Shalat Sunat Yang Disangka Shalat Rawatib, Ini Waktunya

PERCIKANIMAN.ID – –  Shalat rawatib adalah shalat sunat yang memiliki waktu yang terikat, yaitu dilaksanakan sebelum atau sesudah shalat fardhu. Hukum shalat ini adalah sunah muakad (sunah yang sangat dianjurkan).

 

Namun ada beberapa shalat sunat yang disangka shalat sunat Rawatib pada bukan. Berikut ini adalah beberap shalat sunat yang bukan termasuk shalat sunat Rawatib:

 

  1. Shalat sunat sebelum shalat Ashar

Keterangan mengenai shalat ini terdapat dalam hadis Ibnu Umar r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bercerita, “Semoga Allah Swt. mengasihi orang-orang yang mengerjakan shalat empat rakaat sebelum Ashar.” (H.R. Ahmad)

 

Kemudian dalam hadits yang lain dari Ali bin Abu Thalib r.a. berkata, “Rasulullah Saw. pernah melaksanakan shalat dua rakaat sebelum Ashar.” (H.R. Abu Daud)

 

Abdullah bin Baz r.a., saat mengupas kitab Bulughul Maram no. 382 menyatakan bahwa hadis tersebut berstatus zayyid, tidak ada masalah dengan sanadnya. Hadis tersebut menunjukkan disyariatkannya shalat empat rakaat sebelum Ashar, sebagai shalat sunat biasa, bukan termasuk Rawatib.

 

Sebab, Rasulullah Saw. tidak mengerjakannya secara rutin. Ali pernah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. shalat dua rakaat sebelum Ashar. Itu berarti bahwa kita dibolehkan mengerjakan shalat dua rakaat atau empat rakaat sebelum shalat Ashar.

 

 

  1. Shalat sunat dua rakaat setelah shalat Ashar

Hal ini berdasarkan sebuah hadits dari Aisyah r.a. yang berkata, “Demi yang membawa beliau pergi, beliau tidak pernah meninggalkannya sampai menjumpai Allah (meninggal) dan tidak menjumpai Allah sehingga beliau merasa berat dalam shalat. Kebanyakan beliau shalat sambil duduk, yaitu dua rakaat setelah Ashar, dan beliau tidak melaksanakannya di masjid karena khawatir menjadi berat atas umatnya. Beliau menyukai sesuatu yang meringankan umatnya.” (H.R. Bukhari)

 

Ada beberapa sahabat yang pernah melaksanakan shalat sunat ini karena melihat Nabi, tetapi kemudian meninggalkannya. Hal tersebut dijelaskan dalam hadis berikut ini.

 

Abu Hurairah r.a. berkata, “Kami pernah mengerjakannya, kemudian meninggalkannya.” Dalam kitab al-Fath ar-Rabbaniy 4: 210 dijelaskan bahwa mereka meninggalkannya setelah sampai larangan kepada mereka.

 

Dengan demikian, pelaksanaan shalat sunat setelah Ashar ini merupakan kekhususan bagi Nabi Saw. sebagaimana beliau melarang shaum wishal (shaum terus menerus). Beliau melarang umatnya melakukan shaum ini, tetapi beliau melaksanakannya.

 

Dalam keterangan hadits yang lain Aisyah r.a. berkata, “Rasulullah Saw. shalat setelah Ashar tetapi melarang umatnya melaksanakannya dan melaksanakan shaum wishal tetapi melarang wishal itu.” (H.R. Abu Daud)

 

 

  1. Shalat sunat sebelum shalat Magrib

Tidak seperti shalat sunat setelah Maghrib, shalat sebelum shalat Maghrib ini tidak termasuk ke dalam shalat sunat Rawatib walaupun terdapat beberapa keterangan yang membolehkannya,

 

Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Rasulullah Saw. pernah mengerjakan shalat dua rakaat sebelum Maghrib.” (H.R. Ibnu Hibban)

 

Abdullah bin Mughaffal r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Di antara setiap dua azan (azan dan iqamah) terdapat satu shalat. Di antara dua azan itu terdapat satu shalat.’ Pada yang ketiga kalinya, beliau bersabda, “Bagi yang menghendaki.” (H.R. Bukhari)

 

Jadi, pelaksanaan shalat sebelum shalat Maghrib ini disunahkan bagi yang memang menghendaki melakukannya. Rakaat shalat tersebut adalah dua rakaat.

 

Setiap shalat sunat yang dilakukan sebelum shalat wajib, waktunya adalah sejak masuknya waktu shalat wajib itu sampai iqamah dikumandangkan. Sedangkan setiap shalat sunat yang dilaksanakan setelah shalat wajib, waktunya adalah seusai shalat wajib itu sampai selesainya waktu shalat tersebut. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

 

Sumber: dikutip dari buku “ Melangkah Ke Surga Dengan Shalat Sunat “ karya Dr.Aam Amiruddin, M.Si

 

 

4

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

820

 

 

(Visited 944 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment