Puasa Seperti Rasulullah, Ini Yang Harus Diperhatikan

 

 

Assalamu’alaykum. Pak Aam, kalau shaum atau puasa Ramadhan yang dicontohkan Rasulullah itu seperti apa? Mohon dijelaskan dan terima kasih. ( Tya via fb )

 

 

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Tentu kita patut bersyukur kepada Allah atas anugerah umur dan juga kesehatan sehingga insya Allah dalam beberapa hari kedepan kita akan melaksanakan ibadah shaum atau puasa di bulan Ramadhan.

 

 

Bulan Ramadhan yang penuh barokah dan juga maghfirah atau ampunan yang luar biasa besar dari Allah ini harus kita manfaatkan semaksimal mungkin. Sebagaimana kita ketahui perintah puasa di bulan Ramadhan ini ditegaskan Allah dalam Al Quran,

 

 

(183). يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

 

Hai, orang-orang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelummu agar kamu bertakwa,” ( QS. Al Baqarah: 183 )

 

 

 

Target utama dari ibadah shaum ini seperti yang diperintahkan Allah adalah agar kita menjadi hamba atau pribadi yang bertakwa. Kebahagian datangnya bulan Ramadhan ini juga dapat kita simak dari penjelasan Rasulullah Saw dalam haditsnya,

 

 

 

“Jika masuk bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu.” ( H.R. Bukhari)

 

 

 

Dibuka pintu-pintu surga maksudnya ibadah pada bulan Ramadhan nilainya berlipat ganda bila dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Kalau kita mengisinya secara optimal, terbuka lebar pintu-pintu surga, otomatis pintu neraka pun tertutup karena peluang maksiat berkurang.

 

 

Dengan demikian, setan pun terbelenggu karena banyak umat yang meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadahnya. Akhirnya, dosa-dosa berguguran dan insya Allah kita akan mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya.

 

 

“Barangsiapa shaum Ramadhan dengan dasar iman dan mengharap rido Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” ( H.R. Ahmad dan Bukhari)

 

 

 

Agar tujuan atau target shaum Ramadhan ini dapat  kita raih, kita harus memahami teknik pelaksaan shaum Ramadhan yang dicontohkan Rasulullah Saw.

 

 

  1. Tabyit

 

Tabyit artinya mempersiapkan diri pada malam hari untuk melakukan sesuatu esok hari. Tabyit sering disamakan dengan niat. Rasulullah Saw. memerin tah kan agar tabyit (niat) pada malam harinya untuk melakukan shaum pada esok hari.

 

 

“Barangsiapa yang tidak tabyit (niat) untuk shaum sebelum fajar, tidak ada shaum baginya.” (H.R. Daraquthni)

 

 

Kemudian dalam hadits yang lain disebutkan,

 

“Barangsiapa yang tidak membulatkan niatnya untuk shaum sebelum fajar, tidak sah shaumnya.” ( H.R. Ahmad dan Ashabus-Sunan, dan disahihkan oleh Ibnu Huzaimah dan Ibnu Hibban)

 

 

Kebiasaan pada masyarakat kita, niat itu diucapkan dengan cara dibimbing, biasanya diucapkan selesai melakukan shalat tarawih, Nawaithu shauma ghadin….dst. Sesungguhnya niat puasa tidak diucapkan pun hukumnya sah, karena niat itu pekerjaan hati bukan pekerjaan lisan. Jadi, meski lisan tidak mengucapkan, namun kalau hati sudah berniat, shaumnya sah.

 

 

Hal ini perlu saya sampaikan karena persoalan ini karena ada kasus seseorang tidak puasa karena tidak sempat membaca niat (mengucapkan nawaithu) pada malam harinya. Kerancuan ini muncul karena salah memahami niat. Ingat! Niat itu tempatnya ada di hati, bukan pada lisan. Saya menegaskan hal ini tanpa mengurangi rasa hormat kepada yang suka melafazkannya.

 

 

 

  1. Sahur

 

 

Kita dianjurkan untuk sahur walaupun hanya dengan seteguk air. Hal ini dimaksudkan memberikan kekuatan pada tubuh dalam menjalani shaum pada siang hari. Rasulullah Saw. bersabda,

 

 

“Bersahurlah kamu, karena sesungguhnya sahur itu berbarakah.” ( H.R. Bukhari dan Muslim)

 

Dalam hadits yang lain Rasulullah juga bersabda,

 

“Sahur itu berbarakah, maka lakukanlah walupun hanya dengan seteguk air, karena sesungguhnya Allah dan malaikat memberkahi orangorang yang sahur.” ( H.R. Ahmad)

 

 

 

  1. Imsak

 

 

Imsak artinya menahan diri dari hal-hal yang dapat  membatalkan puasa misalnya makan, minum, hubungan intim, dan lain-lain, dari terbit fajar waktu subuh hingga terbenam matahari hingga waktu maghrib. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,

 

 

(187)….فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ..

 

“…Sekarang, campuri mereka,… Makan dan minumlah hingga jelas bagimu perbedaan antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian, sempurnakan puasa sampai datang malam…” ( Q.S. Al-Baqarah: 187)

 

 

Yang dimaksud jelas bagimu perbedaan antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar adalah waktu Subuh. Artinya, pada malam hari kita diperbolehkan makan, minum, berhubungan intim, dan lain-lain, namun, saat waktu Subuh tiba, semuanya harus dihentikan hingga datang waktu Maghrib.

 

 

  1. Menjauhi kemaksiatan

 

 

Shaum merupakan latihan pengendalian nafsu. Orang yang shaum namun tidak mampu menjauhkan diri dari ucapan dan perbuatan maksiat (bohong, gosip, dan lain-lain), nilai puasanya berkurang, sebagaimana sabda Rasulullah Saw.,

 

“Siapa yang tidak meninggalkan ucapan maksiat bahkan melakukannya, Allah tidak akan menghargai puasanya.” ( H.R. Bukhari)

 

 

  1. Menyegerakan ifthar (berbuka)

 

Apabila azan Maghrib tiba, kita dianjurkan untuk menyegerakan ifthar (berbuka puasa). Rasulullah Saw. menyebutkan bahwa orang-orang yang menyegerakan ifthar senantiasa berada dalam kebaikan.

 

 

“Orang yang berpuasa senantiasa berada dalam kebaikan selama menyegerakan berbuka.” ( H.R. Bukhari dan Muslim)

 

 

  1. Doa berbuka shaum

 

Ada sejumlah hadis tentang doa berbuka shaum. Silakan pilih mana yang paling Anda sukai, salah satunya Anda bisa berdoa dengan,

 

 

 

Telah hilang rasa haus dan urat-urat telah basah serta pahala akan tetap insya Allah” ( HR.Abu Dawud dan Daruquthni, dihasankan Syaikh Nasiruddin Al-Albani dalam Irwaul Ghalil, Misykatul Mashabih dan Shahih Abi Dawud)

 

 

Selain hal-hal tersebut diatas maka agar puasa kita lebih bermakna maka harus dibarengi dengan amal-amal shalih lainnya seperti shalat Tarawih, tilawah Al Quran, perbanyak sedekah, menahan perkataan yang sia-sia dan perbuatan munkar lainnya. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Semoga ibadah shaum kita di tahun ini menjadi lebih baik lagi dari tahun-tahun sebelumnya. Wallahu’alam bishshwab. [ ]

 

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

670

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman

 

(Visited 1,030 times, 3 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment