Kisah Marbot 1: Berhenti Jualan Fokus Mengurus Masjid

 

 

PERCIKANIMAN.ID – – Menjadi marbot ternyata bisa terpicu karena sebuah hal, seperti yang dialami Mistara (60), pria asal Cirebon ini. Dia sendiri tidak menyangka akan menjadi marbot  di Masjid Al Musyawaroh RW 01 Kelurahan Ciroyom Kecamatan Andir, Kota Bandung yang ternyata sudah dijalani olehnya selama 3 tahun sejak tahun 2015.

 

 

Pria yang biasa disapa Mang Emis ini asalnya adalah sebagai penjual popcorn dan minuman ringan yang biasa menyuplai para pedagang di atas kereta api dan mangkal di Stasiun Kereta Api Ciroyom. Namun karena aturan PT KAI yang melarang pedagang berjualan di atas kereta maka Mistara pun berhenti usahanya. Hingga dengan kondisi itu maka ia pun merapat ke masjid terdekat selain untuk Shalat dan ingin membantu yang bisa dilakukannya.

 

 

“Ya kalau ada kesempatan beramal mengapa tidak dimanfaatkan untuk meraih pahala,” terang Mang Emis dalam sebuah kesempatan.

 

Mang Emis sendiri bersinggungan dengan Masjid Al Musyawaroh ini karena sewaktu masih jualan sering melaksanakan Shalat di masjid itu karena dekat ke stasiun kereta itu. Bahkan kata Mistara ia pun tak pernah terpikir jika akhirnya bisa menjadi marbot di masjid itu. Masjid Al Musyawaroh merupakan masjid terbesar yang digunakan untuk Shalat Jumat di RW 01 Ciroyom walaupun ada beberapa masjid di wilayah itu. “Masjid ini letaknya steategis di pusat keramaian hingga banyak orang yang menggunakannya,” jelas Mistara.

 

Ayah satu anak ini kemudian diakomodir oleh Ustad yang dulu menjadi ketua DKM-nya. Mistara sebenarnya tidak pernah meminta hal itu, namun sang ustad mungkin merasa perlu jika ada orang khusus untuk membersihkan masjid .Dengan kondisi itu makanya bagi Mang Emis jadi semangat untuk melakukan pekerjaan itu..Benar saja, ternyata dengan adanya marbot maka Masjid Al Musyawaroh ini tampak selalu bersih dan membuat nyaman jamaah yang shalat di masjid itu dan salah satu pendukung terciptanya hal itu adalah adanya peran dari sang marbot.

 

Walaupun bukan asli orang Bandung tapi keluarga Mang Emis ini tinggal di Kota Kembang. Isteri dan anak perempuannya justeru tinggal di kawasan Metro Margahayu Raya. Sedangkan Mang Emis tinggal di rumah sewaan yang harus dibayar seratus ribu per bulan yang diambil dari tabungan miliknya kadang tidur di mesjid. Selama ini untuk kehidupannya sesungguhnya mengandalkan biaya dari anak perempuannya itu. “Marbot itu hanya digaji lima puluh ribu per bulan tapi sebenarnya yang menjadivtujuan saya. Jadi marbot itu bagian dari ibadah dan sangat menenangkan hati,” katanya yang ternyata sudah terbangun pukul tiga dini hari untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

 

 

Yang justeru membanggakan dirinya adalah anak satu-satunya yang bisa membantu kehidupannya padahal hanya bekerja pada seorang dokter gigi di Kota Bandung. Namun selain anaknya bisa membantu kebutuhan hariannya, anaknya juga sekarang kuliah di STIE Pasundan Kota Bandung kelas karyawan. Mang Emis bertemu mereka setiap saat saja. Dalam hal ini Mang Emis pun berpikir pula dan berharap ada yang pwduli dengannya dan bisa memberinya modal agar bisa berusaha kembali. Ketika ditanya kalo ada yang mau memberikan modal, maka usaha apa yang hendak dipilih, Mistara pun masih bingung menjawabnya tetapi yang penting baginya adalah berusaha tapi tidak meninggalkan pekerjaannya sebagai marbot.

 

Sesungguhnya pekerjaan marbot yang dilakukan di masjid itu tidaklah berat palingbseperti menyapu, mengepel dan menggelar karpet. Pekerjaan biadanya bertambah kala Kamis malam karena ada pengajian rutin. Marbot di sana pun tidak sendirian tetapi ada tiga orang. Kata Mistara, dirinya pun kadang bertugas pula menyampaikan undangan ketika ada kegiatan tablig akbar dan juga menjadi pembantu umum. “Mungkin itu saja pengalaman menarik saya sebagai marbot dan terus terang sesungguhnya pekerjaan marbot itu tidaklah sulit,” ujarnya.

Begitupula saat ada orang yang wafat, maka Mang Emis pun menyiapkan pemandian dan kereta jenazah. Tentu saja rutinitas seperti ini memang bagian yang mesti dijalani oleh Mistara. Baginya menjadi marbot adalah pekerjaan mulua dan ia begitu senang melakukannya..Di sini, katanya, paling tidak kalau di masjid bisa mengerjakan Shalat tepat waktu. Mistara sendiri tak bisa memastikan sampai kapan ia akan menjadi marbot tetapi jika diberi kesempatan oleh Allah maka ia akan teyap melajsanakannya. “Pekerjaannya sih ringan namun justeru membuat hati saya menjadi tenang,” begitu ungkap Mistara.

 

Rupanya sebagai marbot, ia pun mendapatkan kesempatan pula menjadi utusan masjid itu menjadi peserta Training Bersih-Bersih Masjid tahun 2018 yang diadakan sebuah perusahaan kosmetika nasional dan Mistara senang dengan pengalaman itu karena bisa bertemu sesama marbot kala itu. Selain itu, katanya ia bisa berbagi pengalaman dengan marbot se-Kota Bandung.”Pokoknya apapun yang diberikan harulah disyukuri,” tegasnya.

 

Mistara adala salah satu sosok marbot yang mencintai pekerjaannya. Dia tak pernah mengeluh dengan kondisi yang terjadi sebab tugas marbot adalah bagian dari ibadah karena memfasilitasi orang yang akan Shalat. Jadi biarpun gajinya kecil tapi pahala yang diberikan Allah akan sangat besar.

 

 

5

Rep: deffy ruspiyandy

Editor: iman

Foto: deffy

810

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

(Visited 28 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment