Memuliakan Al Quran Di Bulan Mulia

baca quran

Mutiara Hadits

 

Oleh Tate Qomaruddin*

 

« إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ ».(مسلم)

 

Sesungguhnya Allah mengangkat dengan kitab ini (yakni Al-Qur’an) kaum-kaum dan merendahkan kaum-kaum yang lain.” (H.R. Muslim)

 

Pada edisi sebelumnya sudah dijelaskan dua hal yang harus kita lakukan dalam memuliakan Al-Qur’an yakni, pertama,  meyakini segala kebaikan Al-Qur’an. Dan kedua, membacanya.

 

 

Ketiga, mempelajari.

 

Membaca Al-Qur’an, memang  mendatangkan pahala yang luar biasa bagi pelakunya, sebagaimana sudah dijelaskan terdahulu. Akan tetapi, Al-Qur’an diturunkan bukanlah “sekadar” agar manusia mendapatkan pahala dengan membacanya. Al-Qur’an adalah petunjuk hidup yang lengkap yang menjamin kebahagian  manusia di dunia dan akhirat.

 

 

Tetapi, bagaimanakah manusia dapat menangkap maksud bahwa Al-Qur’an itu petunjuk hidup jika tidak mampu memahaminya? Dan, bagaimanakan kita dapat memahaminya jika tidak pernah memelajarinya? Bukankah untuk hal yang sederhana saja kita membutuhkan buku petunjuk untuk memahaminya. Untuk mengoperasikan handphone atau gadget, kita harus memelajari buku petunjuk yang dikeluarkan oleh produsen barang yang kita beli itu.

 

 

 

Apatah lagi untuk mengoperasikan diri kita, tentu kita perlu menggunakan petunjuk dari Penciptanya. Dia-lah Allah. Dan, petunjuknya adalah Al-Qur’an. Kita baru akan mampu  menjalankan petunjuknya manakala kita memelajari dan memahaminya.

 

 

Allah Swt. telah menegaskan pentinya mempelajari Al-Qur’an itu,

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ (79)

“Tidak mungkin seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah serta hikmah dan kenabian berkata kepada manusia, ‘Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah.’ Akan tetapi, ia akan berkata, ‘Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah karena kamu mengajarkan kitab dan mempelajarinya!’” (Q.S. Āli ‘Imrān [3]: 79)

 

 

Bagian akhir ayat itu menegaskan bahwa memelajari Al-Qur’an secara kontinyu adalah syarat mutlak bagi seseorang untuk menjadi manusia rabbani. Orang yang rabbani adalah orang yang Allah sentris, berpusat kepada Allah. Motivasi hidupnya karena Allah; tujuan hidupnya rido Allah; dan segala sepak terjangnya berdasarkan aturan Allah.

 

 

Rasulullah Saw. pun bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ (البخاري)

“Orang terbaik di antara kalian adalah orang yang memelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (H.R. Bukhari)

 

 

Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw. menggambarkan sebagian kandungan Al-Qur’an, dengan sabdanya,

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ مَأْدُبَةُ اللهِ فَاقْبَلُوْا مِنْ مَأْدُبَتِهِ مَا اسْتَطَعْتُمْ إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ حَبْلُ اللهِ وَ النُّوْرُ الْمُبِيْنُ وَالشِّفَاءُ النَّافِعُ عِصْمَةٌ لِمَنْ تَمَسَكِّ بِهِ وَ نَجَاةٌ لِمِنْ تَبِعَهُ لاَ يَزِيْغُ فَيُسْتَعْتَبُ وَ لاَ يَعْوَجُّ فَيُقَوَّمُ وَ لاَ تَنْقَضِيْ عَجَائِبُهُ وَ لاَ يَخْلُقُ مِنْ كَثْرَةِ الرَّدِّ (رواه الحاكم وقال هذا حديث صحيح الإسناد و لم يخرجاه)

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah hidangan (dari) Allah. Maka terimalah hidangannya sekuat kemampuan kalian. Sesungguhnya Al-Qur’an ini tali Allah, cahaya benderang, obat yang mujarab, perlindungan bagi orang yang memegangteguhnya, kesalamatan bagi orang yang mengikutinya yang tidak akan menyimpang –hingga harus dikecam, tidak akan meleceng –hingga harus diluruskan. Keajaibannya tidak akan habis-habisnya dan tidak akan menjadi usang karena banyak dibaca berulang-ulang.” (H.R. Hakim dan dia mengatakan hadis ini shahih akan tetapi Al-Bukari dan Muslim tidak mengeluarkannya)

 

 

Di antara bentuk keajaibannya adalah  banyaknya isyarat-isyarat saintis di dalamnya. Tentu saja, kehebatan Al-Qur’an bukan hanya terletak pada isyarat-isyarat saintisnya, seperti yang selama ini terungkap.  Yang terbesar dan yang terhebat adalah justru dalam kapasitasnya sebagai pedoman (manhaj) kehidupan.

 

 

Oleh karena itu orang yang telah mampu mengungkap isyarat-isyarat sains dan tekhnologi dari Al-Qur’an namun belum mampu menjadikannya sebagai pedoman dan pegangan hidup,  belumlah menyikapi Al-Qur’an secara benar.

 

 

Nah, segala keajaiban Al-Qur’an dari sudut pandang manapun baik sains, ekonomi, politik, perundang-undangan, budaya, dan lain-lain, yang terkandung dalam Al-Qur’an, tidak mugkin diperoleh tanpa mempelajari dan mengkajinya. Lebih-lebih untuk bisa menjadikan Al-Qur’an itu sebagai penerang kehidupan. Tanpa mempelajarinya,  alih-alih menjadi penerang kehidupan, Al-Qur’an hanya dibaca pada momen-momen kematian. Itupun bukan sebagi nasehat bagi yang masih hidup,  melainkan sebagi tuntutan rutinitas ritual untuk “membahagiakan”  orang yang telah mati tersebut.

 

 

Keempat, mengamalkan.  

Kewajiban umat Islam mempelajari Al-Qur’an dengan tujuan, terutama, agar mereka dapat mengamalkannya. Dan, para sahabat seperi dicatat dalam sebuah atsar (hadis), mempelajari Al-Qur’an tidak lebih dari sepuluh ayat untuk kemudian diamalkan. Demikian seterusnya.

 

Kejayaan Umat Islam terletak pada komitmennya dalam menjalankan Al-Qur’an. Dan, ini dibuktikan oleh para sahabat seperti yang tercatat dalam lembaran-lembaran sejarah awal Islam. Generasi itu memang layak mendapat julukan Generasi Qur’ani yang unik (Al-Jiilu Al-Qur’ani al-fariid).

 

 

Keunikan  generasi sahabat dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, menurut Ustadz Sayyid Quthb, terletak pada tiga hal. Salah satunya, mereka mempelajari Al-Qur’an bukan dengan tujuan menambah pengetahuan atau memperluas wawasan. Bukan pula untuk menikmati nilai sastranya. “Mereka mempelajari Al-Qur’an untuk menerima perintah Allah tentang urusan pribadinya, tentang urusan masyarakat tempat mereka hidup, tentang berbagai persoalan kehidupan yang dihadapinya. Mereka menerima perintah dan segera melaksanakannya,” tegas Sayyid Quthb.

 

Oleh karena itu, lanjutnya, tidak seorang pun dari mereka yang minta tambahan perintah dalam satu pertemuan. Begitulah para sahabat menjalankan Al-Qur’an secara kaffah (menyeluruh). Tidak ada pesan pesan Al-Qur’an yang terabaikan dalam kehidupan.

 

Kelima, Mengajarkan dan Mendakwahkan.

Kesalehan individu bukanlah canangan Al-Qur’an. Jika baru berlaku secara personal, kesalehan hanya akan mendatangkan manfaat yang jangkauannya sangat terbatas. Islam menurut Al-Qur’an, menghendaki kesalehan mewujud secara kolektif dan masif, bukan pada orang perorang. Ini ditegaskan oleh ayat-Nya:

 

Seandainya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi...” (Q.S. Al-A‘rāf [7]: 96)

 

Jaminan Allah itu berlaku bila ada iman dan takwa yang bersifat jama’i (kolektif). Bahkan dalam masyarakat yang penuh kemaksiatan, orang saleh secara personal  itu tidak mustahil, seperti kata Rasul, merupakan orang yang pertama mendapat azab. Allah Swt. juga menegaskan,

 

“Jauhkan dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim di antaramu…” (Q.S. Al-Anfāl [8]: 25)

 

 

Selain itu, mengajarakan dan mendakwahkan Al-Qur’an adalah satu kebutuhan sekaligus kewajiban. Butuh, karena tanpa ajaran Al-Qur’an kehidupan manusia akan menjadi rimba “binatang”. Yang berlaku adalah hukum “yang kuat memangsa yang lemah”.

 

 

Promo Ramadhan, hub: 08112202496

 

 

Wajib, karena mendakwahkan Al-Qur’an bagian dari keimanan kepada Al-Qur’an itu sendiri sebagaimana ditegaskan dalam sabda Rasulullah Saw. yang diriwayatkan Al-Bukari, “Orang terbaik di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

 

 

Dengan lima komitmen yang harus kita laksanakan berkaitan dengan Al-Qur’an. Insya Allah kita semua termasuk orang yang memuliakan Al-Qur’an. Mudah-mudahan dengan cara itu kita dapat memegang kunci kejayaan dan ketinggian umat. Amin. Allahu a’lam. [ ]

 

*Penulis adalah pegiat dakwah dan penulisa buku

 

Tate Qomaruddin

4

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

936

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 20 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment