Ilmu Yang Bermanfaat Menurut Islam, Apakah Hanya Ilmu Agama Saja ?

0
285

 

Assalamu’alaykum. Pak Aam, mohon dijelaskan tentang ilmu yang bermanfaat sebagai amal jariyah. Saya seorang pengajar di sekolah tapi bukan guru agama melainkan ilmu-ilmu sosial. Apakah yang disebutkan ilmu yang bermanfaat ilmu hanya sebatas ilmu agama saja ?. Bagaimana dengan orang yang mengajarkan ilmu umum, apakah akan menjadi jariah juga. Mohon nasihatnya. ( Sopian via fb )

iklan

 

 

 

Wa’alaykumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Apa yang Anda tanyakan tentang ilmu yang akan menjadi amal jariyah ada dalam hadits,

 

 

 

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

 

 

 

Jika seorang manusia meninggal, terputuslah amalnya, kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang berdoa untuknya” (HR. Muslim).

 

 

 

Dalam hadits ini salah satu amal yang tidak akan terputus meskipun sudah meninggalkan adalah ilmu yang bermanfaat yang telah diajarkan kepada orang lain. Lalu apakah ilmu itu hanya tentang ilmu agama atau terkait dengan ajaran Islam saja?. Coba kita perhatikan lagi dalam ayat Al Quran disebutkan,

 

 

 

 

Tidakkah kamu melihat bahwa Allah menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu Kami hasilkan buah-buahan yang beragam jenisnya. Di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka warnanya dan ada pula yang hitam pekat. Demikian pula di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak. Di antara mereka ada yang bermacam-macam warna dan jenisnya. Di antara hamba-hamba Allah, hanya para ulama yang takut kepada Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun.” ( Q.S. Fāţir [35]: 27-28)

 

 

 

Kalau kita cermati, ayat ini menggambarkan fenomena ilmu alam dan ilmu sosial, seperti botani, vulcanologi, geologi, ethnologi, zoologi, sosiologi. Lalu Allah Swt. mengakhirinya dengan kalimat Di antara hamba-hamba Allah, hanya para ulama yang takut kepada Allah.

 

 

Bertolak dari sini, kita bisa merumuskan bahwa siapa pun yang memiliki ilmu yang mendalam tentang fenomena alam dan sosial juga kandungan kitab suci, asal memilki rasa khasyyah (rasa kagum dan takut pada Allah), dia layak dimasukkan dalam kelompok yang dinamai Al-Qur’an dengan ulama.

 

 

Jadi, pengertian ulama tidaklah sesempit yang dipahami kebanyakan orang, bahwa ulama itu orang yang mumpuni dalam bidang ilmu agama, sesungguhnya siapa pun yang menguasai suatu ilmu, apakah bidang eksakta, sosial, atau agama disebut ulama.

 

 

 

Allah Swt. memberikan kedudukan yang tinggi kepada para ulama (ilmuwan) yang punya keimanan. Kalau kita hanya menjadi orang yang berilmu tapi tidak dilandasi keimanan, ilmu tersebut belum tentu semakin mendekatkan diri kepada-Nya, malah mungkin semakin membuat kita takabur/sombong.

 

 

Karena itu, sungguh penting kita mohon kepada Allah agar ilmu yang kita dapatkan semakin membuat diri kita rendah hati di hadapan Allah Swt. (semakin membuat kita takut pada Allah). Ilmu seperti inilah yang disebut ilmu yang bermanfaat.

 

 

 

“…Maka, ber dirilah, pasti Allah akan mengangkat de rajat orang-orang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” ( Q.S. Al-Mujādalah [58]: 11)

 

 

Bertolak dari analisis ini, kita bisa simpulkan bahwa yang dimaksud ilmu yang bermanfaat atau ilmu yang akan menjadi jariah setelah kita meninggal, bukan sekadar ilmu agama, tapi ilmu apa saja yang bermanfaat untuk kehidupan manusia. Anda sebagai guru Biologi, kalau mengajarkan ilmu itu kepada anak-anak hingga mereka mengerti, Anda pun berhak mendapat predikat orang yang mendapatkan ilmu yang manfaat.

 

 

Pada hakikatnya semua ilmu itu bersumber dari Allah, bahkan Al Quran dan hadits adalah sumber dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Jadi Anda tidak perlu khawatir, meskipun Anda mengajarkan ilmu-ilmu umum dan bukan guru agama, insya Allah Anda tetap akan mendapat amal jariyah kelak jika sudah meninggal. Tetap bersemangat dalam mengajarkan ilmu yang Anda miliki dalam mencerdaskan orang lain. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishshawab. [ ]

 

 

5

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

720

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email:  [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

Follow juga akun sosial media percikan iman di:

Instagram : @percikanimanonline

Fanspages : Percikan Iman Online

Youtube : Percikan Iman Online

Twitter: percikan_iman