Cara Mengajak Ayah Sholat, Begini Tipsnya

Assalamu’alaykum. Pak Aam, bagaimana menangani Bapak saya yang malas shalat, bahkan kalau saya ingatkan dan ditanya selalu berbohong sudah shalat ? Apakah berdosa kalau saya marah? Mohon nasihatnya. Terima kasih ( Lina via fb )

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu yang dirahmati Allah. Tentu apa yang Anda niatkan sudah bagus. Sebagai anak juga kita harus meyelamatkan keluarga dari siksa api neraka salah satunya dengan cara berdakwah kepada sanak saudara atau kerabar terdekat termasuk dengan ayah ibu kita.

 

 

Terkait dengan cara atau metode dakwah ini Rasulullah Saw telah memberikan pengajaran atau contoh bagaimana berdakwah yang baik tersebut. Ini juga atas perintah Allah Swt seperti dapat kita baca dalam Al Qur’an,

 

(125) ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

 

Serulah manusia pada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya, Tuhanmu, Allah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Allah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” ( QS.An Nahl: 125 )

 

 

Dalam ayat ini ada kata atau kalimat dengan hikmah dan mau’idzatil hasanah yakni dakwah harus disampaikan dengan kata dan tindakan penuh hikmah dan perkataan atau ajakan yang baik (hasanah) atau lemah lembut. Dalam berdakwah kita tidak boleh dengan menggunakan kata-kata yang marah,menghina,menjelekan atau kata-kata kasar.

 

 

Tetapi dengan kalimat atau tindakan yang lembut dan penuh dengan makna. Kemudian kalau orang atau dalam hal ini ayah Anda bertanya atau bahkan sampai mendebat maka sampaikan atau debatlah dengan cara yang baik,sopan dan tidak menyakitkan.

 

 

Beri pemahaman tentang kewajiban bagi seorang muslim atau orang yang beriman salah satunya adalah ia harus mendirikan shalat ketika sudah baligh. Setelah itu Anda boleh menggambarkan atau memberi kabar gembira bagaimana nasib mereka yakni orang-orang yang senantiasa mendirikan shalat dengan khusyuk yakni akan memperoleh kenikmatan surga.

 

(1).قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ

(2).الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

 

Sungguh, beruntung orang-orang ber­iman, yaitu orang yang khusyuk dalam salatnya” ( QS.Al Mukminun: 1-2)

 

(10).أُولَٰئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ

(11). الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Mereka itulah orang yang akan mewarisi, yakni mewarisi Surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” ( QS.Al Mukminun: 10 -11)

 

Kalau kabar gembira tentang surga belum juga menarik hatinya untuk shalat maka cobalah dengan kabar atau gambaran tentak siksa neraka bagi yang meninggalkan shalat. Ingatkan bahwa semua manusia akan mati atau meninggalkan dunia yang fana ini. Kelak akan bertemu dengan Allah Swt, kematian, alam kubur dan apa yang akan terjadi kepada mereka yang meninggalkan shalat dengan suul khatimah (penutup usia yang buruk) dan siksa kubur. Dalam Al Quran dijelaskan,

 

(59). فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

 

Kemudian, datanglah setelah mereka pengganti yang mengabaikan shalat dan mengikuti hawa nafsunya. Mereka kelak akan tersesat (masuk neraka) ”. (QS. Maryam: 59)

 

 

Kalau disampaikan kabar gembira tentang surga maupun kabar menyedihkan tentang neraka juga belum menggugah hatinya untuk mengerjakan shalat maka Anda tidak boleh putus asa. Anda tetap harus peduli kepada ayah Anda tersebut yakni dengan tetap mendoakannya agar Allah Swt memberikan hidayah-Nya. Berdoalah terus agar Allah membukakan pintu hatinya sehingga mau melaksanakan perintah shalat dan tidak berbohong lagi.

 

 

Apakah boleh marah pada orangtua yang meninggalkan shalat? Tentu saja boleh karena meninggalkan shalat adalah salah satu dari bentuk kemunkaran dan kebathilan. Melihat kemunkaran dan kebathilan kita boleh marah, justru kalau diam saja maka dipertanyakan keimanan kita.

 

 

Namun tentu saja sikap marah dan benci tersebut harus ditunjukan atau dilakukan dengan baik sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Tidak boleh marah melihat kemunkaran dengan merusak atau tindakan anarkis misalnya.

 

 

Marah dan bencilah ayah Anda karena sikapnya yang meninggalkan shalat, bukan pribadinya. Tetaplah bersikap lemah lembut dan teruslah berdoa dengan kesabaran. Siapa tahu dengan melihat sikap lemah lembut dan kesabaran tersebut hidayah Allah datang pada ayah Anda.

 

 

Dalam menghadapi kemunkaran maka kita harus berpedoman pada nasihat Rasulullah seperti dalam hadits dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata,

 

 

Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim)

 

 

Jadi sekali lagi tunjukan sikap dan akhlak yang mulia dan terpuji dalam menghadapi ayah yang belum mau shalat. Ajak dengan bahasa yang baik,sopan dan lemah lembut. Tetap bersikap hormat dan bertutur kata dengan sopan dan penuh kesantunan serta jangan lupa teruslah berdoa kepada Allah.

 

 

Jangan putus asa, kewajiban kita hanyalah mengajak atau mengingatkan maka hasilnya serahkan kepada Allah. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

 

4

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

830

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 185 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment