Hukum Memanfaatkan Barang Jaminan, Boleh atau Tidak ?

 

Assalamu’alaykum. Pak Aam, sauadara saya yang mau meminjam uang. Sebagai jaminan atau agunannya ada sebuah sebuah sertifikat tanah yang ada tokonya.Tapi toko tersebut tutup atau tidak dipakai lagi.  Bolehkah saya menerima dan memanfaatkan toko tersebut untuk usaha atau disewakan?. Mohon penjelasannya. ( Donna via fb )

 

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Pada prinsip hutang piutang dalam Islam itu diperbolehkan, sebab bisa dikategorikan sebagai bentuk tolong menolong. Namun tentu dalam keadaan darurat dan untuk kebajikan atau kebaikan. Jadi bukan tolong menolong dalam hal ini hutang piutang dalam keburukan atau kemunkaran.

 

 

Dalam QS. Al-Baqarah ayat 282 terdapat keterangan yang sangat panjang mengenai cara utang-piutang. Ayat ini merupakan ayat terpanjang dalam Al-Qur’an.

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ ۚ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ ۚ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا ۚ فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ ۚ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ ۖ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَىٰ ۚ وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا ۚ وَلَا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَىٰ أَجَلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَىٰ أَلَّا تَرْتَابُوا ۖ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَا ۗ وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ ۚ وَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ ۚ وَإِنْ تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

 

“Hai, orang-orang beriman! Apabila kamu melakukan utang pi-utang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Hendaklah penulis di antaramu menulis-kannya dengan benar. Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya. Hendaklah orang yang berutang itu mendiktekannya, hendaklah ia bertakwa kepada Allah, Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikit pun. Jika yang berutang itu orang yang lemah intelektualnya, lemah keadaannya, atau tidak mampu mendiktekannya sendiri, hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. Persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di antaramu. Jika tidak ada dua orang saksi laki-laki, boleh seorang laki-laki dan dua orang perempuan di antara orang-orang yang kamu sukai dari para saksi yang ada. Dengan begitu, jika seorang lupa, yang lain dapat mengingatkannya. Saksi-saksi itu jangan menolak apabila dipanggil. Jangan kamu bosan menuliskannya hingga batas waktunya, baik utang itu kecil maupun besar. Hal demikian lebih adil di sisi Allah, lebih dapat menguatkan kesaksian, dan lebih mendekatkanmu pada keyakinan. Kecuali, jika perdagangan tunai yang kamu jalankan di antaramu, maka tidak dosa jika kamu tidak menuliskannya. Ambillah saksi apabila kamu berjual beli dan jangan mempersulit penulis dan saksi. Jika kamu mempersulitnya, sungguh itu perbuatan fasikmu. Bertakwalah kepada Allah, Allah mengajarimu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” ( QS. Al Baqarah: 282 )

 

 

Intinya, ayat ini memerintahkan kalau kita melakukan utang-piutang, hendaklah tertulis; tulis secara rinci kapan utang itu akan dibayar, bagaimana cara pembayarannya, dan kalau tidak bisa membayar sesuai waktu yang dijadwalkan, apa konsekuensinya.

 

 

Dalam proses penulisan utang-piutang ini, harus ada saksi yang dinilai jujur. Tujuannya, kalau salah satu dari mereka (yang berutang-piutang) lupa, bisa saling mengingatkan. Kalau terjadi perselisihan, bisa merujuk pada perjanjian tertulis tersebut. Itu adalah ketentuan yang ideal, walaupun kita diperbolehkan melakukan transaksi utang-piutang tanpa ada bukti tertulis (bila satu sama lain saling percaya) dan yakin tidak akan jadi persoalan di kemudian hari.

 

 

Lalu pada ayat 283-nya disebutkan bahwa dalam utang-piutang boleh menggunakan agunan sebagai jaminan atau sebagai bukti itikad baik orang yang berutang, bahwa dia benar-benar bertanggung jawab akan utangnya dan akan mengembalikan sesuai perjanjian.

 

 

“Jika kamu dalam perjalanan dan tidak mendapatkan seorang penulis, hendaklah ada barang jaminan yang dipegang…” ( Q.S. Al-Baqarah: 283)

 

 

Jadi, kalau ada orang yang mau meminjam sesuatu pada kita, lalu secara sukarela menawarkan jaminan (agunan) baik dalam bentuk benda ataupun surat berharga, silakan terima kalau kita menginginkannya. Tapi kalau tidak mengingin kannya, karena percaya pada orang tersebut, diperbolehkan untuk menolak.

 

 

 

Mencermati ayat di atas, kita juga diperbolehkan menetapkan agunan (meminta jaminan) kepada orang yang akan berutang. Karena itu dalam perbankan Islam, ada persyaratan menyerahkan agunan/ jaminan bagi nasabah yang akan meminjam dana.

 

 

 

Pada dasarnya, fungsi agunan adalah untuk menjaga kepastian bahwa yang berutang akan membayar sesuai perjanjian. Bagimana kalau jaminan tersebut kita manfaatkan? Pada prinsipnya, barang gadaian/jaminan bukan untuk digunakan oleh pihak yang memberi utang atau yang menerima gadaian, tetapi hanya untuk jaminan atas pinjaman.

 

 

 

Jadi, manfaat atau hasil dari barang yang digadaikan dalam hal ini sertifikat dimana disitu ada toko maka tetap menjadi milik pengutang atau saudara Anda tersebut. Namun, kalau ada persetujuan dari saudara Anda bahwa barang gadaian/jaminan itu bisa dipergunakan, pemberi utang hukumnya mubah (boleh) menggunakan barang gadaian tersebut, dengan catatan seluruh biaya perawatan barang gadaian itu ditanggung oleh yang menggunakan barang. Ini perlu Anda bicarakan lagi dengan saudara Anda tersebut bagaimana ketentuannya.

 

 

Jadi, kalau Anda menerima sertifikat dimana disitu ada tokonya sebagai agunan, dan saudara Anda itu rela tokonya dimanfaatkan, maka Anda bertanggung jawab atas perawatannya,kebersihannya, dan sebainya sehingga ketika sudah habis masa pinjam dan saudara Anda melunasi pinjamannya maka toko tersebut tetap bagus dan utuh seperti sedia kala. Jangan sampai sebaliknya, bahkan bayar pajaknya pun harus menjadi kewajiban Anda, karena Anda yang memanfaatkan bangunan tersebut. Hal ini merujuk pada kasus yang terjadi pada zaman Rasulullah Saw.

 

 

Beliau membolehkan pemanfaatan barang gadaian berupa binatang tunggangan (unta, kuda, dll.) untuk diperah susunya, ditunggangi, dll. dengan catatan orang yang memanfaatkannya wajib memberi makan, minum, serta merawat binatang tersebut. Silakan perhatikan keterangan berikut. Nabi Saw. bersabda,

 

 

“Apabila binatang tunggangan (unta, kuda,) tergadai, boleh dinaiki (ditunggangi) dan susunya boleh di mi num, dan wajib atas orang yang menunggang dan meminum susunya memberi makan (merawatnya).” ( H.R. Bukhari)

 

 

Apabila agunan tersebut barang produktif, hasilnya harus diberikan kepada pemilik agunan, tidak boleh menjadi milik pemberi utang. Misalnya, kita memberikan pinjaman, si peminjam mengagunkan sebuah angkot, lalu kita operasikan sehingga menghasilkan keuntungan. Nah, kita harus menyerahkan hasilnya itu kepada pemilik angkot, tentunya setelah dipotong biaya operasional.

 

 

 

 

Kesimpulannya, dalam berutang-piutang diperboleh kan adanya agunan sebagai jaminan. Agunan (barang gadaian) bukan untuk digunakan oleh pemberi pinjaman, tetapi sebagai jaminan atas pinjaman. Jadi, manfaat atau hasil dari barang yang digadaikan tetap menjadi milik penggadai.

 

 

 

 

Namun, kalau ada persetujuan dari pengutang bahwa agunan itu dapat dipergunakan oleh pemberi pinjaman, hukumnya menjadi mubah (boleh) menggu nakan barang gadaian tersebut, dengan catatan seluruh biaya perawatannya ditanggung oleh yang menggunakan agunan (barang gadaian).

 

 

 

 

Saran saya, bicarakan saja sejak awal dengan saudara Anda. Jangan sampai ada masalah dikemudian hari terkait dengan pemanfaatan jaminan tersebut. Bagaimana pun persaudaraan jauh lebih penting dan berharga dari sekedar harta. Namun jika tidak ada kesepatan atau pembicaraan sejak awal bisa jadi malah membuat persaudaraan bahkan harta pun jadi hilang dan terputus. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat.  Wallahu A’lam bishshawab. [ ]

 

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

890

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 287 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment