Macam – Macam Iddah Dan Waktunya, Ini Yang Harus Diketahui

PERCIKANIMAN.ID – – Secara bahasa, iddah berasal dari kata adda yang artinya menghitung. Maksudnya adalah masa menunggu atau menanti yang dilakukan wanita yang baru dicerai oleh suaminya. Sebelum habis masa tunggu, istri tidak boleh menikah dengan orang lain. Firman Allah Swt.,

 

 

“Para istri yang diceraikan wajib menahan diri mereka selama tiga kali quru’….’” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 228)

 

 

Namun demikian dalam kenyataan bahwa terjadinya perceraian itu ada beberapa sebab. Hal ini juga terkait dengan adanya macam-macam iddah sebagai berikut:

 

  1. Iddah wanita yang ditalak sedangkan dia dalam keadaan hamil

 

Bagi wanita yang cerai dalam keadaan hamil baik cerai hidup maupun suami meninggal maka masa iddah ini adalah sampai dia melahirkan. Hal ini berdasarkan firman Allah Swt. dalam Al Quran,

 

“…perempuan- perempuan hamil, waktu iddah mereka adalah sampai melahirkan…” (Q.S. Ath-Thalak [65]: 4)

 

  1. Iddah wanita yang ditalak sedangkan dia tidak hamil

 

Bagi Iddah wanita yang ditalak sedangkan dia tidak hamil maka masa iddahnya waktunya adalah tiga kali haid atau suci. Keterangan ini berdasakan firman Allah,

 

“Para istri yang diceraikan wajib menahan diri mereka selama tiga kali quru’….” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 228)

 

  1. Iddah wanita yang ditinggal mati suaminya sedangkan dia tidak dalam keadaan hamil.

 

Bagi kaum wanita yang iddahnya karena ditinggal mati suaminya sedangkan dia tidak dalam keadaan hamil mka masa iddahnya adalah adalah 4 bulan 10 hari. Dalilnya adalah firman Allah Swt,

 

“Orangorang yang meninggal di antaramu dan meninggalkan istri-istrinya, hendaklah istri-istri itu menunggu selama empat bulan sepuluh hari. Jika masa iddah mereka telah berakhir, tidak ada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka melakukan apa pun atas diri mereka dengan cara yang baik. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 234)

 

  1. Iddah wanita yang ditinggal mati suaminya sedangkan dia dalam keadaan hamil.

 

Terkait dengan iddah wanita yang ditinggal mati suaminya sedangkan dia dalam keadaan hamil setidaknya ada dua pendapat dikalangan ulama fikih.

 

  • Pertama, para sahabat dan ulama yang mengikuti pendapat Abdullah bin Abbas r.a. yang menyatakan bahwa masa iddahnya adalah masa yang terpanjang antara menunggu sampai melahirkan atau ketentuan 4 bulan 10 hari.

 

  • Kedua, para sahabat dan ulama yang mengikuti pendapat sahabat Abdullah bin Mas’ud menyatakan bahwa masa iddahnya adalah 4 bulan 10 hari.

 

 

  1. Iddah wanita mustahadhah

 

Bagi wanita mustahadhah yakni wanita yang mengalami masa haid berkepanjangan,maka masa iddahnya berdasarkan pengalaman haidnya, yaitu memerhatikan berapa lama masa haidnya dan berapa lama masa sucinya. Jika terasa sudah melewati 3 kali haid yang biasa dia alami, berarti iddahnya sudah habis. Sedangkan wanita mustahadhah yang tidak mengalami haid lagi, masa iddahnya adalah 3 bulan.

 

  1. Iddah wanita cerai yang belum disetubuhi

 

Bagi wanita yang diceraikan suaminya padahal belum sempat berjima’ (bersetubuh), baginya tidak ada masa iddah sehari pun. Hal ini berdasarkan firman Allah Swt.,

 

 

“Hai, orang-orang beriman! Apabila kamu menikahi perempuan-perempuan mukmin kemudian menceraikan mereka sebelum mencampurinya, maka tidak ada masa iddah yang perlu kamu perhitungkan atas mereka. Tetapi, berilah mereka mut‘ah dan lepaskanlah dengan cara yang paling baik.” (Q.S. Al-Ahzaab [33]: 49)

 

Akan tetapi, jika iddahnya karena suaminya meninggal, baginya masa iddah seperti wanita yang sudah sempat disetubuhi.

 

 

 “Orang-orang yang meninggal di antaramu dan meninggalkan istri-istrinya, hendaklah istri-istri itu menunggu selama empat bulan sepuluh hari. Jika masa iddah mereka telah berakhir, tidak ada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka melakukan apa pun atas diri mereka dengan cara yang baik. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 234)

 

 

Bagi wanita yang sedang menunggu masa iddah, diharuskan tinggal di rumah suaminya sampai habis masa iddahnya dan suaminya tidak boleh mengusirnya. Firman Allah Swt.,

 

 

“Hai, Nabi! Apabila kamu menceraikan istri-istrimu, hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat menghadapi iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah, Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumahnya dan janganlah diizinkan keluar, kecuali jika mereka mengerjakan perbuatan keji yang jelas. Itulah hukum-hukum Allah dan siapa pun yang melanggar hukum-hukum Allah, sesungguhnya ia telah berbuat zalim terhadap dirinya. Kamu tidak mengetahui barangkali setelah itu Allah mengadakan suatu ketentuan baru.” (Q.S. Ath-Thalaq [65]: 1)

 

 

Demikian macam-masa iddah bagi wanita. Meski demikian hal ini perlu juga diketahui dan dipahami kaum laki-laki (suami) sehingga tetap dapat memberikan hak dan kewajibannya selama mantan istrinya menjalani masa iddah. [ ]

 

Sumber: dikutip dari buku “ Membingkai Surga Dalam Rumah Tangga “ karya Dr.Aam Amiruddin,M.Si

 

4

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

820

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 456 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment