Kisah Nabi Muhammad Yang Terkena Sihir, Begini Penjelasannya

 

 

Tafsir surat Al Falaq ayat 4

Oleh: Dr.Aam Amiruddin,M.Si

 

PERCIKANIMAN.ID – – Saat matahari terbenam dan kegelapan menye li muti bumi, suasana seperti ini biasanya mencekam. Fakta menunjukkan, kita lebih merasa takut malam ha ri dibandingkan siang hari. Memang, kejahatan pada siang hari pun banyak terjadi, namun malam hari lebih menakutkan lagi karena didukung suasana yang lebih mencekam. Mari kita cermati apa yang dilakukan Rasulullah Saw. menjelang tidur malam. Beliau berserah diri ke pa da Allah dari segala kejahatan dan kejadian yang akan menimpanya saat tidur. Kita pun mesti mencontohnya.

 

 

Kata Bara’ bin ‘Azib r.a., Nabi Saw. pernah bersabda, “Kapan pun engkau hendak tidur, berwudulah terlebih dahulu sebagaimana engkau hendak menger ja kan shalat, berbaringlah dengan menghadap ke arah kanan, dan bacalah doa, ‘Ya Allah, aku berserah diri ke pada-Mu, mempercayakan seluruh urusan ke pa da-Mu, aku bergantung kepada-Mu untuk mem peroleh berkah-Mu dengan harapan dan ketakutanku kepada-Mu. Tak ada tempat untuk melarikan diri dari-Mu, tak ada tempat untuk perlindungan dan keamanan selain-Mu. Ya Allah aku per caya pada kitab-Mu (Al-Qur’an) yang Engkau turunkan, dan aku percaya pada Nabi-Mu (Muhammad Saw.) yang Engkau utus.’ Maka, apa bila malam itu engkau meninggal, kau akan meninggal dalam keimanan kepada Islam. Biar kanlah kata-kata itu menjadi kata-katamu yang terakhir.” (H.R. Bukhari).

 

 

Apa yang dilakukan Rasulullah Saw. merupakan bentuk konkret dalam meminta perlindungan kepada Allah Swt. dari berbagai kejahatan yang mungkin ter ja di pada waktu malam. Lalu Allah Swt. memerintahkan kita untuk berlindung dari kejahatan tukang sihir. Dalam Al Quran surat Al Falaq Allah Swt berfirman,

 

(4). وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ

 

“Dari kejahatan perempuan-perempuan penyihir yang meniup-niup buhul.” (QS. Al Falaq: 4 )

 

Zaman dahulu, profesi sihir banyak digeluti wanita, tidak heran kalau dalam cerita anak-anak lebih terkenal nenek sihir ketimbang kakek sihir. Salah satu cara yang populer pada zaman itu kalau ingin memutuskan ikatan pernikahan, tali persau daraan, hubungan bisnis, tukang sihir membuat ikatan-ikatan (buhul), meniup-niupnya, kemudian mem bukanya.

 

Dengan cara itu, objeknya men ja di saling bermusuhan; rumah tangga jadi beranta kan, persahabatan menjadi permusuhan, hubungan bisnis pun jadi peperangan. Zaman berkembang, cara sihir sudah dipo les dengan alat-alat modern. Gelar penyihir pun lebih beragam; dukun, paranormal, orang pintar.

 

Dalam Islam, sihir dikategorikan sebagai perbu a tan syirik. Karenanya, apapun sebutannya, tu kang sihir dan “pasien” yang mempercayainya termasuk dalam golongan orang-orang musyrik.

 

“Siapa yang datang kepada paranormal, kemu dian bertanya tentang sesuatu dan membenarkan/meyakini apa yang dikatakannya, maka tidak akan diterima shalatnya selama 40 hari.” (H.R. Bukhari).

 

 

Syirik termasuk dalam klasifi kasi dosa besar. Allah tidak akan mengampuni dosa syirik bila terbawa mati. Karena itu, bergegaslah taubat apabila kita pernah minta bantuan dukun, paranormal, atau orang pintar untuk melakukan santet, pelet, nyegik, ataupun meramal nasib.

 

 

“Sesungguhnya, Allah tidak akan mengampuni dosa karena mempersekutukan- Nya (syirik), tetapi Allah mengampuni dosa selain syirik bagi orang yang dikehendaki-Nya. Siapa pun yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa besar.” (Q.S. An-Nisā’ [4]: 48).

 

 

Sihir dikategorikan syirik karena dalam pelaksana an nya melibatkan jin. Sedangkan meminta ban tu an ke pada jin hukumnya haram, sebagaimana dijelas kan dalam ayat berikut,

 

 

“Sesungguhnya, ada beberapa laki-laki dari kalangan manusia yang meminta per-lindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi jin menjadikan manusia bertambah sesat.” (Q.S. Al-Jinn [72]: 6).

 

 

Ayat ini menegaskan, kalau manusia meminta per tolongan kepada jin, hal itu semakin menambah dosa dan tidak akan menjadi kebaikan. Jadi, yang masuk dalam kategori sihir yaitu segala sesuatu yang dila ku kan manusia dengan bantuan jin, seperti santet, pelet, nyegik, debus, termasuk di dalamnya kemam puan-kemampuan spektakuler yang dilakukan para penyihir modern.

 

Bagaimana hukum menyaksikan sihir lewat televisi? Rasulullah bersabda,

 

Barangsiapa melihat kemun karan di antara kamu, ubahlah dengan tanganmu. Jika tidak mampu, ubahlah dengan lisanmu. Jika masih tidak mampu, ubahlah dengan hati mu, dan hal itu (mengubah dengan hati) adalah selemah-lemah nya iman.”

 

 

Menonton (menikmati) kemampuan tukang sihir, sama dengan menyetujui kemunkaran. Padahal kita diperintahkan mengubahnya, minimal dengan hati. Jadi, kalau kita menonton (menikmati) kemahiran sihir mereka, berapa yang tersisa dari iman kita? Na’udzubillah.

 

 

Sesungguhnya sihir itu persoalan real (sesuatu yang memang terjadi). Nabi Musa a.s. misalnya, ia berhadapan dengan para tukang sihir Fir’aun. Fir’aun pun pernah membuat kebijakan agar seluruh anak-anak keturunan Yahudi disembelih. Ini pun usulan pa ra tukang sihirnya.

 

 

 

Ternyata, kehidupan sihir atau magic bukan hanya berada pada kehidupan grassroot (masyarakat ba wah), namun juga dalam kehidupan penguasa. Bahkan, dalam kehidupan yang sudah penuh dengan rasionalitas pun, sihir tetap menjamur. Menurut sejumlah media, penguasa Amerika Serikat (seperti Bill Clinton, George Bush, Jimmy Carter) me ngontrak paranormal untuk dijadikan penasihatnya. Kononlah lagi pengu asa di Indonesia, sudah pasti lebih getol berkonsultasi dengan penyihir atau paranormal.

 

Promo Ramadhan, hub: 08112202496

Berkaitan dengan surat ini, ada beberapa riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah disihir oleh Labid bin Al A’sham. Sihir tersebut telah mem pengaruhi Nabi Saw., sehingga adakalanya be liau merasa melakukan sesuatu padahal sebenarnya tidak, atau merasa mendatangi suatu tempat pada hal tidak. Kemudian Allah memberi tahu bahwa ia terkena sihir, lalu dikeluarkanlah dari dasar sebuah sumur se bu ah benda (media) sihir. Sejak itu, Nabi Saw. terbebas dari pengaruh sihir tersebut.

 

 

Berbagai kitab tafsir menanggapi riwayat ini dengan sikap yang beragam. Ada yang menerimanya sebagai riwayat sahih dan meyakini. Rasulullah Saw. pernah terkena sihir, banyak yang meragukan, bahkan tidak mempercayainya, semisal Syaikh Muhammad Abduh dalam Tafsir Al-Qur’an Al Karim (Juz Amma), Sayyid Quthb dalam Tafsir Fi Zhilalil Quran.

 

 

Penulis cenderung memihak pada pendapat ke dua yang menyatakan bahwa riwayat yang menje las kan Rasulullah Saw. terkena sihir patut dipertanya kan (dikri tisi) karena bertentangan dengan tiga prinsip berikut:

 

  1. Rasulullah Saw. itu maksum (terpelihara) dari gangguan sihir.

 

“Hai, Rasul! Sampaikan apa yang diturunkan Tuhan kepadamu. Jika kamu tidak lakukan apa yang diperintahkan itu, berarti kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memeliharamu dari gangguan manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafi r.” (Q.S. Al-Mā’idah [5]: 67).

 

 

Ayat ini menegaskan bahwa Rasulullah Saw. bertu gas menyampaikan ajaran-ajaran Islam kepada umat manu sia dan Allah Swt. akan memeliharanya dari gang guan manusia. Di antara ahli tafsir ada yang menyebutkan, yang dimaksud dengan gangguan manusia yaitu pembunuhan dan ada juga yang meng artikannya dengan gangguan sihir. Artinya, Rasulullah Saw. akan selamat dari pembunuhan dan gangguan sihir.

 

  1. Rasulullah Saw. merupakan orang yang paling beriman, dan Allah Swt. menjamin orang-orang ber iman tidak akan dapat dicelakakan setan.

 

“Sesungguhnya, kamu (iblis) tidak bisa melakukan apa pun atas hamba-hamba-Ku, kecuali mereka yang mengikutimu, yaitu orang sesat.” (Q.S. Al-Ĥijr [15]: 42).

 

Maksudnya, orang-orang saleh yang benar-benar ikhlas tidak akan bisa diperbudak atau dibina sakan setan. Dengan kata lain, setan tidak akan mampu membinasakan dan menyesatkan orang-orang yang kuat imannya. Kita sadari bahwa Rasu lullah Saw. merupa kan orang yang paling kuat imannya dan pa ling ikhlas amalnya. Karena itu, tidak masuk akal kalau beliau terkena sihir.

 

  1. ‘Atha, Al Hasan, Jabir, dan salah satu riwayat Ibnu Kuraib dari Ibnu Abbas menyebutkan, surat Al Falaq dikategorikan sebagai surat Makiyyah arti nya surat yang turun di Mekah, sementara riwayat tentang penyihiran terhadap Rasulullah Saw. terjadi di Madinah. Jadi irrasional (tidak masuk akal) kalau surat Al Falaq turun berkenaan dengan penyihiran terhadap Nabi Saw.

 

Berdasarkan alasan-alasan di atas, bisa kita sim pul kan bahwa riwayat yang menjelaskan Rasulul lah Saw. terkena sihir adalah dhaif (lemah) dari segi matan (substansi isi hadis) karena bertentangan dengan sejumlah ayat Al-Qur’an dan akal sehat. Wallahu’alam. [ ]

 

 

Sumber: dari buku “ Tafsir Kontemporer “  karangan Dr.Aam Amiruddin,M.Si

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

910

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 795 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment