Perjanjian Pra Nikah Menurut Islam, Bolehkah Memberi Syarat Agar Suami Tidak Berpoligami ?

0
335

 

Assalamu’alaykum. Pak Ustadz yang saya hormati, mohon maaf mau bertanya. Bolehkah seorang wanita atau calon istri yang hendak menikah melakukan perjanjian dengan calon pasangannya sebelum menikah (perjanjian pra nikah), misalnya dengan memberi syarat agar suami tidak berpoligami atau yang lainnya? Mohon penjelasannya. ( Y via email )

iklan

 

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. pernikahan adalah momen atau peristiwa yang agung dan mulia serta adanya perjanjian yang luhur (mitsaqan ghaliza). Untuk itu sudah sepantasnya jika dipersiapkan dan direncanakan secara matang dan dilakukan dengan penuh kekhidmatan.

 

 

Islam sendiri membolehkan beberapa tindakan dilakukan sebelum pernikahan dengan tujuan agar pernikahan tersebut benar-benar ada dalam diridhoi oleh Allah Swt. Selama hal itu tidak melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Islam, tentu dibolehkan.

 

 

Termasuk perjanjian pra-nikah diperbolehkan selama hal tersebut ditujukan untuk kebaikan bersama khususnya suami istri setelah menikah. Perjanjian seperti permintaan calon istri agar calon suaminya meninggalkan hobi yang kurang baik, misalnya suka begadang atau permintaan istri setelah menikah suami berhenti merokok dan sebagainya.

 

 

Demikian juga permintaan dari calon suami kepada calon istri bahwa nanti setelah menikah  istri untuk keluar dari pekerjaanya agar bisa berkonsentrasi mengurus rumah. Permintaan calon suami agar nanti setelah menikah istri memakai jilbab atau menutup aurat. Tentu perjanjian demikian agar rumah tangga menjadi harmonis tentu boleh saja dilakukan.

 

 

Namun demikian, perjanjian untuk tidak berpoligami tentu tidak bisa dilakukan karena ada perkara yang tidak sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Sebagaimana yang kita ketahui dan yakini bahwa dalam Islam seorang suami boleh punya istri lebih dari satu. Dalam Al Quran sangat jelas ayatnya,

 

 

“…Nikahilah wanita-wanita yang kamu sukai, boleh dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak bisa berlaku adil, maka nikahilah seorang wanita saja…”  (Q.S. An-Nisa :3)

 

 

Secara prinsip seorang laki-laki diperbolehkan mempunyai istri lebih dari satu asalkan bisa berlaku adil kepada istri-istrinya. Jadi berpoligami itu pilihan bukan keharusan atau bukan yang wajib bagi seorang laki-laki. Ada syarat dan ketentuannya yang harus dipenuhi dan juga bukan sekedar kemauan tetapi kemampuan berlaku adil.

 

 

Kalau seorang laki-laki mampu berlaku adil, mampu secara mental, spiritual dan financial ( nafkah lahir dan batin ) kepada istri-istrinya maka boleh berpoligami. Tetapi meskipun ia mampu berlaku adil, mampu secara mental, spiritual dan financial ( nafkah lahir dan batin ) namun tidak mau berpoligami atau cukup satu istri, tentu boleh-boleh saja.

 

 

Anda tidak mau dimadu, itu hak Anda. Tetapi poligami sebagai bagian dari syariat Islam dimana Allah dan Rasul-Nya membolehkan itu tidak bisa ditolak. Perkara mau melaksanakan atau tidak maka itu sebuah pilihan.

 

 

Sebab dalam beberapa hal seorang suami boleh menikah lagi atau poligami jika ada hal-hal darurat dalam rumah tangga tersebut. Misalnya, secara medis bahwa istri dinyatakan mandul dan divonis tidak bisa punya anak. Sementara suami subur dan menginginkan anak. Disisi lain istri tidak mau dicerai maka boleh suami menikah lagi.

 

 

Demikian juga misalnya, istri dinyatakan sakit menahun dan tidak bisa atau tidak memungkinkan dapat melayani kebutuhan biologis suaminya. Sementara, sebagai laki-laki normal suami perlu layanan atau menyalurkan hasrat biologisnya. Disisi lain istri tidak mau dicerai maka dalam kondisi demikian untuk menghindari suami berbuat zina dengan wanita lain maka suami diperbolehkan menikah lagi.

 

 

Sekali lagi, perkara poligami itu bukan sekedar kaum laki-laki yang diuntungkan atau menjadi monopoli kaum pria. Tetapi syariatlah yang telah membolehkan dan mengaturnya. Anda boleh tidak melakukan tetapi tidak boleh menolak ketentuan syariat.

 

 

Hal ini bisa jadi sama persis seperti suami yang membuat perjanjian pra nikah yang siap menikah tapi tidak akan memberi nafkah secara maksimal. Padahal ketentuan Allah adalah seorang suami wajib memberikan nafkah. Dalam Al Quran dijelaskan,

 

 

“….Kewajiban ayah (suami), yaitu memberikan nafkah dan pakaian kepada mereka dengan cara yang baik…..” (QS. Al-Baqarah : 233)

 

Secara syariat bahwa seorang suami adalah berkewajiban memberikan nafkah kepada istri dan keluarganya. Kalau kemudian misalnya, membuat perjanjian pra nikah suami tidak akan atau tidak mau memberi nafkah jelas ini terlarang.

 

Jadi kesimpulannya, calon suami dan calon istri boleh melakukan perjanjian pra nikah selama untuk kebaikan dalam rumah tangga nantinya. Namun perjanjian tersebut tidak boleh  bertentangan dengan syariat Islam.  Prinsipnya, nikah adalah ikatan sakral yang harus betul-betul dipertimbangkan secara maksimal dari aspek fisik, mental, dan agama. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishshawab. []

4

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

872

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman