Tingkatan Nafsu Manusia Menurut Islam, Ini 3 Jenisnya

 

PERCIKANIMAN.ID – – Setiap orang tentunya berharap ingin memiliki kualitas nafsu yang baik. Namun, terkadang untuk memiliki kualitas nafsu yang baik agak susah karena kualitas nafsu selalu fluktuatif (berubah-ubah).

 

 

Terkadang ada di atas, tak jarang pula ada di bawah, bergantung pada bagaimana kita mengaturnya. Adapun tingkatan kualitas nafsu yang sering muncul dalam jasad manusia ada tiga tingkatan, yaitu:

 

  1. Nafsu al-muthma’innah adalah dorongan untuk berbuat baik.

 

Sejahat-jahatnya manusia, pasti masih ada dorongan-dorongan untuk berbuat baik. Untuk itu, jangan putus asa dalam berdakwah karena di balik kenistaannya itu ada mutiara-mutiara kebaikan. Gali terus, walaupun dalam keadaan keras hati, mudah mudahan satu saat akan muncul atau tampak mutiara-mutiara yang dicari.

 

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

 

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Baqarah : 74)

 

 

Secara eksplisit, nafsu mutma’innah tersurat dalam firman Allah,

 

(27). يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ

(28). ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

(29). فَادْخُلِي فِي عِبَادِي

(30). وَادْخُلِي جَنَّتِي

Hai jiwa yang tenang (an-nafsul mutma’innah), kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Q.S. Al-Fajr : 27– 30)

 

 

Nafsu muthma’innah merupakan tingkat nafsu tertinggi, mengisyaratkan tentang adanya hubungan langsung antara pencapaian martabat mutma’innah dengan tingkat keimanan kepada Allah.

 

 

2. Nafsu lawwamah merupakan nafsu yang suka mengoreksi (menegur atau mengingatkan).

 

Apabila nafsu lawwamah tidak direspons— dengan proses waktu—teguran-teguran tersebut menjadi kebal dan ketika melakukan kesalahan-kesalahan berikutnya tidak akan ada perasaan bersalah. Namun, apabila melakukan kesalahan kemudian ada perasaan berdosa, hal ini sebagai isyarat bahwa nafsu sensornya (lawwamah) masih

berfungsi.

 

 

3. Nafsu ammarah bissu’i (nafsu amarah), yaitu dorongan untuk berbuat buruk (negatif).

 

 

Nafsu amarah adalah nafsu terendah yang selalu menyuruh untuk berbuat kejahatan. Untuk itu, nafsu harus dikelola dengan baik agar terkendali, kapan nafsu baik itu dimunculkan dan kapan nafsu buruk itu diredam (menempatkan nafsu secara proporsional).

 

 

Ali bin Abi Thalib r.a. menceritakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda,

 

Tiada satu qalbu pun kecuali memiliki awan seperti awan menutupi bulan. Walaupun bulan bercahaya, tetapi karena qalbu ditutup oleh awan, ia menjadi gelap. Ketika awannya menyingkir, ia pun kembali bersinar.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

 

Kemudian dalam Al Quran , Allah berfirman,

 

(53).  وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan (ammarah bissu’i), kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Yusuf : 53)

 

 

Apabila sudah diperbudak nafsu amarah bissu’i, pertanda hatinya sudah mati, akal sehatnya hilang, nuraninya tertutup, hidupnya dalam keadaan gelap gulita, tidak mampu melihat kebenaran dan kebatilan.

 

(46). أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

 

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (Q.S Al-Hajj : 46)

 

 

Hidupnya dalam keadaan melanggar aturan-aturan Allah, tetapi tidak merasa bersalah. Akhirnya, penyesalan itu tidak berguna lagi ketika menerima kitab berisi perbuatan-perbuatan buruk mengikuti hawa nafsu yang menjerumuskannya sebagai ahli neraka.

 

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدً

 

Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya dan mereka berkata, ‘Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun.’” (Q.S. Al-Kahfi : 49)

 

 

Itu nafsu yang ada didalam diri kita. Setiap orang pasti mempunyainya, namun yang membedakan adalah bagaimana mengendalikannya. Nafsu amarah diperlukan ketika melihat kemunkaran. Jangan sampai ketika ada kemunkaran, tidak ada sedikit pun perasaan marah bahkan hanya dingin-dingin saja. [ ]

 

 

Sumber: dikutip dari buku “ Kunci Sukses Meraih Cinta Ilahi penulis Dr. H. Aam Amiruddin, M.Si

 

4

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

820

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

(Visited 80 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment