Ada Gerhana Bulan, Ini Rangkaian Ibadah Sunahnya

0
567
gerhana bulan

PERCIKANIMAN.ID – – Insya Allah Rabu dini hari (17 Juli 2019) akan terjadi fenomena alam luar biasa atas Kehendak dan Keagungan Allah Swt, yaitu: Gerhana Bulan yang bisa dilihat di seluruh wilayah Indonesia, prediksi bayangan gelap mulai pukul 03:01 wib hingga 05:59 Wib.

 

iklan

Rangkaian fase gerhana bulan ini diperkirakan sebagai berikut:

1) Mulai Fase Awal Bayang-bayang Penumbra: 01:43 WIB.

2) Fase Umbra (Gelap): 03:01 WIB – 05:59 WIB.

3) Akhir Rangkaian Gerhana: 07:17 WIB.

 

Sebagai seorang mukmin, kita harus menyikapi datang gerhana bulan ini dari kacamata Islam dan tidak terjebak pada klenik atau mistik seputar gerhana.

 

Gerhana Dalam Perspektif Islam

 

Secara bahasa, kusuf berarti perubahan warna menjadi hitam, sedangkan khusuf berarti kurang atau pudar. Gerhana bulan atau matahari berarti perubahan bulan atau matahari atau pudarnya cahaya dari dua benda tersebut.

 

Secara istilah, kata kusuf dan khusuf diartikan terhalangnya cahaya matahari atau bulan, meskipun hanya sebagian. Gerhana timbul karena kuasa Allah Swt. bukan karena kejadian ataupun peristiwa tertentu.

 

Pada zaman Rasulullah, gerhana hanya terjadi satu kali. Datangnya bertepatan dengan hari kematian putra beliau, Ibrahim, pada Senin 29 Syawal 10 Hijrah atau bertepatan dengan 27 Januari 623 Masehi pada pukul 08.30. Penduduk saat itu menghubungkan gerhana dengan kejadian tersebut. Menanggapi hal ini, beliau bersabda, “Gerhana matahari dan bulan itu merupakan dua tanda kebesaran Allah. Keduanya terjadi bukan karena kematian atau kehidupan seseorang. Jika kalian medapati gerhana matahari dan bulan, bersegeralah melaksanakan shalat.” (Muttafaq ‘alaih)

 

Dalam riwayat lain “… melainkan merupakan dua tanda kebesaran Allah. Dia hendak menjadikan para hamba-Nya takut kepada-Nya dengan adanya dua kejadian tersebut.” (H.R. Bukhari)

 

Keterangan ini menegaskan bahwa Allah hendak memberikan peringatan kepada hamba-hamba-Nya bahwa Dia sanggup melakukan apa pun. Sehingga, seharusnya hamba-hamba-Nya merasa takut dan berhenti melakukan maksiat.

 

Mengomentari hadis tersebut, Ibnu Taimiyah r.a. berkata, “Nabi menyebut bahwa hikmah adanya gerhana adalah pemberian rasa takut pada diri hamba, sebagaimana mereka merasa takut oleh beberapa peristiwa, seperti angin kencang, gempa bumi, kemarau panjang, hujan terus-menerus, dan berbagai peristiwa menyengsarakan lainnya. Allah Swt. pernah mengazab umat-umat terdahulu dengan angin, badai, dan topan.

 

Allah Swt. berfirman, “Mereka akan Kami azab karena dosa-dosa mereka. Di antara mereka ada yang Kami hujani dengan batu kerikil, ada yang disambar suara keras mengguntur, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada pula yang Kami tenggelamkan. Allah sama sekali tidak bermaksud menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi dirinya sendiri.” (Q.S. Al-‘Ankabū [29]: 40)” (Panduan Shalat Sunah dan Shalat Khusus, Al-Qathani, hlm. 442)

 

Oleh karena itulah, untuk menghilangkan rasa takut dan mendatangkan ketenangan, Rasulullah memerintahkan untuk berdoa, memohon ampunan kepada Allah dari segala dosa yang telah diperbuat.

 

Dalam Shalah al-Mu’min karya Imam Al-Qathani disebutkan beberapa hikmah terjadinya gerhana, yaitu:

  • Allah berkuasa menggerakkan dua benda yang sangat besar, yakni matahari dan bulan.
  • Allah menampakkan kelemahan matahari dan bulan yang selalu disembah dan diagung-agungkan.
  • Menyadarkan hati agar bangkit dari lena dan lupa.
  • Memberikan kesempatan kepada manusia untuk menyaksikan perumpamaan kecil dari peristiwa kiamat. Allah Swt. berfirman, “Dan bulan pun telah hilang cahayanya. Lalu, matahari dan bulan dikumpulkan.” (Q.S. Al-Qiyāah [75]: 8-9)
  • Bulan dan matahari itu awalnya ada. Ketika gerhana terjadi, keduanya sirna. Kemudian kedua benda itu berangsur kembali sebagaimana kondisi semula, utuh, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Hal tersebut sebagai peringatan agar kita tidak berbuat aniaya. Kalaupun telah melakukan kesalahan, segera bertobat. Niscaya Allah Swt. akan selalu mengampuni dan menghapus dosa kita.
  • Memberi tanda bahwa terkadang seseorang yang tidak melakukan maksiat bisa juga terkena imbas petaka, sekaligus memberikan peringatan bagi para pelaku dosa.

 

Manusia telah meninggalkan perasaan cemas dan takut saat melaksanakan shalat. Peristiwa gerhana ini bisa mengembalikan perasaan cemas, takut, dan tidak berdaya sehingga manusia segera bertobat.

 

bnu Taimiyah berkata, “Gerhana bulan dan matahari terjadi pada saat-saat tertentu yang telah diperhitungkan, sebagaimana bulan sabit bisa diperkirakan kemunculannya. Allah Swt. telah memberlakukan ketentuan perhitungan bagi malam, siang, musim dingin, musim kemarau, dan segala sesuatu yang terjadi akibat peredaran matahari dan bulan. Itu semua tanda-tanda kebesaran Allah Swt.”

 

Cara Shalat Gerhana

 

Berdasarkan beberapa riwayat, shalat Gerhana yang dicontohkan Rasulullah Saw. adalah dua rakaat dengan empat kali ruku dan empat kali sujud. Aisyah r.a. berkata, “Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Saw. Beliau lalu mengutus seorang penyeru mengumandangkan ‘Asshalatu Jaami’at’. Kemudian beliau shalat empat kali ruku pada dua rakaat dan empat kali sujud” (H.R. Bukhari, Muslim, Ibnu Hibban, dan Nasa’i). Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa shalat Gerhana dilakukan di masjid dan berjamaah.

 

Terdapat beberapa hadis dhaif yang menyebutkan bahwa perempuan dilarang ikut dalam jamaah shalat gerhana. Hal tersebut langsung terbantahkan dalam hadis berikut ini. “Pada masa Rasulullah Saw. terjadi gerhana matahari. Asma mendatangi Aisyah dan ternyata dia sedang shalat. “Kenapa orang-orang mendirikan shalat?” tanya Asma. Aisyah memberi isyarat dengan kepalanya ke langit. “Peringatan dari Allah?” tanya Asma lagi. Ketika itu Rasulullah Saw. berdiri sangat lama dalam shalatnya sehingga Asma tampak letih dan hampir tak sadarkan diri. Lalu Asma mengambil sekantung air yang berada di dekatnya dan menyiramkan ke atas kepala dan wajahnya. Setelah Rasulullah Saw. selesai shalat, matahari telah tampak kembali.” (Muttafaq ‘alaih)

 

Menanggapi hadis ini, Ibnu Qudamah r.a. berkata, “Wanita juga dianjurkan shalat Kusuf berjamaah. Sebab, Aisyah dan Asma turut shalat bersama Rasulullah.” An-Nawawi mengungkapkan, “Hadis di atas menunjukkan bahwa wanita dianjurkan shalat gerhana secara berjamaah dan posisinya berada di belakang jamaah pria.”

 

Singkatnya, gerakan dalam shalat Gerhana adalah sebagai berikut.

Rakaat pertama:

  • Takbiratul Ihram
  • Membaca doa iftitah
  • Membaca Al-Fātiĥah
  • Membaca surat yang ada dalam Al-Qur’an
  • Ruku
  • I’tidal (bangkit dari ruku)
  • Jika dalam shalat wajib setelah i’tidal dilanjutkan dengan sujud, dalam shalat Gerhana badan kembali tegak dan bersedekap seperti setelah melakukan takbiratul ihram. Kemudian membaca Al-Fātiĥah, surat dalam Al-Qur’an, ruku, dan sujud seperti biasa. Urutan 1-7 dihitung satu rakaat. Jadi, dalam satu rakaat ada dua kali ruku dan dua kali sujud.

 

Rakaat kedua dilaksanakan sama persis seperti rakaat pertama, tetapi tanpa membaca doa iftitah. Kemudian, ditutup dengan tasyahud akhir.

 

Bacaan dalam Shalat Gerhana

Shalat gerhana tidak didahului dengan azan dan iqamah. Hal ini sebagaimana keterangan Aisyah yang berkata, “Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Saw. Beliau lalu mengutus seorang penyeru mengumandangkan ‘Asshalatu Jaami’at’. Kemudian beliau shalat empat kali ruku pada dua rakaat dan empat kali sujud.” (H.R. Bukhari, Muslim, Ibnu Hibban, dan Nasa’i). Rasulullah hanya memerintahkan seseorang untuk mengumumkan ajakan dilaksanakan shalat berjamaah, tetapi tidak pernah ada perintah melakukan azan dan iqamah.

 

Mengenai bacaan Rasulullah dalam shalat gerhana, terdapat beberapa keterangan.

 

Aisyah r.a. telah berkata, “Telah terjadi gerhana matahari. Rasulullah Saw. lalu berdiri (shalat) kemudian membaca surat yang panjang, lalu ruku (sangat) lama, kemudian bangkit dari ruku lalu mulai membaca surat yang lain, kemudian ruku sampai selesai, dan bersujud. Beliau juga melakukan hal seperti itu pada rakaat kedua.” (H.R. Bukhari)

 

Walaupun dalam hadis tersebut tidak disebutkan mengenai bacaan Al-Fātiĥah, hal itu tidak perlu diperdebatkan lagi karena, Al-Fātiĥah merupakan salah satu rukun shalat sehingga sudah dapat dipastikan beliau membaca surat tersebut. Beliau tidak pernah meninggalkan surat ini dalam bacaan shalatnya, baik itu shalat wajib maupun shalat sunat.

 

Tidak ada keterangan khusus dalam hadis-hadis sahih mengenai surat yang dibaca Rasulullah Saw. Namun, dapat dipastikan surat-surat yang dibaca tersebut sangat panjang, salah satunya keterangan dari Asma di atas. “… Ketika itu Rasulullah Saw. berdiri sangat lama dalam shalatnya sehingga Asma tampak letih dan hampir tak sadarkan diri. Lalu Asma mengambil sekantung air yang berada di dekatnya dan menyiramkan ke atas kepala dan wajahnya. Setelah Rasulullah Saw. selesai shalat, matahari telah tampak kembali.” (Muttafaq ‘alaih)

 

Gerhana dan Memperbanyak Ibadah

 

Selain shalat gerhana, kita juga dianjurkan untuk berdoa (dengan permintaan apa pun itu) serta memperbanyak akbir dan sedekah. Hal ini sebagaimana diterangakan dalam keterangan berikut ini.

 

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat gerhana tersebut, maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (H.R. Bukhari)

 

Jadi, mari kita maksimalkan datangnya gerhana bulan kali ini dengan beribadan dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. yang telah menciptakan jagat raya dan seisinya ini untuk kita selaku hamba-Nya. Allahu a’lam. [ ]

 

*Disarikan dari buku ” Melangkah Ke Surga Dengan Shalat Sunat ” tulisan Dr. Aam Amiruddin, M.Si

 

5

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

825

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman