Kisah Marbot 2: Hikmah Hijrah dan Mengurus Masjid

 

PERCIKANIMAN.ID – – Banyak cara ketika Allah untuk mendekatkan umatnya agar senantiasa dekat ke masjid. Ketika hidup dalam perbuatan yang dilarang oleh agama kerap siapapun lupa dengan ibadah, namun setelah hijrah mendalami agama pun menjadi sebuah kebutuhan. Itulah yang dialami S Priyatna yang biasa disapa Mang Ewud.

 

Tahun 2015 barangkali menjadi titik tolak hingga perubahan itu terjadi. Diawali dari terjadinya pembangunan Masjid Al Hidayah yang terletak di jalan Paledang RT 01 RW 02 Kelurahan Campaka Kecamatan Andir Kota Bandung terjadilah gelombang hijrah dari beberapa anak muda di daerah itu ke arah kebaikan. Hingga mereka dilibatkan dalam kegiatan pembangunan masjid itu, di mana ada yang mencarikan dana dan juga membantu dengan tenaga hingga pembangunan masjid itu selesai.

 

Setelah masjid berdiri tentunya para pemuda itu kemudian ikut pula kegiatan pengajian di masjid itu dan seiring waktu, pemuda yang tadinya banyak maka berkurang yang ikut belajar ngaji. Dari beberapa orang itulah maka Priyatna rupanya tertarik untuk melakukan sesuatu yang bisa bermanfaat bagi keberadaan masjid itu.

 

 

 

“Menjadi marbot di sini, sifatnya inisiatif saja dan tak pernah ada yang menyuruh. Semuanya dilakukan secara sukarela. Jadi tentu saja dalam hal ini saya pun tak mendapatkan gaji dari pekerjaan yang dilakukan ini,” terang Priyatna dalam sebuah kesempatan.

 

 

Priyatna pun menjelaskan semua itu terjadi karena ada wadah yang dibentuk yaitu WADIYA BALAD yang artinya satu arah satu tujuan yang menampung para pemuda hijrah itu. Banyak kegiatan yang dilakukan termasuk Peringatan Hari Besar Islam. Namun seiring perkembangan dan waktu ternyata selalu saja ada perubahan dan itu sudah menjadi hukum alam.

 

 

“Intinya semua kembali kepada diri masing-masing dan tentunya apapun harus secara ridho ketika melakukannya,” kata pria yang kini umurnya menginjak 40 tahun.

 

Priyatna memang tidak bekerja sendirian di masjid itu namun ada dua orang lagi yang turut membantu membersihkan masjid. Menurutnya, pekerjaan yang biasa dilakukannya adalah menyapu lantai, mengepelnya, menggelar karpet dan juga mengelap kaca masjid. Katanya juga, untuk urusan mengepel lantai khususunya lantai depan masjid dilakukannya 30 menit menjelang tiba waktu Shalat.

 

“Kan kalau lihat masjidnya bersih bisa membuat orang-orang jadi senang datang ke masjid, ” tambahnya.

 

Pria yang juga berprofesi sebagai instalatir listrik yang dapat orderan sesekali waktu ini merasa jika profesi marbot adalah profesi yang menyenangkan karena mudah melakukannya. Tentunya pekerjaan yang dilakukannya itu tidak banyak mwnyita waktu hingga banyak waktu luangnya. Dengan profesunya sebagai marbot, Priyatna pun diberi kesempatan tidur di kamar khusus marbot yang disediakan oleh pengurus masjid terlebih ia pun menjadi beberapa santri yang tidur di asrama.

 

 

“Saya berterima kasih kepada Ustad Zacky yang telah membantu dan memberikan pencerahan kepada saya,” ujarnya yangmerasa senang karena bisa belajar agama.

 

Baginya ada kesempatan menjadi marbot rupanya keuntungan tersendiri karena bisa belajar agama. Katanya jika dulu mungkin mau masuk masjid saja malunya minta ampun tapi kini  belajar mengaji pun sudah terbiasa dan menjadi hal yang lumrah dilakukan.Makanya Priyatna bersyukur kepada oeang-orang yang telah mendorong saya menjadu dekat dengan masjid.”Ya tanpa jasa mereka, mungkin saya tidak akan seperti ini. Mudah-mudahan Allah membalas segala kebaukannya,” tuturnya pula.

 

Menurutnya justeru pada hari Kamialah pekerjaannya semakin bertambah apalagi ada program Jumat Bersih yang dilakukan Kamis malam. Saat itu banyak orang-orang yang membantu di mana semuanya dibersihkan untuk persiapan Shalat Jumat esok harinya. Masih kata Priyatna, bukan hanya lantai satu yang dibersihkan tapi juga lantai dua dan yang beratnya itu adalah mengangkat karpet ke atas.

 

 

“Justru di sinilah asyiknya bisa bersana-sama membersihkan masjid karena kita tahu kalau hari Jumat adalah hari yang agung,” katanya.

 

Memang menjadi marbot bukanlah pilihan hidup, namun Priyatna mencoba menikmati apa yang kini tengah dirakannya. Priyatna memang berharap bisa mendapatkan pekerjaan tetap untuk hidupnya. Buae begitu, profesi marbor itu telah berkesan di hatinya karena mwmberi ketenangan batin.

 

 

“Kalau diukur uang, jadi marbor tidak bisa diukur dengan sejumlah uang,” imbuhnya.

 

Begitulah kehidupan seorang marbot yang tampak sederhana dengan kehidupannya namun di sana menyimpan makna yang begitu dalam. Tampak disadari, dengan profesi marbot ternyata bisa membuat orang selalu dekat dengan masjid dan bisa melaksanakan ibadah setiap saat. [ ]

 

 

Info: 087738883558

5

 

Rep: deffy ruspiyandy

Editor: iman

Foto: deffy

810

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

 

(Visited 31 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment