Komitmen Perbaiki Diri Sendiri, Ciri Muslim Sejati

Oleh: Tate Qomaruddin,Lc*

 

PERCIKANIMAN.ID – – Setiap orang pastinya mempunyai masa lalu yang bisa jadi tidak baik atau tidak perlu dicontoh orang lain. Orang baik bukan berarti tidak mempunyai kesalahan atau buruk lainnya, namun setelah ia tahu dan sadar bahwa itu sebuah perbuatan tidak terpuji maka ia akan segera memperbaikinya. Dalam sebuah hadits disebutkan,

 

 

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى وَأَنَا مَعَهُ حَيْثُ يَذْكُرُنِى وَاللَّهِ لَلَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ يَجِدُ ضَالَّتَهُ بِالْفَلاَةِ وَمَنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَمَنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِذَا أَقْبَلَ إِلَىَّ يَمْشِى أَقْبَلْتُ إِلَيْهِ أُهَرْوِلُ  (مسلم)

Rasulullah saw. bersabda, Allah swt. berfirman, “Aku tergantung prasangka hamba-Ku terhadap-Ku. Dan Aku berada bersamanya saat dia mengingat-Ku.” (Rasulullah saw. bersabda), “Demi Allah, sungguh Allah lebih berbahagia dengan taubat seorang hambanya dibandingkan dengan seseorang yang menemukan barangnya yang hilang di gurun tandus.” Dan barangsiapa mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal maka Aku mendekat padanya sehasta. Dan barangsiapa mendekat diri pada-Ku sehasta maka Aku mendekatkan diri padanya sedepa. Dan jika dia menghadap pada-Ku dengan berjalan maka Aku mendekat padanya dengan berlari.” (Muslim).

 

 

Hadits qudsi yang diriwayatkan Imam Muslim ini menjelaskan, antara lain tentang keharusan berbaik sangka kepada Allah swt., tentang keutamaan bertaubat dan  tentang betapa pemurahnya Allah terhadap orang yang mendekatkan diri kepada-Nya.

 

 

Dalam perjalan hidupnya seorang manusia pasti terpapar oleh berbagai persoalan, melakukan kesalahan, terjebak pada langkah keliru dan seterusnya, karena memang tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Sementara waktu berjalan terus dan tak dapat dihentikan oleh keengganan pemalas serta tidak dapat dipercepat oleh semangat orang yang bekerja. Pada akhirnya semua kita akan kembali kepada-Nya. Pintunya adalah kematian!

 

 

Nah, meskipun demikian, kita tidak perlu berputus asa karena kasih sayang Allah melingkupi seluruh makhluknya. Justru kepada Allah kita harus terus berprasangka baik. Semakin menyadari kelemahan diri seharusnya semakin besar keyakinan kita akan kekuasaan Allah.

 

 

Semakin besar masalah yang kita hadapi seharusnya semakin kuat keyakinan kita bahwa Allah Maha Mampu menyelesaikan segala persoalan hidup manusia. Semakin merasa bahwa kita tidak suci dari kesalahan seharusnya semakin cepat berlari untuk kembali kepada Allah; kembali ke jalan-Nya; kembali kepada fitrah kita.

 

 

Jangan sedikit pun terbersit dalam hati kita keraguan akan kekuatan Allah, karena Allah akan memperlakukan kita sesuai prasangka kita terhadap-Nya. Jangan sedikit pun keyakonan hati terganggu bahwa Allah mendengar doa dan permohonan setiap hambanya.

 

 

Makanya salah satu adab (tata krama) berdoa adalah ilhah. Terjemah kata ilhah dalam bahasa sehari-hari kita kira-kira adalah ‘ngotot’, bersikeras, pantang penyerah atau tidak mudah putus asa. Rasulullah saw. bersabda,

 

لَا تَعْجِزُوا فِي الدُّعَاءِ فَإِنَّهُ لَا يَهْلِكُ مَعَ الدُّعَاءِ أَحَدٌ (الْحَاكِمِ)

 

Janganlah lemah (tidak semangat) dalam berdoa. Karena tidak ada yang celaka karena berdoa.” (Al-Hakim)

 

 

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُلِحِّينَ فِي الدُّعَاءِ (الْأَوْزَاعِيُّ).

Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bersikeras dalam berdoa.” (Al-Auza’i)

 

 

Oleh karena itu, maka ketika seseorang melakukan kesalahan tidak perlu berputus asa. Kesalahan itu manusiawi. Yang tidak boleh terjadi adalah setelah tahu salah tapi terus “ngotot” dalam kesalahan. Rasulullah saw. menjelaskan,

 

 

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ (أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ ، وَسَنَدُهُ قَوِيٌّ)

 

Setiap anak Adam melakukan kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat.” (At-Turmidzi dan Ibnu Majah)

 

 

Dan pada hadits yang dikutip di awal tulisan ini Rasulullah saw. menjelaskan “Demi Allah, sungguh Allah lebih berbahagia dengan taubat seorang hambanya dibandingkan dengan seseorang yang menemukan barangnya yang hilang di gurun tandus.” Pernyataan Rasulullah itu ada cerita panjangnya seperti yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam hadits lain:

 

 

للهُ أَشَدُّ فَرَحاً بِتَوبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يتوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتهِ بأرضٍ فَلاةٍ ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابهُ فأَيِسَ مِنْهَا ، فَأَتى شَجَرَةً فاضطَجَعَ في ظِلِّهَا وقد أيِسَ مِنْ رَاحلَتهِ ، فَبَينَما هُوَ كَذَلِكَ إِذْ هُوَ بِها قائِمَةً عِندَهُ ، فَأَخَذَ بِخِطامِهَا ، ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الفَرَحِ : اللَّهُمَّ أنْتَ عَبدِي وأنا رَبُّكَ ! أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الفَرَحِ (مسلم) .

 

Sungguh Allah lebih bergembira dengan taubat seorang hambanya –saat ia bertaubat, dibandingkan dengan seseorang yang menunggangi kendaraannya di padag tandus, lalu kendataannya itu kabur padahal di atas kendaraanya itu dia membawa makanan dan minumannya. Ia pun berputus asa karenanya. Lalu ia mendatangi sebatang pohon seraya berbaring di bawah bayangannya dalam keadaan berputus asa tentang kendaraannya (akan ditemukan). Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba kendaraannya itu sudah ada di hadapannya. Ia lalu memegang tali kendalinya dan mengatakan, akibat rasa bahagia yang luar biasa, ‘Ya Allah, Engkaulah hambaku dan akulah tuhanmu,’ salah ucap karena saking bergembiranya.” (HR. Muslim)

 

 

Ini menggambarkan penghargaan Allah kepada siapa pun yang berdosa lalu bertaubat. Betapa besarnya kasih sayang Allah kepada manusia. Saat Dia mewajibkan kita beribadah dan taat kepada-Nya, Dia pun membukan pintu selebar-lebarnya bagi segala upaya perbaikan diri manakala ada seseoang yang salah dan terjerumus dalam dosa. Ini juga menunjukkan betapa realistisnya ajaran Islam.

 

Di satu sisi Islam senantiasa mendorong kepada umatnya untuk selalu melakukan kebaikan dan menjauhi segala dosa, penyimpangan, keburukan dan dosa. Akan tetapi bila pun terjadi kesalahan dan penyimpangan, Allah tetap membuka peluang dan pintu untuk perbaikan diri.

 

 

Dan  bagian akhir dari hadits yang tengah kita bahas ini adalah tentang penghargaan Allah kepada orang yang berusaha mendekatkan diri kepada-Nya. “Dan barangsiapa mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal maka Aku mendekat padanya sehasta. Dan barangsiapa mendekat diri pada-Ku sehasta maka Aku mendekatkan diri padanya sedepa. Dan jika dia menghadap pada-Ku dengan berjalan maka Aku mendekat padanya dengan berlari.”

 

 

Allah memberikan balasan dan penghargaan kepada orang yang selalu mematut diri dalam mencari ridha-Nya jauh melebihi apa yang dilakukan sang hamba. Begitulah kasih sayang dan kecintaan Allah kepada para hambanya. Oleh karena itu, tidaklah layak kita merasa rugi manakala melakukan satu kebaikan. Karena Allah akan membalas dengan balasan yang lebih besar dari  apa yang kita lakukan.

 

 

Dan seandianya Allah tidak melingkupi kita dengan kasih sayang-Nya, maka sesungguhnya seluruh amal yang kita lakukan bahkan sampai ratusan tahun, tidaklah cukup untuk membalas segala kenikmatan yang kita rasakan sebagai pemberian dari-Nya.

 

Seluruh rangkaian itu, yakni berbaik sangkan kepada Allah, selalu kembali kepada-Nya dengan taubat, dan selalu memdekatkan diri dengan berbagai ibadah terangkum dalam ayat-Nya:

 

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (54) وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ (55)

 

“Katakanlah, “Wahai hamba- hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah Mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dia-lah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhan-mu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong. Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu (al-Quran) dari Tuhan-mu sebelum datang azab kepadamu secara mendadak, sedang kamu tidak menyadarinya.” (QS.Az-Zumar 53-55)

 

 

Nah, pada bulan Ramadhan Allah telah menyediakan segala fasilitas yang kita butuhkan untuk kita dapat mengamalkan apa yang disebutkan dalam ayat-ayat itu dan hadits qudsi di atas. Berlapar-lapar dan berhaus-haus serta meniggalkan segala hal yang dapat menghilangkan pahala puasa Hanya orang yang ikhlas dan yakin kepada Allah yang dapat menjalankan puasa sesuai dengan standar yang ditetapkan Allah dan Rasulullah Saw.

 

 

Selama bulan Ramadhan kita juga mematut diri agar layak mendapatkan ampunan Allah swt. Segala ibadah wajib kita laksanakan demikian juga yang sunnah. Hari-hari kita selama Ramadhan, kita isi dengan banyak kegiatan yang berguna. Kita juga menghindari hal-hal yang membatalkan puasa, hal-hal yang merusak nilai atau pahala puasa. Dan perjuangan kita untuk mendapatkan ampunan dari Allah kita iringi dengan segala bentuk ketaatan dan taqarrub kepadanya.

 

 

Idealnya, seperti itulah pola hidup kita dalam keseharian. Maka, mari kita jadikan Ramadhan kali ini untuk kembali kita menyegarkan iman kita, meningkatkan kedekatan kepada Allah swt. Kita jadikan Ramadhan kali ini sebagai momentum untuk memperbarui komitmen perbaikan diri. Sudah banyak kebaikan yang kita lakukan, maka janganlah kita menghancurkannya kembali.  Allahu a’lam. [ ]

 

*Penulis adalah pegiat dakwah dan penulis buku

Tate Qomaruddin

4

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

820

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 57 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment