5 Hikmah Ramadhan Yang Perlu Kita Pahami

0
255

Assalamu’alaykum.Pak Aam, Insya Allah, sebentar lagi kita akan melaksanakan shaum (puasa) Ramadhan. Mohon berkenan untuk dijelaskan kembali tentang hikmah Ramadhan yang pernah Pak Aam sampaikan waktu itu. Sebelumnya  saya sampaikan jazakallah. ( Afif via fb)

 

iklan

 

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Tiada kata yang dapat mewakili rasa bahagia saat Ramadhan tiba, kecuali ucapan hamdallah ya Allah, segala puji hanya milik-Mu ya Allah, Engkau masih memberikan umur kepada kami untuk menikmati bulan yang penuh berkah dan ampunan.

 

 

 

Kebahagian kaum muslimin dalam menyambut Ramadhan ini diungkapkan dengan berbagai cara atau ekspresi. Sejumlah kaum muslimin menyambutnya dengan menggelar sejumlah kegiatan keislaman, seperti tabligh akbar, bazar, dan lain-lain. Hal ini wajar, mengingat betapa besar keutamaan bulan Ramadhan.

 

 

 

“Jika masuk bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu.” ( H.R. Bukhari)

 

 

 

Maksud “Dibuka pintu-pintu surga” adalah ibadah pada bulan Ramadhan nilainya berlipat ganda bila dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Kalau kita mengisinya secara optimal, terbuka lebar pintu-pintu surga, otomatis pintu neraka pun tertutup karena peluang maksiat berkurang.

 

 

 

Dengan demikian, setan pun terbelenggu karena banyak umat yang meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadahnya. Akhirnya, dosa-dosa berguguran dan insya Allah kita akan mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya.

 

 

 

“Barangsiapa shaum Ramadhan dengan dasar iman dan mengharap rido Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” ( H.R. Ahmad dan Bukhari)

 

 

 

Shaum Ramadhan diwajibkan satu setengah tahun setelah hijrah. Ketika itu Nabi Saw. baru diperintahkan mengalihkan kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram. Shaum secara etimologi bermakna menahan diri dari sesuatu, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Menurut definisi ahli fiqih, shaum berarti “Menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan dari mulai terbit fajar hingga terbenam matahari”.

 

 

Apabila Allah Swt. mewajibkan sesuatu kepada manusia, pasti ada hikmahnya. Kalau kita cermati, paling tidak ada lima hikmah diwajibkannya shaum Ramadhan.

 

 

  1. Menghapus dosa-dosa kecil

 

Sebagai manusia, kita tidak bisa lepas dari kesalahan, kekeliruan, dan kemaksiatan. Tidak ada manusia yang steril dari dosa, kecuali para nabi yang ma’sum (terpelihara dari perbuatan dosa). Shaum Ramadhan merupakan sarana untuk menghapuskan dosa. Kalau kita diberi umur dan kesehatan untuk melaksanakan shaum Ramadhan tahun ini, shaum yang kita lakukan menjadi penghapus dosa-dosa kecil setahun ke belakang, sebagaimana sabda Rasulullah Saw.,

 

“…Ramadhan ke Ramadhan berikutnya menghapuskan kesalahan-kesalahan di antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi.” ( H.R. Muslim)

 

 

  1. Melatih muraqabah

 

Muraqabah artinya suatu kondisi psikis (jiwa) yang selalu merasa ditatap, dilihat, dan diawasi Allah Swt. Seorang pelajar atau mahasiswa yang muraqabah tidak akan menyontek walaupun tidak diawasi. Seorang karyawan yang muraqabah tidak akan korup walaupun ada kesempatan untuk melakukannya.

 

Ketika shaum, kalau belum tiba waktu berbuka, kita tidak berani makan atau minum walau tidak ada seorang pun yang melihat kita, padahal makanan dan minuman tersedia. Jelaslah, bahwa shaum menjadi ajang latihan muraqabah.

 

 

  1. Melatih pengendalian nafsu

 

Manusia memiliki tiga nafsu (dorongan), yang selalu berkompetisi (bersaing), yaitu nafsu amarah, nafsu lawwamah, dan nafsu muthmainnah.

 

 

Nafsu amarah adalah dorongan untuk melakukan pelanggaran dan kemaksiatan. Manusia paling saleh pun memiliki dorongan ini, karena sudah dipastikan tidak ada manusia yang steril dari dosa.

 

 

Nafsu lawwamah adalah nafsu yang suka mengoreksi saat kita melakukan dosa atau maksiat. Kalau kita melakukan kemaksiatan, berbohong misalnya, coba siapa yang pertama kali mengingatkan bahwa perbuatan tersebut salah? Diri kita sendiri, bukan?

 

 

Inilah yang disebut nafsu lawwamah. Bersyukurlah bila kita masih merasa bersalah kalau melakukan dosa, ini menunjukkan nafsu lawwamahnya masih berfungsi. Kalau kita sudah tidak merasa lagi saat berbuat maksiat, ini menunjukkan nafsu lawwamah-nya sudah tidak peka, bahkan mungkin tidak berfungsi lagi.

 

 

Nafsu muthmainnah adalah dorongan untuk berbuat kebaikan. Jiwa merasa tenteram kalau melaksana kan aturan-aturan Allah. Manusia yang paling bejat di muka bumi ini pun memiliki nafsu muthmainnah, karenanya sebejat-bejatnya orang pasti dia pernah berbuat kebaikan.

 

 

Manusia hakikatnya hanif (cenderung pada kebaikan), karena itu manusia akan merasa tenang, tenteram, dan bangga kalau sudah berbuat kebaikan, serta merasa gelisah dan menyesal bila melakukan pelanggaran dan dosa.

 

 

Ketiga macam nafsu di atas, amarah, lawwamah, dan muthmainnah selalu bersaing. Apabila nafsu muthmainnah memenangkan persaingan, akan lahir perbuatan baik. Kalau nafsu amarah yang menang (dominan), akan lahir perbuatan dosa. Jadi, shaum melatih jiwa agar mampu mengendalikan nafsu amarah, bahkan bisa menundukkannya, sehingga yang dominan dalam diri kita adalah nafsu muthmainnah.

 

Dengan demikian, yang lahir dalam ucapan dan perbuatan kita hanyalah hal-hal yang baik, benar, dan diridoi Allah Swt.

 

 

  1. Menajamkan kepekaan sosial

 

Shaum bisa menjadi ajang latihan kepekaan sosial, sebab dalam waktu tertentu (sejak terbit fajar hingga terbenam matahari) kita dilarang makan atau minum, sehingga bisa merasakan lapar. Sesungguhnya hal ini harus kita proyeksikan pada nasib sebagian saudara kita yang kurang berutung.

 

Di antara mereka ada yang hanya mampu makan sekali dalam satu hari atau bahkan hanya

satu kali dalam dua hari. Dengan latihan ini, diharapkan kita menjadi lebih tanggap pada penderitaan orang lain. Ingat sabda Rasulullah Saw.,

 

Belum dikategorikan sempurna iman seseorang kalau tidur dalam keadaan kenyang padahal dia tahu tetangganya tidak bisa tidur karena lapar.

 

 

  1. Menyehatkan badan

 

 

Para ahli kesehatan menyebutkan bahwa usus manusia –juga organ-organ yang terkait dengan nya– dalam tempo tertentu perlu dikurangi beban kerjanya. Shaum merupakan sarana untuk mengurangi beban kerja organ-organ tersebut. Sungguh benar apa yang disabdakan Rasul Saw.,

 

“Berpuasalah kamu, maka kamu akan sehat.”

 

Inilah beberapa hikmah Ramadhan yang dapat kita rasakan dan nikmati di bulan yang penuh dengan ampunan ini, dimana Allah akan melipatkan gandakan nilai pahalanya. Semoga kita bisa menjalankan ibadah Ramadhan tahun ini dengan lebih khusyu dan lebih berkualitas dibanding tahun sebelumnya. Semoga kita keluar dari Ramadhan menjadi pribadi-pribadi yang bertakwa, seperti yang Allah harapkan,

 

 

(183). يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

 

Hai, orang-orang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelummu agar kamu bertakwa,” ( QS.Al Baqarah: 183 )

 

 

 

Untuk itu marilah kita persiapkan Ramadhan kali ini dengan lebih matang baik fisik maupun spiritual kita. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

 

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

850

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman