Keguguran Karena Hamil Kosong, Apakah Perlu Mandi Wajib dan Masa Nifas?

Assalamu’alaykum. Pak Ustadz, kata dokter saya mengalami apa yang disebut dengan hamil kosong/anggur. Diperkiraan usia kandungan saya sekira 5 mingguan. Saya waktu itu mengalami sedikit pendarahan selama seharian. Saya putuskan untuk shalat. Apakah yang demikian ada masa nifasnya? Berapa hari ? bagaimana kalau pendarahannya hanya 1 hari saja apakah harus menunggu 40 hari? Dan apakah harus mandi wajib? Mohon penjelasannya. ( Hum via email )

 

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Sedikit perlu saya jelaskan tentang istilah hamil kosong ini. Dari penjelasan medis bahwa yang dimaksud dengan hamil kosong adalah suatu kondisi calon janin tidak berubah menjadi bayi.

 

Jadi, hanya kantong yang terbentuk, tetapi janinnya tidak berkembang. Tidak diketahui secara pasti apakah di dalam kantong itu ada janin yang sangat kecil yang tidak dapat dilihat oleh mata, atau hanya kantongnya yang tumbuh.

 

Subhanallah, sampai sekarang belum dapat kita ketahui mengapa kantong rahim bisa tumbuh terus tanpa ada janin di dalamnya. Seharusnya kalau janinnya tidak terbentuk, keseluruhan perangkat pendukung kehamilan tidak terbentuk juga.

 

Bagaimana cara mendeteksi hamil kosong? Sekarang ada alat pengindraan yang disebut dengan ultrasonografi (USG). Dengan USG, kita dapat melihat kantong kehamilan. Bila besarnya sudah lebih dari 2,5 cm, semestinya janin sudah dapat terlihat.

 

Bila janin tidak terlihat pada kantong janin yang ukurannya 2,5 cm, kemungkinan besar terjadi hamil kosong. Bila itu yang terjadi, harus diambil tindakan pengeluaran kandungan, baik dengan menggunakan obat atau pengerokan rahim (kuretase).

 

Lalu bagaimana dengan kondisi keguguran dari hamil kosong tersebut?. Keguguran yang terjadi ketika janin berada pada dua fase pertama, yaitu fase nutfah yang masih bercampur dengan sperma, berlangsung selama 40 hari pertama dan fase ‘alaqah, yaitu segumpal darah yang berlangsung selama 40 hari kedua sehingga total dua fase ini berjalan selama 80 hari maka darah yang keluar diangga sebagai darah istihadhah atau darah yang rusak, ia bukan darah nifas karena melahirkan .

 

Hal ini merujuk pada hadits Rasulullah Saw yang bersabda,

 

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ، ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ مَلَكًا فَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ وَيُقَالُ لَهُ اكْتُبْ عَمَلَهُ وَرِزْقَهُ وَأَجَلَهُ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوح

 

Seseorang dari kamu ditempatkan penciptaannya di dalam perut ibunya dalam selama empat puluh hari, kemudian menjadi `alaqah selama itu pula (40 hari), kemudian menjadi mudhghah selama itu pula (40 hari); kemudian Allah mengutus seorang malaikat lalu diperintahkan empat kalimat (hal), dan dikatakan kepadanya: Tulislah amal, rizki dan ajalnya, serta celaka atau bahagia-(nya); kemudian ditiupkan ruh padanya.” ( HR. Bukhari )

 

Maka perihal darah yang keluar karena sebab keguguran, para ulama fikih menyepakati bahwa jika terjadi keguguran pada fase 40 hari pertama (0-5 minggu) maka darah yang keluar dihukumi sebagai darah istihadhah atau darah yang rusak, ia bukan darah nifas, setidaknya ini adalah pendapat para ulama empat madzhab.

 

 

Apabila terjadi keguguran pada dua fase ini, ulama sepakat bahwa status darah keguguran tidak dihukumi sebagai darah nifas. Para ulama menghukumi darah ini sebagai darah istihadhah sehingga hukum yang berlaku untuk wanita ini sama dengan wanita suci yang sedang mengalami istihadhah, sehingga tetap wajib shalat, puasa jika tidak lemah.

 

 

Kemudian apakah harus mandi besar atau mandi wajib seperti setelah haid atau nifas? Para ulama menegaskan bahwa wanita yang mengalami atau mengeluarkan darah kotor atau istihadhah tidak perlu mandi wajib. Cukup berwudhu dan membersihkan darahnya atau memakai pemabalut.

 

 

Hal ini berdasarkan sebuah  hadits dari Aisyah ra yang menceritakan tentang Fatimah bintu Abu Hubaisy, saat bertanya kepada Rasulullah perihal darah istihadah yang dialaminya.Lalu Fatimah bertanya apakah ini menyebabkan tidak shalat. Kemudian Rasul menjawab,

 

 

لَا إِنَّمَا ذَلِكَ عِرْقٌ وَلَيَْس بِحَيْض فَدَعِي اَلصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ اَلدَّمَ ثُمَّ صَلِّي

 

“Tidak, itu hanyalah darah penyakit, bukan darah haid. Bila haidmu datang tinggalkanlah shalat. Dan bila darah itu berlanjut (dari jadwal haidmu), maka bersihkanlah dirimu dari darah itu, lalu shalatlah.” (Muttafaqun ‘alaih).

 

 

Jadi untuk setiap kali waktu shalat, wanita yang mengalami atau keluar darah istihadhah disyariatkan untuk membersihkan darahnya dan berwudhu. Jadi yang Anda alami tidak termasuk dalam nifas  dan tidak harus menunggu 40 hari.  Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

 

4

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

782

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 191 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment