3 Cara Hidupkan Jiwa Mawaddah Dalam Keluarga

PERCIKANIMAN.ID – – Mawaddah artinya cinta yang terus tumbuh, terus terawat, meskipun ditemukan atau dirasakan ada hal-hal yang tidak disukai dari pasangan. Ini adalah fase lanjutan dari menerima pasangan apa adanya dan melimpahinya dengan maaf.

 

 

Di sini, kita dituntut untuk menerima kekurangan pasangan dan menjadikannya sebagai alasan untuk lebih mencintainya. Sebab, ada kalanya, kita dapat memaafkan kesalahan pasangan, tetapi tidak dengan melupakan kesalahan tersebut.

 

 

Istilahnya, forgiven not forgotten. Kalau hal ini yang terjadi, yakinlah bahwa maksud mawaddah atau cinta yang terus bertumbuh ini tidak akan terjadi.

 

 

Sungguh mulia orang-orang yang mampu menghidupkan jiwa mawaddah dalam keluarganya. Sebab, memupuk cinta pada pasangan ketika kita menemukan hal-hal yang tidak kita sukai dalam dirinya bukanlah perkara mudah.

 

 

Jadi, mawaddah adalah rasa sayang atau cinta yang punya nilai plus tersendiri. Dan, untuk menumbuhkannya, ada tiga cara yang bisa kita lakukan, yaitu:

 

  1. Katsrotut tahaadi, saling menghargai.

 

Ketika pasangan kita melakukan hal yang baik atau memperlakukan kita dengan istimewa, ucapkanlah terima kasih dan berikan pujian untuknya. Hal ini merupakan bentuk penghargaan sederhana yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan mawaddah dalam keluarga. Kasih sayang yang bersifat duniawi bukanlah rahmah, melainkan mahabbah

 

  1. Katsrotut dzikri, saling mengingat kebaikan.

 

Memang sudah menjadi kodrat manusia untuk lebih mudah mengingat keburukan daripada kebaikan yang dilakukan oleh orang lain. Meski demikian, kita harus berusaha, setahap demi setahap, melawan tabiat tersebut karena tidak ada hal baik yang datang darinya. Terutama dalam konteks kehidupan berumah tangga.

 

 

Dalam interaksi suami-istri, kita harus lebih banyak mengingat kebaikan yang dilakukan oleh pasangan daripada keburukannya. Kita perlu mengingat kebaikan-kebaikan itu agar cinta kepada pasangan terus tumbuh dan mawaddah terwujud.

 

 

  1. Katsrotil iftisoolima’ah, saling berkomunikasi.

 

Yang perlu diperhatikan adalah kita harus berkomunikasi dengan baik seperti saat sedang bermain pingpong. Ketika pasangan selesai berbicara, kita menimpali. Ketika kita yang berbicara, pasangan yang menimpali, begitu seterusnya.

 

 

Agar hal ini bisa dilakukan, tentu kita harus menghargai pasangan, sehingga kita bisa menjalin komunikasi yang baik dan sehat untuk mewujudkan jiwa mawaddah. [ ]

 

 

Sumber: dikutip dari buku “ Insya Allah, Sakinah “ karya Dr.Aam Amiruddin,M.Si

 

4

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

820

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 832 times, 2 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment