Hukum Berenang Bagi Muslimah Untuk Terapi, Boleh atau Tidak ?

0
218

Assalamu’alaykum.Pak Ustadz, apa hukumnya jika seorang wanita berenang di tempat umum dengan menggunakan pakaian renang khusus muslimah yang bertujuan untuk terapi?. Karena, saya harus menjalani renang berair panas sebagai terapi untuk mencegah osteoporosis.Saya juga berenang bersama terapis pria tetapi agak berjauhan dan tidak sendirian. Ada juga beberapa pasien lainnya. Mohon penjelasannya. Terima kasih. ( W via email )

 

iklan

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Sebelumnya harus dipahami bahwa menutup aurat adalah salah satu kewajiban bagi wanita yang telah dewasa atau baligh. Khususnya ditempat umum atau di luar rumah. Dalilnya sudah sangat jelas,

 

(59).يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

 

“Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka !” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allâh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.Al-Ahzâb:59)

 

 

Kemudian tentang batasan aurat atau anggota tubuh yang termasuk aurat sebagaimana disebutkan Rasulullah Saw dalam sebuah haditsnya,

 

 

“Wahai Asma ! Sesungguhnya wanita jika sudah baligh maka tidak boleh nampak dari anggota badannya kecuali ini dan ini (beliau mengisyaratkan ke muka dan telapak tangan”. ( HR. Abu Dâwud, no. 4104 dan al-Baihaqi, no. 3218. Hadist ini di shahihkan oleh syaikh al-Albâni rahimahullah)

 

 

 

Jadi merujuk pada keterangan hadits ini jumhur ulama menyebutkan bahwa selurut anggota tubuh wanita yang telah baligh adalah aurat kecuali muka dan telapak tangan. Dengan demikian wanita yang telah baligh tidak boleh menampakkan auratnya di kepada yang bukan muhrimnya baik di dalam rumah maupun di luar rumah.

 

 

Memang perlu kita akui bahwa olahraga yang paling baik adalah berenang yang juga sunnah Rasul. Berenang juga bisa menjadi alternatif terapi yang diyakini dapat membantu kesehatan termasuk yang Anda jalani selama ini. Kita juga perlu mengakui bahwa kolam renang khusus muslimah masih sangat kurang bahkan masih jarang. Jangankan untuk kolam air hangat, kolam renang biasa saja masih jarang.

 

 

 

Tentu dalam hal ini kita harus bijaksana dalam memandang persoalan. Banyak ustadz atau dai lain yang ditanya persoalan ini menyatakan haram hukumnya seorang wanita berenang di tempat umum meski telah menggunakan pakaian renang muslimah karena dianggap masih membentuk lekuk tubuh sehingga dianggap masih menampakkan aurat. Meski demikian, saya ingin memberikan solusi alternatif khususnya Anda yang berenang karena tujuan kesehatan atau terapi penyakit.

 

 

 

Pertama, Anda harus benar-benar berikhtiar untuk menutup aurat selama berenang dengan menggunakan pakaian renang khusus muslimah serta menyiapkan handuk khusus yang bisa menutupi badan setelah keluar dari kolam.

 

 

 

Ini sebagai ikhtiar kita dalam rangka menjaga aurat selama di tempat berenang. Mengingat untuk beberapa orang mungkin salah satu terapi untuk penyembuhan penyakitnya memang harus melalui kolam air hangat, sehingga kurang bijak bila kita menyatakan haram tanpa memberi solusi.

 

 

Adapun tentang terapis lelaki, selama Anda berusaha agar tidak berkhalwat dan tetap bisa menjaga batasan-batasan syariat, tentu hal itu tidak apa-apa. Bila niat kita untuk penyembuhan dan tanpa ada maksud maksiat atau menjerumuskan diri ke dalam dosa, tentu hal itu bisa ditolelir sebagai sebuah kedaruratan saja.

 

 

Meski demikian akan lebih aman dan nyaman jika Anda saat terapi bisa ditemani suami atau anak atau saudara Anda. Dengan akan mengurangi potensi untuk terjadinya khalwat atau berdua saja. Kemudian tetap antara Anda dan terapis yang pria tersebut harus saling menjaga pandangan atau menutup aurat masing-masaing.  Dalam haditsnya Rasul Saw bersabda :

 

 

لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ، وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ، وَلاَ يُفْضِي الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِي الثَّوْبِ الْوَا حِدِ، وَلاَ تُفْضِي الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةَ فِي الثَّوْبِ الْوَحِدِ

 

 

Janganlah seorang lelaki melihat aurat lelaki (lainnya), dan janganlah pula seorang wanita melihat aurat wanita (lainnya). Seorang pria tidak boleh bersama pria lain dalam satu kain, dan tidak boleh pula seorang wanita bersama wanita lainnya dalam satu kain.” ( HR. Muslim )

 

Sekali lagi, Anda harus mengingat pesan saya tadi bahwa Anda harus betul-betul berikhtiar dalam menjaga aurat selama di tempat umum tersebut. Selanjutnya Anda juga sebisa mungkin tetap mencari ikhtiar atau alternatif terapi yang lain yang lebih aman dari terbukanya aurat. Misalnya terapi senam atau olah raga lainnya. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu a’alam bishshawab. [ ]

 

4

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

692

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman