Malam Lailatul Qadr dan Doa Saat I’tikaf

 

 

Tafsir surat Al Qadr ayat 3-5

Bagian 2

 

Oleh: Dr.Aam Amiruddin, M.Si

 

 

PERCIKANIMAN.ID – – Al-Qadr artinya kemuliaan. Surat ini terdiri atas lima ayat, termasuk golongan surat Makiyyah karena diturunkan sebelum Rasulullah Saw. hijrah ke Madinah. Dinamai Al-Qadr karena dalam surat ini ada penjelasan tentang lailatul Qadr (malam kemuliaan), yaitu malam diturunkannya Al-Quran. Siapa yang mendapatkannya akan memperoleh pahala kebaikan senilai seribu bulan.

 

 

Selanjutnya, Allah Swt. menjelaskan mengapa malam diturunkannya Al-Qur’an disebut malam kemuliaan.

 

(3). لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

 

“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS.Al Qadr: 3)

 

 

Kalimat lebih baik dari seribu bulan mengan dung dua pengertian. Pertama, diartikan secara harfi ah, apa adanya, tidak perlu tafsir apapun bahwa malam tersebut nilai nya lebih baik dari seribu bulan. Jadi, mereka meng ar tikan seribu secara defi nitif, angka 1000.

 

 

Kedua, ada juga ahli tafsir yang berpendapat bahwa makna seribu bulan pada ayat itu tidak har fi ah, na mun menunjukkan sesuatu yang sangat banyak, bahkan tak terhingga. Hal ini diungkap dalam ayat lain, ketika Allah Swt. menggambarkan lamunan orang-orang kafir dengan ungkapan

“…Mereka ingin diberi umur seribu tahun…” (Q.S. Al- Baqarah [2]: 96).

 

 

Kata seribu di sini menunjukkan bahwa mereka ingin hidup abadi.

 

 

 

Jadi, menurut pendapat ini, bahwa tingkatan ke utamaan lailatul Qadar itu tidak bisa dihitung de ngan angka. Atas dasar ini, maka lailatul Qa dar adalah lebih utama dari sepanjang masa.

 

 

 

Keutamaan lailatul Qadar bukan sekadar itu, tapi pada malam itu turun pula malaikat Jibril dan para malai kat lainnya ke bumi sehingga penuh sesak.

 

 

(4). تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ

 

(5). سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Pada malam, itu turun para malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar.” (QS.Al Qadr: 4-5)

 

 

 

Sesungguhnya tidak ada penjelasan yang rinci malaikat-malaikat apa saja yang turun ke bumi pada lailatul Qadar. Yang dipastikan namanya hanya satu, yaitu malaikat Jibril seperti diungkap secara eksplisit dalam ayat ini.

 

 

 

Ada di antara ahli tafsir yang berpendapat bah wa kalau seseorang bisa mendapatkan lailatul Qadar, orang tersebut akan merasakan semakin kuat do rongan dalam jiwanya untuk melakukan kebajikan-keba jikan pada sisa hidupnya sehingga ia akan merasakan kedamaian hidup.

 

 

 

Kesimpulan ini merujuk pada isya rat bahwa pada lailatul Qadar banyak ma lai kat yang turun ke bumi hingga menjadikan energi bagi hamba yang mendapat kannya untuk melakukan berbagai kebaikan sepanjang hidupnya.

 

 

 

Bertolak dari analisis di atas, bisa disimpulkan ba hwa lailatul Qadar hanya terjadi pada bulan Ra ma d an. Persoalannya, pada malam ke berapa lailatul Qadar itu terjadi? Tidak ada seorang pun yang tahu persis kapan terjadinya, karena Nabi Saw. tidak menjelaskannya secara detail.

 

 

 

Nabi Saw. hanya mengisyaratkan bahwa ke mu ng kinan besar lailatul Qadar terjadi pada sepuluh hari terakhir pada setiap bulan Ramadan. Karena itu, be liau lebih meningkatkan amal saleh bahkan mengisinya dengan i‘tikaf.

 

 

 

Aisyah r.a., berkata, “Apabila telah masuk sepuluh hari yang terakhir pada bulan Ramadan, Rasulullah selalu mengisi malam dengan ibadah dan membangunkan keluarganya.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

 

Ibnu Umar r.a., berkata, “Rasulullah Saw. selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Rama dan.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

 

I‘tikaf artinya berdiam diri di masjid dengan niat ibadah kepada Allah Swt. Aisyah r.a. berkata,

 

“Di sunah kan bagi yang beri’tikaf untuk tidak menjenguk orang yang sakit, tidak melawat jenazah, tidak ber hubungan intim, dan tidak keluar masjid kecuali untuk hajat yang tidak bisa ditinggalkan. Tidak boleh i’tikaf kecuali dengan berpuasa dan tidak boleh i’tikaf kecua li di dalam masjid jami’.” (H.R. Abu Daud).

 

 

Aisyah r.a. bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana seandainya aku tahu terjadinya lail atul Qadar, apa yang se ba ik nya aku baca pada ma lam itu?” Beliau menjawab, “Bacalah Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (Ya Allah, se sungguhnya Engkau Dzat yang Maha Pengampun, maka ampunilah aku).” (H.R. Imam yang lima kecuali Abu Daud dan hadis ini dinilai sahih oleh Imam Tirmidzi dan Hakim).

 

 

Hadis ini menjelaskan bahwa pada saat i’tikaf kita dianjurkanabanyak membaca

 

 

Allahumma inna ka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu‘anni (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Dzat yang Maha Pengampun, maka ampunilah aku).”

 

 

 

Kalau kita memiliki kesempatan untuk beri‘tikaf, ma ka usahakanlah i‘tikaf di masjid dengan ikhlas. Ka re na orang yang beri‘tikaf sangat berpeluang besar untuk mendapatkan lailatul Qadar.

 

BACA JUGA: Pengertian Malam Lailatul Qadr

 

Namun, kalau tidak memungkinkan, kita bisa se makin meningkatkan amal saleh di mana pun kita berada, karena lailatul Qadar tidak turun hanya kepada orang-orang yang sedang i’tikaf, tapi pada siapa pun yang sedang beribadah kepada Allah Swt. dengan ikhlas, baik di rumah, di pasar, di pabrik, atau di mana saja. Pokoknya kita akan mendapat kan lailatul Qadar, asalkan saat terjadinya, kita sedang dalam keadaan dekat dengan Allah.

 

 

Semoga Allah Swt. memberi kesempatan pada kita untuk bisa meraih lailatul Qadar. Amin. [ ]

 

 

Sumber:buku “ Tafsir Kontemporer “  karangan Dr.Aam Amiruddin,M.Si

 

4

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

902

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

(Visited 684 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment