Shalat Untuk Melunasi Hutang, Apakah Dicontohkan Rasul ?

 

PERCIKANIMAN.ID – – Sebagian besar orang boleh dipastikan mempunyai hutang khususnya uang atau harta benda lainnya. Dalam Islam berhutang tentu dibolehkan namun dengan syarat dan ketentuan yang sesuai dengan syariat.

 

 

 

Salah satu kewajiban para penghutang atau orang yang mempunyai hutang atau melakukan pinjaman adalah membayar atau melunasi hutang tersebut. Namun dalam masyarakat berkembang satu amalan khususnya agar mudah disegerakan dapat membayar hutang.

 

 

 

Namun demikian bisa dipastikan bahwa shalat untuk melunasi hutang tersebut tidak dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Dengan demikian tidak perlu dilaksanakan. Contoh shalat yang tidak dicontohkan atau tidak diajarkan Rasul adalah sebagai berikut,

 

 

 

Jumlah rakaat shalat ini adalah empat rakaat dengan dua kali salam. Setelah membaca Al-Fātiĥah, pada rakaat pertama membaca surat Al-Falaq 10 kali dan pada rakaat kedua membaca surat Al-Kāfirūn 10 kali. Setelah salam, membaca doa,

 

 

 

Mahasuci Allah Yang Kekal Yang Abadi, Yang Maha Esa, Yang Mahatunggal. Mahasuci Allah tempat bergantung, Yang mengangkat langit tampa tiang, Yang menyendiri, tidak memiliki pasangan dan tidak memiliki anak.”

 

 

Kemudian, shalat lagi dua rakaat. Setelah Al-Fātiĥah, pada rakaat pertama membaca surat At-Takatsur dan Al-’Ashr, masing-masing tiga kali, dan pada rakaat kedua membaca surat Az-Zalzalah dan Al-Ikhlāś, masing-masing tiga kali. Setelah salam, sujud sambil membaca doa berikut tujuh kali.

 

 

Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepada-Mu kemudahan dalam setiap kesulitan karena sesungguhnya ada kemudahan dalam setiap kesulitan dan Engkau adalah sumber semua kemudahan.”

 

 

Setelah itu, bangkit dari sujud, duduk, dan membaca bacaan berikut 10 kali.

 

 

 

Kepunyaan Allah-lah segala puji. Tuhan seluruh langit, seluruh bumi, dan semesta alam. Dan bagi-Nya kekuasaan langit dan bumi. Dialah Yang Mahagagah dan Mahabijaksana”.

 

Dengan melakukan amalan shalat tersebut dipercaya, Allah akan membayar utang orang yang melaksanakan shalat tersebut.

 

 

Namun sekali lagi bahwa shalat demikian tidak ada dalam syariat Islam. Tidak ada dalil yang shahih bahwa Rasul mencontohkan atau mengajarkan shalat tersebut. Untuk itu shalat ini tidak perlu dilaksanakan atau dikerjakan.

 

 

 

 

 

Perlu diketahui dan dipahami bahwa setiap ibadah khususnya shalat maka kita hendaknya mencontoh apa yang telah Rasul ajarkan. Perlu diingat bahwa yang namanya ibadah khususnya shalat itu harus benar menurut perintah Allah Swt dan dicontohkan Rasulullah Saw. Shalat bukan sekedar baik atau bagus menurut ukuran manusia.   [ ]

 

Sumber: disarikan dari buku “ Melangkah ke Surga dengan Shalat Sunat ” karya Dr. Aam Amiruddin,M.Si

 

5

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

810

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

 

(Visited 371 times, 5 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment