Ketika Cinta Pasutri Mulai Rapuh, Ini Jalan Yang Harus Ditempuh

0
367

PERCIKANIMAN.ID – – Dalam perjalanan rumah tangga sangat memungkinkan jika suami atau istri mengalami kebosanan. Apalagi jika perjalanan itu telah ditempuh puluhan tahun.

 

iklan

 

Tentu bisa dimaklumi jika perasaan suka atau cinta tidak semenggebu-gebu diawal pernikahan yang penuh suka cita dan harapan. Tidak selamanya cinta bersemi dalam diri pasangan suami istri. Ada kalanya, salah satu atau keduanya mengalami kebosanan.

 

 

Dalam paparannya sua orang ilmuwan psikologi, Dr. Conell Kwan dan Dr. Malvin Condore, menilai bahwa sangat logis dan manusiawi jika seseorang mengalami titik jenuh dan kebosanan dalam hidupnya.

 

 

Masa-masa penuh gelora cinta dan rindu yang tidak tertahankan sebelum nikah dan beberapa saat setelah menikah, lambat laun akan berkurang tensinya meski tidak total tergerus dari dada suami istri.

 

 

Rasa tersebut bisa saja mengalami pasang surut, bahkan mungkin layu apabila tidak dirawat dan diperhatikan. Ibarat tanaman pun jika lama tidak disiram dan dipupuk ia akan layu bahkan mongering.

 

 

Karenanya, suami istri berkewajiban menjaga dan merawat cinta dan kasih tersebut agar senantiasa bersemi dan berbunga. Jangan sampai menjadi layu, apalagi mati. Menjaga dan merawat perasaan cinta dan kasih sayang yang telah Allah anugerahkan kepada suami istri adalah sebuah amanah.

 

 

Bagaimana caranya? Sebagai seorang muslim, kita memiliki role model yang semua perilakunya harus kita contoh, termasuk dalam menjaga bara cinta dan kasih pasangan suami-istri agar tetap menyala. Ya, beliau adalah Muhammad, Rasulullah Saw.

 

 

Selain seorang nabi, beliau juga seorang suami yang begitu romantis. Dalam beberapa hadits dikisahkan bahwa hubungan Rasulullah Saw. dengan istri-istrinya dipenuhi dengan kelembutan.

 

 

Beliau tidur satu selimut, mandi berdua, mencium istrinya sekalipun dalam keadaan berpuasa, serta bercumbu rayu sekalipun dalam keadaan haid.  Hal ini tercantum dalam sebuah hadits dari Ummu Salamah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim,

 

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mencium dan mencumbu istrinya sedangkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan berpuasa. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan demikian karena beliau adalah orang yang paling kuat menahan syahwatnya.” ( HR.Muslima)

 

 

Bahkan, Ummu Salamah bercerita kepada Zainab, putrinya, bahwa Rasulullah Saw. menciumnya dalam keadaan berpuasa dan dia pernah mandi bersama bersama Rasulullah Saw. dalam keadaan junub.

 

 

 

Bukan hanya itu, Rasulullah Saw. pun sering menyenangkan istrinya dengan cara minum dan makan dari peralatan (makan) bekas istrinya seperti yang diceritakan oleh Siti Aisyah r.a. dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

 

 

Dikisahkan suatu hari Rasulullah pulang ke rumah dari suatu acara. Istri beliau, Siti Aisyah, hendak mengambilkan minum untuk beliau. Namun Rasulullah SAW melarangnya. Ia kemudian mengambil gelas minum Siti Aisyah yang masih berisi air setengahnya. Beliau mencari bekas bibir Aisyah di gelas tersebut, lalu minum di bekas bibir Aisyah tersebut.

 

 

Selain itu Rasulullah Saw menganjurkan istri agar menyempatkan menyisiri rambut suami. Selain untuk kerapian rambut suami hal ini juga untuk menjaga kemesraan antara suami dan istri.

 

 

Dalam sebuah hadits dari ‘Aisyah ra  ia  berkata. “ Aku  biasa  menyisir  rambut  Rasulullah saw , saat  itu  aku  sedang  haidh “.  ( HR.Ahmad )

 

 

Hal lain yang dilakukan Rasulullah Saw untuk menjaga perasaan cinta dengan istri-istrinya adalah menganjurkan pasangan suami-istri agar menyempatkan diri mandi bersama.

 

 

Seperti dicerikan dari  ‘Aisyah ra , ia  berkata. “ Aku  biasa  mandi  bersama  Rasulullah dengan  satu  bejana.  Kami  biasa  bersama-sama  memasukkan  tangan kami ( kedalam bejana)”  (  HR. ‘Abdurrazaq  dan  Ibnu  Abu Syaibah )

 

 

Itulah cara Rasulullah Saw. dalam merawat cinta kepada para istrinya. Meski terlihat sederhana, hal tersebut patut dicontoh untuk menggelorakan kembali atau menjaga cinta dan kasih sayang kita kepada pasangan. [ ]

 

 

Sumber: dikutip dari buku “ Membingkai Surga Dalam Rumah Tangga “ karya Dr.Aam Amiruddin,M.Si

 

5

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

848

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman