Shalat Jamak dan Qashar Dalam Perjalanan, Siapa Yang Imam Muqimin atau Musafir ?

PERCIKANIMAN.ID – – Qashar artinya kurang, maksudnya shalat wajib yang empat rakaat (Dhuhur, Ashar dan Isya’) dilaksanakan dua rakaat, Shalat Qashar hanya bisa dilakukan ketika safar. Diantara dalil-dalil yang berkaitan dengan qashar ini adalah dalam Al Quran maupun hadits Rasulullah Saw,

 

 

 

(101:وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فَى اْلأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوْا مِنَ الصَّلَوةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا إِنَّ الْكَافِرِيْنَ كَانُوْا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِيْنًا (النسآء

 

 

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidak mengapa kamu meng-qashar shalat-mu jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu”  (Q.S. An-Nisa : 101)

 

 

 

Kemudian dalam hadits juga disebutkan sebagai berikut,

 

 

قَالَ يَعْلَى لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : مَالَنَا نَقْصُرُ وَقَدْ أَمنَا ؟ فَقَالَ : سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللهُ بِهَا عَلَيْكُمْ فَاقْبَلُوْا صَدَقَتَهُ – رواه مسلم –

 

 

“Abu  Ya’la bertanya kepada Umar Bin Khath-thab Radhiyallaahu ‘ Anhuma : Mengapa kita meng-qashar shalat padahal kita sudah aman?  Umar menjawab : Saya pernah bertanya (seperti itu) kepada Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam lalu beliau menjawab : (shalat qashar) adalah shadaqah yang Allah berikan kepada kalian, maka terimalah shadaqah-Nya”  (H.R. Imam Muslim)

 

 

Berdasarkan keterangan di atas, jelaslah bagi orang safar diberi keringanan untuk meringkas shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat. Hal ini selalu dilakukan Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dan para shahabat ketika safar.

 

Lalu saat menjadi musafir atau saat bepergian (shafar) kemudian kita hendak shalat maka siapa yang akan menjadi imam dan siapa makmumnya? Apakah sang musafir ( orang yang dalam perjalanan) atau yang sang muqimin ( orang yang berdiam/penduduk setempat)?.

 

Terkait hal ini setidaknya ada dua pendapat yang dapat kita lakukan.

 

 

Pertama, Musafir berma’mum kepada yang Muqim

 

Secara hukum, musafir (orang yang bepergian) diperbolehkan berma’mum kepada yang muqim (penduduk setempat). Apabila musafir berma’mum kepada yang muqim maka musafir harus itmam (shalatnya harus seperti yang muqim, jadi tidak diqashar). Hal ini berdasarkan keterangan :

 

قَالَ نَافِعٌ : كَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ إِذَا صَلَّى مَعَ اْلإِمَامِ صَلاَهَا أَرْبَعًا وَإِذَا صَلَّى وَحْدَهَا صَلاَهَا رَكْعَتَيْنِ  (رواه مسلم)

“Nafi’ berkata : Ibnu Umar Radhiyallaahu ‘Anhu apabila berma’mum kepada yang muqim ia shalat empat rakaat dan apabila shalat sendirian (tidak berma’mum kepada yang muqim), ia shalat dua rakaat (qashar). (H.R. Imam Muslim)

 

 

Kedua, Muqimin berma’mum kepada Musafir

 

Secara hukum, muqimin (penduduk setempat) diperbolehkan berma’mum kepada musafir. Apabila muqimin berma’mum kepada musafir, maka musafir tetap melakukan shalat dua rakaat (qashar) dan muqimin harus itmam (shalatnya tetap empat rakaat).

 

 

Adapun teknis pelaksanaannya, ketika imam yang musafir salam, maka ma’mum muqimin itu melanjutkan / menyempurnakan shalatnya. Hal tersebut berdasarkan keterangan :

 

 

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيٍّ  رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ :  مَاسَفَرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , سَفَرًا إِلاَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى يَرْجِعَ وَأَنَّهُ أَقَامَ بِمَكَّةَ زَمَانَ الْفَتْحِ ثَمَان عَشْرَةَ لَيْلَةً, يُصَلِّى بِالنَّاسِ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ إِلاَّ الْمَغْرِب ثُمَّ يَقُوْلُ : يَاأَهْلَ مَكَّةَ قُوْمُوْا فَصَلُّوْا رَكْعَتَيْنِ أُخْرِيَيْ فَأَنَا قَوْمٌ سَفَرٌ (رواه أحمد وأبوداود والترمذى وحسنه والبيهقى,نيل الأوطار)

 

“Imron Bin Hushay Radhiyallaahu ‘Anhu berkata : Selama Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam safar, beliau selalu shalat dua rakaat (qashar) hingga pulang (kembali ke Madinah) Beliau berada di Makkah selama delapan belas hari ketika Fatu Makkah (penaklukan kota Makkah), dan shalat dua rakaat – dua rakat (qashar) kecuali maghrib. Beliau bersabda : Wahai penduduk Makkah (muqimin)! Teruskan shalat kalian yang dua rakaat, karena kami kaum yang sedang safar!” (H.R. Imam Ahmad, Imam Abu Dawud, Imam At-Tirmidzy dan Imam Al-Baihaqy – Nailul Authar Vol III p.166)

 

 

Jadi saat kita menjad musafir maka boleh-boleh saja menjadi imam dalam shalat berjamaah dengan makmumnya kaum muqimin atau penduduk setempat. Atau pun  sang musafir tetap menjadi makmum dengan ketentuan tersebut. Intinya usahakan tetap shalat berjamaah meskipun dalam perjalanan (shafar). [ ]

 

 

Disarikan dari buku “ Sudah Benarkah Shalatku? “ karya Dr. Aam Amiruddin,M.Si

 

4

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

920

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 557 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment