Kisah Marbot 3: Lulus Sarjana dan Jadi Marbot

 

Kisah Arif Hidayatullah

 

 

PERCIKANIMAN.ID – – Menjadi marbot bukanlah sebuah cita-cita. Namun ternyata bisa saja sebuah hal mendorong seseorang untuk menjadi marbot. Dikarenakan pada sebuah masjid yang membutuhkan marbot, maka dalam kebimbangan antara menjadi santri atau kuliah, akhirnya sang guru menyuruhnya untuk menjadi marbot dan karena itulah ada keberkahan yang didapat dan tak pernah terpikirkan.

 

Setamat dari Madrasah Aliyah di daerah Kiara Kuda, Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, Arip Hidayatullah berpikir tentang cita-citanya tapi guru mengajinya menyuruh jadi marbot yang diminta Ustad Amin dari DKM Masjid Al Muhajirin di Komplek Griya Mitra Jalan Mitea Sejati Raya, Kelurahan Cinunuk, Kecamatan Cileunyi. Kabupaten Bandung. Arip pun setuju dan mulailah menjalani profesi baru yaitu marbot.

 

“Saya berkhidmat kepada guru dan guru saya pun mengatakan jika di sana insya Allah kamu bakal menemukan sesuatu yang berharga bagi kehidupanmu,” ujar Arip dalam sebuah kesempatan di Masjid Muhajirin itu.

 

Pria yang sudah tujuh tahun menjadi marbot ini, pada awal menjalaninya sempat pula meninggalkannya dan bekerja sebagai pelayan souvenir di Saung Angklung Udjo di Kota Bandung. Namun pada perjalanannya justeru hal itu malah membuatnya kembali ke masjid itu. Tentu saja tadinya ingin mendapat hal yang lebih namun kata Arip ternyata jadi marbot malah membuatnya lebih memahami tentang kebaikan Allah ternyata lebih dahsyat dari kebaikan manusia. Masih menurutnya, malah dengan menjadi marbot banyak yang peduli dengannya dalam beragam hal.

 

 

“Terus terang karena jalannya dari masjid ini saya selalu diberi kemudahan termasuk Alhamdulillah saya bisa menyelesaikan kuliah di UIN Sunan Gunung Djati, Kota Bandung Jurusan Manajemen Komunikasi Dakwah dan semua itu wasilahnya justru dari marbot ini,” tambahnya.

 

 

Justeru dengan menjadi marbot ini Arip mengakui justeru dirinya bisa bertambah ilmu karena selalu ada kesempatan untuk bertholabul ilmi. Bukan itu saja, ia pun diberi kesempatan meraih pahala dari amalan kecil yang dilakukannya seperti menjadi muadzin atau badal khotib. Hal itu pulalah yang membuat wawasan Arip semakin bertambah. Arip sendiri tidak saja mengandalkan menjadi marbot tapi ia pun memberikan privat mengaji dari rumah ke rumah, menjadi tukang antar jemput anak dan berjualan awug seminggu sekali.

 

“Ya intinya ikhtiar itu perlu dilakukan yang intinya adalah silaturahim agar banyak saudara ” imbuhnya pula.

 

Lelaki yang baru menikah tahun 2018 ini menyadari jika masjid bukan tempat mencari sesuatu namun mesti menjadi tempat untuk berkhidmat kepada umat dengan beragam pekerjaan yang dilakukan. Jika pada awalnya ia mendapatkan honor per bulan sekitar Rp 250.000,- kini sejak tahun 2018 laku honornya mencapai Rp 750.000/bulan dan itu terjadi karena disesuaikan dengan masa bakti yang telah dijalankan selama ini.

 

 

“Itu hanya ukuran materi semata yang jumlahnya bisa dihitung dengan angka tetapi apa yang diberikan oleh Allah jauh lebih besar dan tak terukur jumlahnya,” Arip memberikan sebuah perbandingan.

 

Bagi Arip sendiri, menjadi marbot bisa mungkin tak selamanya disandang dan bisa saja perlu regenerasi. Arip siap saja karena semua itu adalah amanat Allah. Begitupula di.masjid Al Muhajirin ia tidak sendiri karena ada satu orang lagi yang menjadi marbot. Diakui oleh Arip pula jika tugasnya sebagai marbot karwna manajemennya masih belum teratur secara baik hingga banyak hal yang harus dikerjakan. Pekerjaan yang dilakukannya pada umumnya adalah beres-beres masjid dan tiap hari dilakukan, namun yang paling sibuk biasanya adalah pada hari Jumat.

 

“Begitulah tugas marbot namun saya begitu menikmati tugas-tugas itu,” terangnya.

 

Bagi Arip menjadi marbot memang pekerjaan ringan tetapi telah memberikan kepuasan batin yang sangat luar biasa. Kata Arip jika pada awalnya ada semacam keraguan di dalam menjalani hidup ternyata setelah menjadi marbot malah diberi beragam kemudahan oleh Allah. Benar memang, menurutnya marbot itu pekerjaan sederhana tapi bisa menjadikan diri mendapati suasana ibadah yang menenangkan.

 

“Terus terang batin saya selalu tenang ketika berada di masjid dan pekerjaan marbot membuat saya bisa selalu beribadah di masjid itu sendiri,” ungkapnya pada kesempatan itu.

Arif Hidayatullah, marbot masjid yang sarjana

 

Tentu saja bukanlah hal yang membanggakan menjadi seorang marbot bagi Arip. Namun dari perjalanannya selama ini Arip telah membuktikan kepada semuanorang bahwa mabot adalah pekerjaan mulia. Arip tentu ingin pula setiap waktu ada perubahan dan Arip berusaha untuk menjadi marbot yang terbaik. “Dalam hidup ternasuk melaksanakan tugas-tugas sebagai marbot haruslah selalu menjadi yang terbaik karena hasilnya pun akan kembali kepada diri kita juga,” terangnya.

 

Profesi marbot dalam pandangan Arip, bukan sebuah profesi tertentu melainkan sebuah media untuk bisa mendapatkan pahala dari Allah SWT..Karenanya, walaupun belum tentu akan melanjutkan pekerjaan itu tetapi pekerjaan itu telah membekas di hatinya karena dengan hal itu telah memberinya beragam kepuasan batin.

 

 

“Tak ada hal yang indah selain menjalani tugas sebagai marbot,” pungkas Arip menutup obrolan.[ ]

 

Ayo Peduli Marbot, info: 087738883558

 

 

4

Rep & foto: deffy ruspiyandy

Editor: iman

670

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 210 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment