Tips Menjaga Kesehatan Saat Puncak Haji

0
163

PERCIKANIMAN.ID – – Pelaksanaan puncak ibadah haji akan dimulai sejak 8 Dzulhijah 1440 Hijriah atau 9 Agustus 2019. Jamaah akan digerakkan dari hotel masing-masing ke Padang Arafah.

 

iklan

 

Di sana, mereka akan melakukan prosesi wukuf pada 9 Dzulhijah atau 10 Agustus 2019. Selanjutnya, mereka bergerak ke Muzdalifah dan Mina pada 10-13 Dzulhijah atau 11-14 Agustus 2019.

 

 

Seluruh proses ibadah ini dikenal dengan nama puncak haji atau Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina). Diperkirakan, ada tiga juta orang jamaah haji dari seluruh penjuru dunia yang akan memadati Armuzna. Adapun sebanyak 231 ribu orang di antaranya berasal dari Indonesia.

 

 

Tempat dan waktu puncak haji di Armuzna ini berbeda dengan proses ibadah di Masjid al-Haram, Makkah. Di hari-hari sebelumnya, ibadah bisa dilakukan jamaah haji hampir setiap hari dan rutenya pun berkutat antara hotel mereka masing-masing ke Masjid al-Haram.

 

 

Sementara itu, di Armuzna jamaah mengenakan kain ihram paling tidak untuk dua hari berturut-turut. Selanjutnya, mereka untuk beristirahat tidur di dalam tenda yang kapasitasnya terbatas. Fisik mereka pun dikerahkan. Sebab, tiap jamaah harus berjalan kaki untuk melempar jumrah.

 

Karena itu, Koordinator Tim Gerak Cepat (TGC) PPIH Arab Saudi, Erick Erwinsyah, memberikan pelbagai tips untuk jamaah haji bisa menjaga kesehatan saat pelaksanaan Armuzna.

 

Pertama, dia mengimbau agar wukuf dilaksanakan di dalam tenda. “Jangan terlalu sering keluar tenda kalau tidak ada keperluan, mengingat suhu sangat panas,” kata Erick, Jumat (9/8/2019).

 

Selanjutnya, jamaah disarankan meminum air satu gelas. Asupan air minum setidak-tidaknya satu gelas untuk satu jam.

 

Kemudian, jamaah diharapkan tidak memaksakan diri untuk ikut melempar jumrah. Khususnya bagi orang tua dan jamaah dengan penyakit risiko tinggi (risti). “Solusinya, bisa dibadalkan melontarnya,” kata Erick.

 

Erick juga berpesan agar jamaah selalu menggunakan alat pelindung diri (APD), seperti kaca mata hitam dan alas kaki, terutama ketika mereka keluar dari tenda.

 

Sementara itu Sekretaris Pertolongan Pertama Pada Jamaah Haji (P3JH) Pradipta Suarsyah memberikan berbagai tips tetang menjaga kesehatan saat penyelenggaraan puncak ibadah haji. Sebab, momen yang berlangsung sekitar lima hari ini akan menguras energi jamaah haji.

 

 

 

Menurut dokter di RS Haji Jakarta itu, jamaah diharapkan menjaga tidur yang cukup. Sebab, pada saat puncak haji–baik di Arafah, Muzdalifah, maupun Mina (Armuzna)–jamaah memiliki kemungkinan sulit tidur. Apalagi bila kondisi tenda dan lingkungan yang kurang nyaman.

 

Selain itu, jamaah agar selalu menjaga asupan makanan setiap hari. Jangan sampai tidak makan atau lupa.  “Jangan karena mengikuti rombongan sehingga makan terabaikan. Dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, banyak yang mengeluh nyeri perutnya (maag) dan lemas,” tutur Pradipta, Jumat (9/8/2019).

 

Selain itu, dia mengimbau agar jamaah haji minum air secukupnya. Sebab, aktivitas Armuzna adalah puncaknya aktivitas fisik bagi jamaah haji selama di Tanah Suci. Inilah momen ketika fisik mereka lebih sering terpapar sinar terik matahari.

 

“Tubuh akan memerlukan cairan yang cukup. Tanda-tanda kurang air (cairan) tubuh bisa dikenali lebih awal, yaitu mulut dan bibir kering, pecah-pecah, kepala pusing, kulit kering, air seni kuning pekat, merasa demam, sesak nafas, mata cekung,” papar Pradipta.

 

Kemudian, jamaah diharap membawa obat-obat pribadi yang rutin diminum . Di antaranya, obat diabetes dan obat hipertensi. Selain itu, obat-obat lain dapat juga dibawa jika penyakit tertentu dialami secara kambuhan. Misalnya, asma, vertigo, dan rhinitis alergika.

 

Jamaah juga agar selalu membawa semprotan air. Dengan demikian, kepala dan wajah mereka dapat disegarkan dengan air secara berkala. Demikian pula dengan bagian tubuh lain yang terbuka sinar matahari. Ini demi mencegah serangan panas (heat stroke).

 

Pradipta juga mengimbau jamaah agar menggunakan kacamata gelap dan pelembab dengan tabir surya yang dapat digunakan demi menjaga kelembaban kulit.

 

Tak kalah penting, jamaah diimbau untuk membawa sandal yang nyaman untuk berjalan. “Sandal sangat penting. Jangan sampai hilang. Sandal juga harus dibawa sendiri-sendiri,” tegas dia.

 

Selain itu, jamaah juga diharapkan mengurangi aktivitas di luar tenda, terutama selama di Padang Arafah. “Lebih baik berdiam di tenda dan memaksimalkan ibadah di dalam tenda. Hal ini untuk menghindari dampak sengatan sinar matahari dan menurunkan risiko dehidrasi,” ujar dia.

 

“Ikuti juga  jadwal lempar jumrah sesuai arahan pembimbing ibadah. Hal ini wajib karena banyak kasus jamaah berdesakan dengan waktu lempar jumrah negara lain sehingga harus berdesakan dengan postur jamaah yang lebih besar. Ini membahayakan jamaah sendiri,” kata Pradipta menutup pembicaraan. [ ]

 

Sumber: ihram.co.id

Quran Souvenir Haji, Hub: 08112202496

4

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

820

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman