Hikmah Ramadhan: Menutup Pintu Maksiat, Membuka Pintu Pahala

 

 

Oleh: Anisa Mumtazah

 

PERCIKANIMAN.ID – – Ramadhan tiba. Mayoritas masyarakat muslim di negeri ini kembali bersuka cita menyambut datangnya bulan yang ditetapkan pemerintah jatuh pada tanggal 6 Mei 2019 kemaren. Berbagai elemen turut menyemarakkan bulan mulia ini dengan penuh antusias dan hati gembira.

 

 

 

Di sana-sini mulai tampak masjid yang penuh sesak, program tadarussan dimana-mana, para penjual ta’jil yang menjamur lagi laris manis, dan masih banyak lagi pemandangan yang tak biasa kita jumpai di bulan-bulan lain selain di bulan spesial ini.

 

 

 

Tak hanya masyarakat saja, berbagai pemerintah daerah pun berlomba-lomba menegakkan aturan penutupan dan penertiban tempat hiburan malam selama bulan ramadhan, sebagai bentuk penghormatan kepada bulan penuh keberkahan ini.

 

 

Patutlah jika bulan ini mendapat apresiasi dan keistimewaan bagi setiap muslim. Karena bergembira menyambutnya merupakan salah satu wujud keimanan. Selain itu, di dalam Islam bulan ini memang bulan yang memiliki keutamaan tersendiri dibandingkan bulan-bulan yang lain.

 

Allah SWT telah menjadikan bulan Ramadhan penuh dengan kemuliaan, keagungan dan banyak keistimewaan.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

 

 

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185)

 

 

Rasulullah SAW juga bersabda:

ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ

 

 

Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu neraka ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan seribu bulan. Karena itu siapa saja yang tidak berhasil memperoleh kebaikannya, sungguh dia tidak akan dapat memperoleh kebaikannya selama-lamanya.” (HR. An-Nasa’i dan Ahmad)

 

 

 

Dan masih banyak lagi hadits beliau yang menyebutkan keutamaan bulan ramadhan ini. Demikian pula dalam sejarah peradaban Islam, suasana Ramadhan pada masa Rasulullah SAW syarat akan suasana ibadah, perjuangan dan taqarrub kepada Allah.

 

 

 

Beliau senantiasa mendorong kaum muslimin untuk meningkatkan kualitas ibadah individu dan mengisi Ramadhan dengan memperbanyak amal sholih yang menghiasi segala aspek kehidupan masyarakat dan negara. Begitu pula tradisi ini diteruskan oleh para khulafa’ur rasyidin dan khalifah-khalifah setelahnya.

 

 

 

Oleh karena itu, sudah menjadi sebuah kewajiban bagi penguasa (pemerintah) muslim kita hari ini,  untuk melakukan hal yang sama. Kebijakan-kebijakan penguasa haruslah ditujukan demi terwujudnya ketaatan dan peningkatan kualitas ibadah pada setiap individu rakyatnya yang muslim dengan menutup rapat pintu-pintu kemaksiatan.

 

 

 

Dan perlu digaris bawahi, hal tersebut tidak dibatasi pada bulan ramadhan saja melainkan sepanjang bulan-bulan berikutnya. Karena memang pada dasarnya pengaruh maksiat itu hanya akan menghantarkan manusia kepada jurang kehancuran dan dosa, sebaliknya ketaatan akan menghantarkan manusia pada kebaikan hidup di dunia dan akhirat.

 

 

Walhasil, ketika penguasa menutup rapat-rapat pintu maksiat, akan terwujudlah kehidupan yang penuh keberkahan di tengah-tengah masyarakat dan negaranya. Ia pun akan menuai pahala yang diwarisi dari setiap kesholihan yang dikerjakan oleh rakyatnya.

 

 

Rasulullah SAW bersabda :

من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”(HR. Muslim no. 1893).

Wallâhu a‘lam bish-shawâb. [ ]

 

Sumber: republika.co.id

 

5

 

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

810

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

(Visited 63 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment