Sedekah Bulan Ramadhan, Gunakan Harta Di Jalan Allah dan Jangan Seperti Abu Lahab

 

Tafsir surat Al-Lahab ayat 1 – 2

 

 

Oleh: Dr.Aam Amiruddin,M.Si

 

 

PERCIKANIMAN.ID – – Para ahli tafsir mencantumkan riwayat ini seba gai latar belakang turunnya surat Al-Lahab (Al Masad). Al Lahab artinya gejolak api. Ayat ini merupakan kutukan kepada Abu Lahab dan istrinya, juga kepada orang orang yang satu tipe dengan mereka.

 

(1). تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ

 

 “Sungguh Abu Lahab binasa, benar-benar binasa”. ( QS. Al Lahab: 1 )

 

Pada ayat ini disebutkan bahwa yang akan binasa adalah “kedua tangan” Abu Lahab. Ini bahasa kiasan. Yang dimaksud bukan sekadar kedua tangan nya yang celaka tapi seluruh tubuhnya. Kiasan seperti ini kita temukan pula dalam ayat lain, seperti,

 

 

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan sembelihan untuk kemusyrikan …” (Q.S. Al Baqarah 2: 173).

 

Di sini disebutkan daging babi, bagaimana dengan tulang atau minyaknya? Tentu haram juga karena merupa kan bagian yang tak terpisah kan dari babi. Ini salah satu gaya bahasa Al-Qur’an, menyebut sebagian ang gota tubuh padahal yang dimaksud seluruhnya.

 

 

Dalam bahasa Arab, bila disebut “semoga tang an nya binasa”, ungkapan ini disebut kinayah (per nyataan terselubung untuk mendoakan “semoga orang itu binasa”) atau bila dikatakan “semoga tangannya rugi” artinya “semoga orang itu rugi”.

 

Jadi, merupakan kutukan Allah Swt. kepada Abu Lahab dan siapa saja yang meng ikuti sepak terjangnya. Ayat ini menyadarkan kita, kapan dan di mana pun kita berjuang dalam menegakkan panji-panji kebenaran, pasti bakal berhadapan dengan manusia tipe Abu Lahab, yaitu tipe manusia yang menghabis kan umur, harta, kedudukan, dan seluruh potensinya untuk menghalang-halangi orang lain dari jalan kebenaran.

 

 

Uniknya, manusia seperti ini justru suka datang dari orang-orang terdekat (kerabat, istri, suami, anak). Dalam keseharian, kita sering menemukan seorang istri merana karena dilarang suaminya pergi ke majelis ta’lim, dicemoohkan saat melakukan shalat, bahkan diancam cerai karena memakai jilbab.

 

 

Apa yang harus kita lakukan menghadapi orang yang bertipe demikian? Hadapilah dengan bijaksana. Bukankah kebodohan tak perlu dibalas dengan kebodohan? Artinya, kalau orang yang bertipe Abu Lahab mencemooh, kita tidak perlu membalas dengan cemo ohan lagi, doakan saja agar orang tersebut dibuka kan hatinya oleh Allah Swt., sehingga bisa mendapat pencerahan.

 

 

Ajaklah ke jalan kebenaran dengan bijaksana, berilah nasihat secara santun. Kalaupun harus berdebat, lakukanlah dengan menjaga etika perdebatan, sebagaimana fi rman-Nya,

 

 

Serulah manusia pada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik…” (Q.S. An-Naĥl [16]: 125).

 

Kemudian dalam ayat selanjutnya masih dalam surat Al Lahab , Allah berfirman,

 

 

(2). مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ

 

 “Tidaklah berguna hartanya dan apa yang ia usahakan.” ( QS. Al Lahab: 2 )

 

 

Abu Lahab mencurahkan segala usaha dan harta nya untuk menjegal perkembangan Islam (dakwah Rasulullah Saw.), namun semuanya sia-sia. “Tidaklah berfaedah harta benda dan apa yang diusahakannya.” Demikian fi rman-Nya. Ayat ini mengingatkan kita bahwa akan ada orang yang rela me ngor bankan hartanya untuk menggagalkan penyebaran nilai-nilai kebenaran, berani membuat tandingan dengan mem bangun tempat-tempat mak siat agar orangorang berpaling dari Islam.  Ironisnya, yang melakukannya kadang mengaku muslim.

 

 

Sahabat penulis pernah menceritakan pengalamannya. Ia mencoba menggerakkan anak-anak muda di lingkungannya dalam kegiatan keislaman. Usahanya cukup berhasil, sebagian besar anak-anak muda

yang suka nongkrong di jalanan secara bertahap sudah bisa ditarik dalam kegiatan keislaman.

 

Namun ternyata, hal ini tidak disukai seorang pemuka masyarakat di lingkungan tersebut. Untuk mengalihkan anak-anak muda yang sudah mulai rajin ke masjid, ia membuat tandingan dengan menggelar layar tancap setiap kali ada pengajian. Semua pembiayaan diambil dari koceknya sendiri. Padahal, ia adalah seorang muslim. Nah, ini contoh konkret manusia tipe Abu Lahab, berani menge luarkan harta dan usaha untuk menjegal ke benaran.

 

Ayat ini juga mengajarkan bahwa harta bagai pi s au bermata dua. Bisa digunakan sebagai sarana taqarrub (mendekatkan diri) kepada- Nya, bisa juga sebagai sarana maksiat. Abu Bakar r.a. menghabiskan seluruh hartanya untuk mendukung perjuangan Rasulullah Saw., sampai-sampai Allah mengabadikan pengorbanannya dalam surat Al-Lail [92]: 17-18,

 

 

“Neraka akan dijauhkan dari orang paling bertakwa, yang menginfakkan hartanya di jalan Allah untuk membersihkan dirinya.”

 

 

Menurut para ahli tafsir, ayat ini turun ketika Abu Bakar r.a. dengan ikhlas menyerah kan seluruh hartanya untuk kepen tingan dakwah Islam. Sangat kontras dengan Abu Bakar, Abu Lahab menghabiskan harta dan usahanya untuk mengha lang-halangi manusia dari jalan yang benar.  Perbuatannya itu bukan hanya mengantarkan pada kesengsaraan dunia, yang lebih mengerikan lagi di akhirat dia akan mendapatkan azab yang pedih. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

 

 

4

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

902

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

 

(Visited 390 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment