Tips Agar Anak Khatam Al Quran, Mulai Dari Yang Paling Mudah

PERCIKANIMAN.ID – – Pada umumnya, metode yang ada atau yang dipraktikkan oleh lembaga-lembaga pembelajaran Al-Quran (TPA/TPQ/TK Islam), mengacu pada satu urutan baku huruf hijaiyah (alif-ba’-ta’-dst).

 

Maka, yang kami praktikkan kepada anak-anak kami, tidak seperti itu. Kami memulainya dengan hal yang paling mudah. Belajar Al-Quran sama dengan belajar bahasa asing (Bahasa Arab), maka konsep pembelajarannya mesti bertahap, seperti berikut ini:

a. Dari yang lebih mudah.
b. Kemudian yang mudah.
c. Dari yang mudah ke yang susah.
d. Dari yang susah ke yang lebih susah.

Ini berlaku untuk semua pokok bahasan dalam semua sesi pembelajaran. Misalnya, memilih huruf-huruf yang berharakat fathah terlebih dahulu sebelum kasrah, karena fathah lebih mudah. Mendahulukan Mad Thabi‘i setelah belajar sesi huruf yang sesuai dengan mad-nya, misalnya belajar huruf berharakat fathah dengan mad-nya () setelah belajar huruf-huruf berharakat fathah tanpa mad. Setelah itu, baru belajar huruf berharakat lain, misalnya mu.

 

Demikian juga dalam belajar hukum-hukum tajwid. Misalnya untuk bab waqof. Belajarlah dari yang lebih mudah dulu. Wakof di akhir ayat lebih mudah daripada wakof di tengah-tengah ayat yang tandanya beragam, banyak, dan berbeda-beda artinya. Maka, wakof di akhir ayat ini yang didahulukan untuk dipelajari.

 

Alhamdulillah, cara tersebut, menurut kami lebih humanis, lebih bisa diterima oleh anak-anak yang notabene tinggal dan besar di lingkungan yang tidak terpapar pendengaran dan penglihatannya (visual) oleh semua huruf atau fonem Al-Quran. Ini selaras dengan seruan Nabi Muhammad Saw, Aisyah ra berkata,

 

Tidaklah Nabi Saw diberikan pilihan kecuali beliau memilih yang lebih mudah di antara keduanya selama bukan perbuatan dosa...” (H.R. Bukhari, Muslim, dan dalam musnad Imam Ahmad)

 

Atau, hadits yang lain:

 

Sebaik-baik (urusan) agamamu adalah yang termudah.” (HR Thabrani)

 

Jadi, mencari yang termudah itu dianjurkan dalam Islam selama memang tidak ada pelanggaran dosa di dalamnya. Pelajaran ini Allah tarbiyahkan kepada kami saat mengajar anak kedua mengeja huruf-huruf Al Quran. Ketika itu, kami memulai seperti yang dilakukan orang kebanyakan. Yakni, dengan urutan alif-ba’-ta’-tsa’-dst. Kami menerapkannya karena hal ini pernah kami terapkan ke anak pertama dan lancar-lacar saja, tanpa ada masalah.

 

Ternyata, anak kami yang kedua mengalami kesulitan ketika diminta menirukan huruf – tsa dan ya– yang keluar selalu –sya dan ya – . Itu terjadi berulang-ulang. Kami coba terus dan kami pandu untuk meletakkan ujung lidahnya di antara gigi seri depan atas dan bawah agar keluar bunyi atau suara –tsa dan ya – seperti yang kami harapkan.

 

Hasilnya, anak kami malah mogok, tidak mau meneruskan mengaji hingga beberapa hari, karena merasa mengaji itu susah. Akhirnya, saya pilih untuk libur (libur mengajar ngaji anak kami) beberapa saat sambil terus meminta petunjuk dari Allah bagaimana cara mengajar anak kami ini.

 

 

Kami renungkan, kami pikirkan berhari-hari sampai kemudian kami sampai pada memori semasa kuliah S2 bahwa urutan huruf hijaiyah itu hasil karya para ulama dan tidak ada kaitan hukum syara’ apakah wajib apa sunah apa haram ketika dibongkar-bongkar urutannya (lihat di bagian kedua tentang beberapa contoh urutan huruf hijaiyah).

 

Akhirnya, kami kembali semangat. Kami pilih dan dahulukan huruf, seperti ya-fa- ya – yang akan dengan mudah diucapkan anak kami meskipun huruf-huruf itu berada di urutan yang terakhir—jika mengacu pada salah satu jenis huruf hijaiyah. Dan, memang benar, anak kami kembali semangat untuk mengaji dan merasa mengaji itu mudah.

 

Ini poin yang sangat berarti bagi kami, MENGAJI ITU MUDAH. Karena tujuan akhir dari semua yang sedang kami usahakan adalah membuat anak cinta dengan Al-Quran. Maka, ketika terjadi kebuntuan atau kemandegan belajar, kami dituntut untuk mencari metode paling tepat untuk anak kami.

 

Kami mengkhawatirkan dibenak anak kami mengaji itu susah. Ini akan menjadi kenangan yang kurang baik baginya sehingga akan berpengaruh ketika dia besar sehingga kurang akrab dengan Al-Quran.

 

Alhamdulillah, ternyata cara ini sangat cocok untuk anak kedua dan ketiga kami. Bahkan, anak ketiga mengalami lompatan luar biasa dalam mengaji sehingga tidak kami temukan istilah mengulang atau mogok ngaji karena menganggap mengaji itu susah. Hingga dalam kurun waktu setengah tahun, anak-anak sudah langsung bisa masuk membaca Al-Quran (mushaf). [ ]

 

 

Sumber: dikutip dari buku ” Alhamdulillah, Balitaku Khatam Al-Quran ” karya Dr.Sarmini 

 

Al Quran Tahfidz Anak
Al Quran Tahfidz Anak

 

4

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

840,

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 88 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment