4 Hal Penyebab  Munculnya  Nafsu Buruk Manusia

 

Oleh: Dr. H. Aam Amiruddin, M.Si

 

PERCIKANIMAN.ID– – Sebagaimana telah diketahui bahwa dalam Islam penentu perilaku manusia adalah an-nafsu atau nafsu. Pada hakikatnya nafsu tidak melulu hanya tentang kejelekan atau perilaku negatif saja. Ada pula nafsu yang diberi rahmat oleh Allah yang disebut nafsu mutmainnah atau nafsu yang memunculkan kebaikan. Nafsu yang memunculkan kebaikan perlu dijaga dan terus dipelihara oleh seorang hamba sebagai wujud ketaatan kepada  Tuhannya.

 

Nafsu mutmainnah ini bisa berupa keinginan untuk selalu beribadah kepada Allah, keinginan untuk selalu berbuat baik kepada sesama manusia, dan keinginan untuk selalu berada di jalan-Nya. Lain halnya dengan nafsu yang mendorong kepada keburukan atau yang dikenal dengan hawa nafsu, hawa nafsu sejatinya adalah hal buruk yang harus dihindari oleh setiap manusia karena ia akan menyesatkan manusia dari jalan Allah.

 

Hawa nafsu atau dorongan untuk berbuat keburukan merupakan bisikan setan yang sebenarnya bisa dikendalikan oleh akal dan hati manusia jika manusia tersebut selalu berpegang teguh pada tali agama Allah. Tetapi sering kali manusia tidak kuasa menahan dan membatasi hawa nafsunya.  Terdapat beberapa penyebab tidak terkendalinya hawa nafsu manusia.

 

Pertama, diperbudak kehidupan dunia. Dunia sering kali membuat manusia lalai dalam menjalankan perintah Allah. Dunia juga sering membutakan manusia dengan gemerlap keindahannya.

 

Dunia bersifat memperbudak, itu sebabnya jika sekali saja manusia berbuat keburukan maka akan terus menerus ingin melakukannya. Memang sebenarnya dunia tidak hanya memperbudak manusia dalam keburukan, dunia juga bisa memperbudak dalam kebaikan, tetapi yang sering terjadi kepada manusia kebanyakan yaitu diperbudak keburukan sehingga yang muncul adalah hawa nafsu setan. Allah Swt. berfirman dalam salah satu ayat-Nya berikut ini:

 

Kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Sesungguhnya, akhirat itulah kehidupan sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (Q.S. Al- ‘Ankabūt [29]: 64)

Yang di maksud dengan senda gurau dan permainan adalah bahwa tidak pernah ada sesuatu di dunia ini yang bisa memuaskan hati manusia, bukan hanya karena sifat manusia yang memang tidak pernah puas, tetapi juga karena sifat dunia yang selalu memperbudak manusia untuk melakukan hal buruk secara terus menerus.

 

Manusia cendenrung lebih mencintai kehidupan dunia yang fana daripada mencintai kehidupan akhirat yang kekal. Ini dibuktikan dengan semakin banyaknya manusia yang lebih memperjuangkan harta duniawi daripada berusaha memperjuangan bekal kebaikan untuk kehidupan ukhrahwi yang abadi.

 

Sebenarnya diperbolehkan bagi manusia untuk mencintai dunia tetapi jangan sampai melupakan akhirat. Allah Swt. berfirman yang artinya,

 

Hal itu karena mereka lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum kafir. Mereka itulah orang yang hati, pendengaran, dan penglihatannya telah dikunci oleh Allah. Mereka itulah orang lalai. Pastilah mereka termasuk orang rugi di akhirat nanti.” (Q.S. An-Naĥl [16]: 107-109)

 

Kedua, terjebak perangkap setan.

Setan bukanlah makhluk akan tetapi merupakan sifat yang melekat pada makhluk. Kata ‘setan’ berasal dari bahasa Arab yaitu ‘syaithona’ yang artinya bengkok atau tidak lurus, dan syaithon berarti makhluk yang bisa membengkokan, yang selalu membawa manusia ke jalan yang sesat.

 

Karena setan merupakan sifat yang melekat pada makhluk, setan bisa muncul dari kalangan manusia ataupun dari kalangan jin. Manusia yang memiliki sifat setan di dalam dirinya adalah manusia yang selalu berbuat keburukan, manusia yang di dalam hatinya selalu merasa iri, dengki, dan penuh kesombongan, serta manusia yang selalu mengajak pada keburukan dan mencegah pada kebaikan.

 

Adapun setan dari kalangan jin adalah berupa bisikan kejahatan ke dalam dada manusia. Selalu akan ada perangkap kejahatan setandi semua arah kehidupan manusia karena janji mereka adalah mengahalangi manusia berbuat kebajikan juga menyesatkan manusia dari jalan Tuhannya. Allah berfirman,

 

Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menyesatkanku, pasti aku akan selalu menghalangi manusia dari jalan-Mu yang lurus. Aku pun pasti akan mendatangi mereka dari depan, belakang, kanan, dan kiri mereka. Sehingga Engkau tidak akan mendapati kebanyakan manusia bersyukur.’” (Q.S. Al-A‘rāf [7]: 16-17)

 

Ketiga, lingkungan yang tidak kondusif.

 

Dalam Al Quran Allah Swt. berfirman,

Bersabarlah kamu bersama orang yang menyeru Tuhan pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridhoan-Nya. Janganlah kedua matamu ber-paling dari mereka karena mengharap-kan kenikmatan kehidupan dunia. Janganlah kamu ikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami. Mereka hanya menuruti hawa nafsunya dan sudah melewati batas.” (Q.S. Al-Kahf [18]: 28)

Dalam ayat ini Allah Swt. menyuruh umatnya untuk bersabar di lingkungan yang baik. Manusia diperbolehkan kenal dengan siapapun tanpa terkecuali, baik dengan orang yang dalam kesehariannya berperilaku baik atau dengan orang yang berperilaku buruk sekalipun.

 

Satu hal yang harus diingat oleh setiap manusia adalah tidak diperbolehkan terlalu dekat dengan orang yang berperilaku buruk dan yang selalu megajak melakukan hal buruk sehingga akan terbiasa dengan keburukan. Setiap manusia harus memiliki kekuatan untuk memilih orang yang sekiranya bisa dekat dan dijadikan sahabat dalam kebaikan.

 

 

Keempat, jiwa yang gersang dari pembinaan ruhiyah.

 

Sebenarnya penentu diri manusia adalah qolbu, bahkan dalam riwayatnya Imam Gazali mengatakan bahwa qolbu adalah panglima raga. Akal dan syahwat bisa ditundukkan oleh kalbu kalau saja qolbu itu memiliki kekuatan iman yang dahsyat. Itu sebabnya ketika jiwa manusia gersang dari pembinaan maka sudah bisa dipastikan bahwa qolbu-nya lemah.

 

Yang diperlukan manusia dalam hidupnya adalah keseimbangan, jangan pernah melakukan apapun secara berlebihan, segalanya harus seimbang antara melaksanakan kegiatan duniawi maupun ukhrawi. Supaya hati manusia tidak gersang, Allah Swt. memerintahkan manusia untuk membaca Al-Qur’an secara bertahap. Itulah sebabnya mengapa Al-Qur’an diturunkan secara bertahap yaitu supaya hati manusia teguh, Allah berfirman,

 

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami pada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya, Engkau Maha Pemberi.” (Q.S. Āli ‘Imrān [3]: 8)

 

Setelah memahami pembahasan tersebut, dapat disimpulakn bahwa nafsu adalah penentu perilaku manusia baik itu nafsu baik maupun nafsu buruk. Nafsu buruk dapat dikendalikan oleh akal dan hati bersih manusia, tetapi seringkali manusia tidak dapat membendung nafsu buruknya. Namun, begitu hati dan nurani manusia terbimbing Insya Allah manusia tidak akan diperbudak hawa nafsunya. Wallahu a’lam. [ ]

4

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

820

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 696 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment