan tidak tersedot. Dengan semangat ilmu pengetahuan, fenomena tadi cukup menarik untuk diteliti mendalam. Mungkin gunung-gunung batu di sekitar Uhud mengandung sejenis logam dengan karakter magnet tertentu.

 

 

 

Ini adalah fenomena magnetik yang menantang. Negara maju sudah menciptakan kendaraan dengan prinsip Maglev, magnetic-levuahon, daya angkat magnetik. Gerbong-gerbong kereta api terangkat beberapa cm di atas rel oleh daya tolak menolak magnetik dan digeser ke ruas berikutnya oleh pergantian hidup mati kumparan listrik.

 

 

Karena tidak ada gesekan, kereta itu bisa melaju dengan kecepatan sangat tinggi. Kereta api dengan konsep maglev sudah ada di Jepang, Jerman, Perancis, dan kini di Cina. Maglev dengan kecepatan 450 km per jam sudah beroperasi di Shanghai.

 

 

Daya tarik menarik dan tolak menolak antara pemusatan magnet di dalam gunung batu dan konsentrasi logam di mobil itulah yang membuatnya berjalan menanjak sendiri. Atau sebaliknya menahan laju mobil, atau membelokkan arah setir.

 

 

 

Gejala ini sering terjadi di daerah “angker”, di tikungan atau hutan tertentu sehingga sering mengakibatkan kecelakaan. Orang-orang menganggap daerah itu ada “penunggu”-nya, akibatnya mereka  menjadi musyrik dengan memberi sesajen atau melempar rokok.

 

 

 

Ironisnya, ketika orang-orang kafir mengenali kekuatan magnet dan memanfaatkan daya itu untuk kereta api super cepat, sebagian dari kita yang katanya muslim, masih terbenam dalam tahayul.

 

 

 

Fenomena ini sebetulnya harus merangsang ilmuwan muslim untuk meneliti Mantheqa Baida dan setiap daerah angker lain, supaya terbongkar penyebab keanehan-keanehan secara ilmiah, mengubahnya menjadi kekuatan yang bermanfaat dan memberantas kepercayaan khurafat dan musyrik yang menyesatkan. Insya Allah. Wallahu’alam. [ ]

 

 

*Penulis adalah pegiat dakwah,pengajar dan penulis buku

 

4

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi: Wikimedia common

923

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

(Visited 53 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment